Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)
Carut-marut dunia kian nyata, termasuk di Nusantara tercinta. Kasus korupsi terus bermunculan silih berganti. Belum lama ini, publik kembali dikejutkan oleh pengungkapan dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan penyitaan puluhan kilogram emas batangan serta uang tunai dalam berbagai mata uang dengan nilai yang sangat besar.
Kasus-kasus semacam ini semakin mengikis kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara. Tidak sedikit warga yang meluapkan kekecewaannya, bahkan menyerukan agar tidak membayar pajak karena khawatir dana tersebut justru disalahgunakan, sementara kebutuhan dasar seperti perbaikan jalan di daerah mereka belum juga terpenuhi.
Di sisi lain, kampanye yang mendukung keberadaan kelompok LGBTQ+ juga semakin terbuka. Sejumlah survei independen pernah memperkirakan bahwa kelompok ini mencapai sekitar 3% dari total populasi. Beberapa daerah di Jawa Barat juga disebut memiliki jumlah yang cukup besar berdasarkan estimasi tersebut. Terlepas dari perbedaan metode dan hasil survei, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan sosial yang perlu dicermati, khususnya oleh kaum Muslim, agar mampu menjaga nilai-nilai Islam di tengah derasnya arus liberalisasi.
Belum lagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana banjir di Aceh. Sebagian dari mereka masih berjuang memulihkan kehidupan. Anak-anak terpaksa belajar dengan fasilitas yang terbatas. Banyak keluarga juga masih tinggal di hunian sementara, sedangkan pembangunan hunian tetap masih terus berproses. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius.
Pada tingkat internasional, penderitaan rakyat Palestina juga belum berakhir. Agresi militer Israel yang terus berlangsung telah menyebabkan krisis kemanusiaan berkepanjangan. Kelaparan, pengungsian, dan hilangnya nyawa masih terjadi hampir setiap hari. Memang, semakin banyak negara yang menyatakan pengakuan terhadap Negara Palestina. Namun, pengakuan diplomatik tersebut belum mampu menghentikan penderitaan yang terus berlangsung di lapangan.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa dunia sedang menghadapi krisis yang kompleks. Dari sudut pandang Islam, berbagai kerusakan yang terjadi merupakan akibat manusia menjauh dari petunjuk Allah SWT. Allah Ta'ala berfirman,
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...." (QS. Ar-Rum [30]: 41).
Ketika kehidupan dibangun di atas kepentingan materi semata, halal dan haram tidak lagi menjadi ukuran, sementara keadilan sering kali dikalahkan oleh kepentingan, maka berbagai bentuk kerusakan pun mudah muncul di berbagai lini kehidupan.
Di sisi lain, umat Islam juga menghadapi tantangan besar berupa lemahnya persatuan. Perpecahan politik dan batas-batas negara membuat kaum Muslim tidak memiliki kekuatan yang utuh sebagaimana pada masa kejayaan Islam. Akibatnya, dalam banyak persoalan yang menimpa kaum Muslim di berbagai belahan dunia, respons yang diberikan sering kali terbatas pada kecaman diplomatik atau bantuan kemanusiaan, sementara akar persoalannya belum terselesaikan.
Bulan Muharram menjadi momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah. Berbagai musibah dan kerusakan yang terjadi bukanlah alasan untuk berputus asa ataupun sekadar diterima tanpa ikhtiar. Sebaliknya, semuanya harus menjadi pengingat agar kaum Muslim semakin dekat kepada aturan Allah SWT serta berupaya menghadirkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Allah SWT telah menjanjikan kemenangan bagi agama-Nya. Janji itu merupakan sebuah kepastian. Namun, setiap Muslim diberi pilihan: apakah ingin menjadi bagian dari orang-orang yang memperjuangkannya atau hanya menjadi penonton sejarah. Kepastian itu terwujud melalui orang-orang yang tidak rela melihat kerusakan terus berlangsung. Mereka yang gelisah ketika hukum Allah ditinggalkan. Mereka yang menginginkan perubahan mendasar. Sebab, perubahan hakiki hanya dapat diwujudkan apabila manusia kembali menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan perjuangan tersebut. Pada fase awal dakwah di Makkah, beliau membina para sahabat dengan penuh kesabaran. Rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam menjadi markas pembinaan kaum Muslim. Dari sanalah lahir generasi yang memiliki keimanan kokoh, sehingga tetap teguh mempertahankan Islam meskipun menghadapi berbagai tekanan dan siksaan.
Perjuangan Rasulullah ﷺ bersama para sahabat juga berlangsung secara terarah dan terorganisir. Setiap orang memiliki peran sesuai kemampuannya. Seluruh tahapan dakwah beliau berjalan dalam bimbingan wahyu Allah SWT.
Allah SWT berfirman,
"Wahai orang yang berkemul (Muhammad)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu! Tinggalkanlah segala perbuatan dosa! Dan karena Tuhanmu, bersabarlah." (QS. Al-Muddassir [74]: 1–7)
Allah SWT juga berfirman,
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
"Maka, sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik." (QS. Al-Hijr [15]: 94)
Teladan dakwah Rasulullah ﷺ itulah yang semestinya terus diikuti oleh umat Islam. Dakwah bukan sekadar menyampaikan nasihat, melainkan juga membina keimanan, membangun kesadaran umat, dan mengajak manusia untuk kembali tunduk kepada aturan Allah SWT sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keimanan yang kuat, kesabaran, dan perjuangan yang istiqamah. Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari orang-orang yang tidak hanya merasakan kegelisahan atas kondisi umat, tetapi juga mengambil bagian dalam dakwah dan amal saleh sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.
