Penulis: Yuli Yana Nurhasanah
Generasi yang seharusnya paling produktif dan penuh harapan justru menunjukkan satu tren yang mengkhawatirkan. Survei dari KPAI, Kemenkes, hingga lembaga internasional melaporkan bahwa Generasi Z di Indonesia menjadi yang paling banyak menderita gangguan kesehatan mental dan kecemasan, dengan stres, overthinking, dan burnout sebagai keluhan utama. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan bahwa banyak anak muda hari ini tumbuh dalam kondisi batin yang lelah.
Faktor pemicunya pun bukan berasal dari satu masalah, tetapi kompleks, di mana pengaruh media sosial menjadi sorotan utama. Algoritma yang menampilkan kehidupan orang lain yang sempurna memicu FOMO dan tekanan untuk selalu tampil bahagia. Ditambah dengan adanya tekanan sosial dari keluarga, lingkungan pendidikan, hingga standar ekonomi yang semakin tinggi, banjir informasi berita negatif membuat otak sulit beristirahat. Kombinasi ini menciptakan lingkungan yang sangat bising secara mental bagi Gen Z.
Fenomena ini terjadi di banyak negara, bukan hanya di Indonesia, di mana Gen Z menunjukkan skeptisisme yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Semuanya terjadi karena ketidakstabilan ekonomi, di mana biaya hidup semakin naik sementara lapangan pekerjaan sulit didapat, serta perubahan teknologi AI yang cepat, yang memunculkan sikap pesimis dan membuat Gen Z menunda komitmen jangka panjang "untuk apa berusaha keras kalau masa depan tidak pasti."
Namun di tengah kondisi tersebut muncul gelombang resistensi. Gen Z mulai sadar dan melawan depresi digital detox, soft living, ada juga yang kembali ke komunitas nyata, menekuni spiritualitas, literasi keuangan dan kesehatan mental secara terbuka tanpa stigma. Resistensi ini diprediksi bisa menjadi titik balik, ketika satu generasi memilih berhenti mengejar standar yang merusak dan mulai membangun ulang definisi suskses versi Gen Z dan memunculkan harapan baru untuk Gen Z.
Krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini adalah pemicu utama meningkatnya depresi pada Gen Z. Krisis ekonomi yang melanda setiap negara menjadikan biaya hidup semakin tinggi, sementara lapangan kerja sulit didapat dengan standar yang tidak sebanding dengan fakta di lapangan. Krisis sosial dan politik memunculkan ketidakpercayaan terhadap sistem. Tumpukan krisis multidimensi ini menciptakan atmosfer ketidakpastian kronis. Tekanan ini terasa sangat berat bagi Gen Z yang baru memasuki usia produktif karena mereka dipaksa memikirkan masa depan di tengah dunia politik dan ekonomi yang tidak stabil.
Banyak pemuda tumbuh dengan kekosongan makna hidup; mereka memiliki akses informasi yang luas, tetapi kehilangan kompas jati diri dan tujuan hidup yang sebenarnya. Potensi Gen Z dilemahkan oleh arus peradaban sekularistik kapitalistik, di mana nilai-nilai yang ditawarkan bertumpu pada materi, popularitas, dan kepuasan instan. Tolak ukur yang salah menjadikan followers, gaya hidup, dan daya beli sebagai identitas diri, bukan karakter, ilmu, dan kontribusi. Media dan industri hiburan turut mendorong pola hidup hedonisme, individualisme, dan relasi yang pragmatis.
Negara yang seharusnya mengurus umat absen dari perannya. Alih-alih merangkul dengan kebijakan pendidikan, lapangan kerja, dan ruang ekspresi yang sehat, justru Gen Z seringkali mendapat stigma buruk dari generasi sebelumnya. Mereka dicap "generasi stroberi" yang lemah dan "generasi rebahan." Padahal, mereka terlahir dari sistem yang tidak ramah. Minimnya ruang dialog dan kebijakan yang tidak berpihak pada Gen Z menyebabkan jarak antara generasi dan negara semakin lebar.
Namun di balik kecemasan dan sikap kritis Gen Z, terdapat peluang besar untuk perubahan. Kegelisahan mereka terhadap ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan sistem yang timpang menunjukkan bahwa mereka belum kehilangan nurani. Sikap kritis ini, jika disalurkan dengan ilmu dan arah yang jelas, dapat menjadi energi untuk bangkit. Banyak Gen Z hari ini mulai membangun komunitas, gerakan sosial, literasi finansial, hingga mencari kembali nilai-nilai spiritual sebagai jalan keluar. Dari titik inilah, mereka berpotensi menjadi agen perubahan menuju generasi yang ideal dan beradab.
Islam adalah solusi hakiki atas krisis yang melanda dunia saat ini, di mana ketimpangan ekonomi, kerapuhan mentalitas, kemerosotan moral, dan kerusakan lingkungan terjadi. Semua ini adalah buah dari sistem hidup yang menjauhkan agama dari kehidupan, dan Islam hadir sebagai solusi hakiki atas semua problematika umat saat ini. Penerapan Islam secara kaffah akan mewujudkan Rahmatan lil 'Alamin, rahmat bagi seluruh alam. Karena dalam Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual saja, tetapi juga ekonomi, politik, sosial, dan akhlak. Ketika aturan Allah diterapkan, manusia akan merasakan ketenangan jiwa dan keselamatan hidup yang hakiki.
Sejarah telah membuktikan potret generasi emas pada masa kejayaan Islam, generasi yang kuat dan penuh wibawa. Mereka berkepribadian Islam yang kokoh, takut hanya kepada Allah, jujur, amanah, dan berani membela kebenaran. Mereka dibina dengan berbagai keilmuan yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Generasi seperti inilah yang akan mengangkat peradaban manusia pada puncak kemuliaan.
Kehadiran negara adalah kunci tegaknya peradaban. Dalam Islam, negara bukan hanya korporasi yang mencari untung, tetapi pelindung dan pelayan umat. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat secara adil dan merata. Sumber daya alam dikelola untuk kemaslahatan umat, tidak dikuasai segelintir oligarki. Dengan jaminan ini, umat merasa aman terlindungi, ekonomi stabil, lapangan kerja tersedia sesuai dengan kompetensi umat, serta pendidikan dan kesehatan yang mudah diakses; tidak akan ada ketimpangan sosial.
Pemuda harus disadarkan akan tanggung jawab besarnya. Merekalah pengemban mabda Islam, yaitu ideologi Islam sebagai visi hidup dan solusi dunia. Pemuda tidak boleh apatis terhadap kondisi umat, mereka harus peduli, berpikir dan bergerak untuk kebangkitan Islam. Dari sinilah lahir harapan untuk masa depan emas. Wallahu'alam bishawab
Penulis: Yuli Yana Nurhasanah
