
BANDUNG – Spirit musik era 1990–1995 kembali terasa kuat lewat gelaran Bandung Back to 90s, sebuah perhelatan musik yang mengusung genre grunge dan alternatif, dua aliran yang pernah menjadi fenomena besar dan hingga kini masih memiliki pengaruh kuat lintas generasi. Acara ini mendapat sambutan hangat dari musisi, komunitas, hingga penikmat musik dari berbagai usia.
Ketua Pelaksana Bandung Back to Nineties, Budi, menyampaikan bahwa deretan band dan kolaborator yang tampil merupakan refleksi perjalanan serta semangat skena grunge dan alternatif di Bandung.
“Band yang tampil di antaranya Spaceboy feat Eski Cupumanik & Colay Slum, Jolly Joule, Chucky Chaplin, 2Sisi, serta Nirvana Party yang diisi oleh Ogie Freak, Yoga Nineball, Ucink Slum, Oky Nineball, Bito Dimensia, Rere Macadamia, Magi /rif, Giar Jolly Joule, hingga Kake WC Umum,” ujar Budi di sela wawancara.
Menurut Budi, pemilihan genre grunge bukan tanpa dasar. Era 90-an disebut sebagai masa keemasan grunge yang pengaruhnya masih terasa hingga kini, termasuk di kalangan generasi muda.

“Di era nineties, grunge sangat besar dan fenomenal. Sampai sekarang pun, di kalangan Gen Z masih menjadi kiblat dan perbincangan, bukan hanya dari sisi musik, tetapi juga fashion dan sikapnya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa Bandung Back to 90s digelar secara mandiri, sebagai bentuk pembuktian kapasitas dan keseriusan panitia dalam membangun portofolio event musik.
“Kami bergerak mandiri untuk mendapatkan value dan exposure, sebagai pembuktian portofolio agar ke depan bisa mendapatkan dukungan atau sponsor,” katanya.
Meski demikian, Budi mengakui bahwa peran sponsor sangat krusial dalam pengembangan event musik ke depannya.
“Peran sponsor sangat penting dan besar. Dengan dukungan sponsor, konsep pergerakan musik akan menjadi lebih luas dan lebih bebas mengeksplorasi kreativitas. Kami juga membuka ruang kolaborasi agar sponsor mendapatkan feedback sesuai yang diharapkan,” tambahnya.
.jpeg)
Lebih jauh, ia berharap geliat skena grunge dan alternatif dapat terus tumbuh melalui konsistensi kegiatan.
“Harapannya gigs dan event semakin banyak, musisi dan komunitas bisa saling mendukung secara rutin. Harus lebih berani membuat event nineties, khususnya grunge dan alternatif, agar pendengarnya semakin luas dan musisi tetap semangat berkarya,” ujarnya.
Terkait dukungan pemerintah, Budi menyampaikan harapan agar Pemerintah Kota Bandung, khususnya Wali Kota Bandung Kang Farhan, dapat terus memberikan perhatian terhadap ekosistem musik dan industri kreatif.
Acara Bandung Back to 90s sendiri digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, bertempat di Laporan Lounge, mulai pukul 17.00 WIB hingga selesai. Festival ini bertujuan mempererat semangat persatuan melalui musik lintas genre dan lintas generasi, sekaligus menjadi ruang kreativitas dan kolaborasi antara musisi Gen Z dan Gen Y dalam semangat bernostalgia musik era 90-an.
.jpeg)
“Kami ingin menghadirkan konser yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi wadah kebanggaan musik. Musik adalah bahasa universal yang menyatukan dan dapat berkontribusi meningkatkan kebahagiaan warga, di tengah kondisi kepuasan hidup personal dan sosial yang belakangan ini menurun. Musik adalah perayaan kreativitas dan produk kebanggaan,” ungkap Budi.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah kota terhadap pelaku industri kreatif, terutama dalam hal birokrasi, infrastruktur, dan kepastian hukum.
“Sektor ini memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi, namun sering kali terhambat oleh kendala teknis dan kebijakan. Dukungan nyata sangat dibutuhkan,” tambahnya.
Antusiasme pengunjung terlihat jelas sepanjang acara. Salah satunya Ugenk, yang hadir bersama rekan-rekannya dan mengaku sebagai penggemar berat Pearl Jam.

“Grunge itu bukan cuma musik, tapi sikap hidup. Acara seperti ini bikin nostalgia, tapi tetap relevan sampai sekarang,” ujarnya.
Selain itu, kehadiran komunitas Grunge Budi Brother Season turut menambah semarak acara, menandakan kuatnya solidaritas lintas komunitas dalam mendukung keberlanjutan musik grunge di Kota Bandung.
Gelaran Bandung Back to 90s pun menjadi bukti bahwa musik era 90-an, khususnya grunge, masih memiliki tempat istimewa di hati penikmat musik dan terus hidup sebagai bagian dari identitas kreatif Bandung. (B)