Bandung | elitkita.com – Keberhasilan penyelenggaraan Asia Africa Festival (AAF) 2026 menjadi bukti bahwa Kota Bandung semakin mampu menghadirkan agenda bertaraf internasional yang tidak hanya menampilkan kekayaan budaya, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta pemberdayaan pelaku UMKM.
Selama dua hari pelaksanaan pada 11–12 Juli 2026, antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Ratusan ribu pengunjung memadati berbagai rangkaian kegiatan yang digelar di kawasan bersejarah Asia Afrika, mulai dari pertunjukan budaya, pameran kreatif, hingga aktivitas ekonomi yang melibatkan puluhan pelaku usaha lokal.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, penyelenggaraan AAF bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, seniman, hingga tamu dari berbagai negara.
Menurutnya, tingginya jumlah kunjungan selama festival menjadi indikator bahwa event berkualitas mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Festival seperti ini tidak hanya mengangkat nilai sejarah dan budaya Kota Bandung, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor, mulai dari UMKM, kuliner, perhotelan, transportasi hingga industri kreatif," ujarnya.
Rangkaian kegiatan AAF 2026 diawali dengan Asia Africa Carnaval yang menampilkan keberagaman seni dan budaya dari berbagai komunitas serta diikuti peserta dari sejumlah daerah dan negara sahabat. Kehadiran delegasi internasional turut memperkuat semangat persahabatan yang menjadi warisan Konferensi Asia Afrika.
Selain itu, berbagai kegiatan seni dan budaya juga dipusatkan di kawasan Asia Africa Corner melalui pertunjukan musik, teater, pemutaran film, diskusi budaya, hingga pertemuan mahasiswa internasional. Beragam agenda tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat dan menjadi ruang interaksi budaya lintas negara.
Sementara itu, kawasan Asia Africa Market menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi selama festival berlangsung. Puluhan tenant yang didominasi pelaku UMKM menghadirkan produk kuliner, fesyen, kriya, serta berbagai karya ekonomi kreatif yang mendapat respons baik dari para pengunjung.
Pemerintah Kota Bandung menilai tingginya nilai transaksi yang tercipta selama pelaksanaan festival menunjukkan bahwa kegiatan budaya mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang promosi bagi produk-produk lokal.
Tak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, penyelenggaraan AAF 2026 juga mengusung konsep Sustainable Event dengan mendorong pengelolaan sampah secara terpadu serta penghitungan jejak karbon sebagai bagian dari komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
Melalui kolaborasi bersama berbagai pihak, ratusan kilogram sampah plastik berhasil dikumpulkan dan dikelola selama rangkaian kegiatan. Pemerintah Kota Bandung juga berencana melakukan langkah mitigasi melalui penanaman pohon produktif sebagai bagian dari upaya mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan selama festival berlangsung.
Farhan menegaskan, keberhasilan sebuah festival tidak semata diukur dari tingginya jumlah pengunjung, melainkan juga dari dampak positif yang ditinggalkan bagi masyarakat maupun lingkungan.
Ia berharap Asia Africa Festival dapat terus berkembang menjadi agenda internasional yang mampu memperkuat identitas Bandung sebagai Kota Asia Afrika, sekaligus menjadi destinasi wisata budaya yang semakin diperhitungkan di tingkat dunia. (B)
