Catatan Redaksi
Seringkali kita lihat film atau cerita, ada tokoh antagonis diperankan sangat profesional sehingga sampai terkecoh dengan kepiawaiannya adegan perannya. Sampai, bikin penonton kesal tapi juga kagum ? Kali ini peran itu tidak cuma ada dilayar atau buku, tapi benar tampil di depan mata kita di dunia nyata.
Pertanyaan besar yang muncul ke permukaan : Apakah peran antagonis yang dimainkan oleh Jeje Richie dalam mengelola pusaran kepemerintahan Kabupaten Bandung Barat ini akan menjadi sebuah karya yang gemilang dan meninggalkan kesan mendalam atau justru sebaliknya—menjadi kisah yang menyedihkan serta merugikan banyak pihak ?
Melihat kondisi riil yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat saat ini, wilayah ini seolah masih terhanyut dalam kedangkalan kebijakan dan keputusan yang diambil. Belum terlihat adanya langkah nyata atau arah strategis yang mampu melahirkan kemajuan pesat, padahal sosok yang memegang kendali memiliki hak penuh serta wewenang mutlak untuk menyusun dan menetapkan segala aturan demi memperkokoh peran serta fungsi pemerintah daerah sebagai penggerak utama pembangunan.
Ketika seorang tokoh, baik itu kalangan selebritis maupun profesi lainnya, memerankan sosok antagonis sedemikian rupa hingga mampu menciptakan hasil karya yang memukau dan membuat penonton terpukau, maka sudah barang tentu ia akan menjadi sorotan utama, dibicarakan banyak orang, bahkan diingat sepanjang masa. Namun beda halnya jika peran antagonis tersebut dimainkan dalam dunia nyata, di mana "pemirsa" yang sesungguhnya adalah rakyat banyak dan "panggungnya" adalah kehidupan bernegara serta masa depan sebuah daerah.
Apalagi sosok Jeje Richie dikenal luas oleh masyarakat sebagai seorang selebritis yang mampu memikat hati. Kini, ia seolah terpesona dan masuk ke dalam peran sebagai sosok antagonis dalam pemerintahan daerah. Di lain pihak, hal ini menjadi pertanyaan besar bagi para tokoh masyarakat, praktisi, akademisi hingga budayawan, apalagi hal ini diwarnai dengan berbagai rangkaian peristiwa yang telah terjadi selama masa kepemimpinannya.
Jika peran "antagonis" ini diartikan, sebagai sikap yang keras, tegas, berani mengambil keputusan sulit demi kebaikan jangka panjang serta tidak takut menentang arus demi tegaknya keadilan dan kepentingan umum. Maka itu, adalah peran yang mulia dan sangat dinantikan. Sebuah peran yang akan tercatat, sebagai karya agung dalam sejarah pemerintahan, sebagaimana segudang janji politik yang diikrarkan saat masa Pilkada, seolah tertulis rapi dalam sebuah naskah besar perjuangan.
Namun jika makna "antagonis" yang dimaksud, adalah sikap yang sebaliknya : bertindak bertentangan dengan kepentingan rakyat, menyalahgunakan kekuasaan, membuat kebijakan yang dangkal dan tidak bermanfaat serta hanya mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Tentunya, pertunjukan ini bukanlah sebuah karya seni yang indah, melainkan sebuah tragedi nyata yang menyakitkan hati banyak orang.
Sampai saat ini, masyarakat Kabupaten Bandung Barat masih terus menunggu : ke arah mana sebenarnya alur cerita ini akan berlanjut ? Apakah sosok yang memegang kendali akan berubah haluan dan mengubah perannya menjadi tokoh pembangun yang sejati ? Atau justru akan terus melanjutkan peran antagonis yang menjadi penghambat kemajuan, sehingga akhirnya ia hanya akan diingat sebagai sosok yang merusak alur cerita besar perjuangan rakyat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan ?
Waktu dan hasil nyata yang terlihat di lapangan lah yang nantinya akan menjadi penilai paling jujur dan adil, hal itu sekaligus akan menjadi penentu. Apakah peran yang dimainkan ini layak mendapat tepuk tangan dan penghargaan atau justru layak mendapatkan cercaan serta penolakan dari seluruh masyarakat yang telah dirugikan ?
Oleh : Toni Mardiana S. Ikom.
(Editor)
