
Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan tonggak penting dalam sejarah Islam yang menegaskan kedudukan sholat sebagai ibadah utama dan fondasi kehidupan umat.
Dalam peristiwa agung inilah Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu secara langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tanpa perantara, menandakan betapa sentralnya sholat dalam membangun keimanan, akhlak, dan peradaban.
Dewan Penasihat DPP Persatuan Umat Islam, Prof. Dr. KH. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa Isra Mi’raj tidak boleh dipahami sebatas kisah spiritual, tetapi harus dimaknai sebagai pesan perubahan perilaku umat.
“Tidak ada ibadah lain yang perintahnya disampaikan secara langsung dalam peristiwa Isra Mi’raj selain sholat. Ini menunjukkan bahwa sholat adalah penghubung utama antara manusia dan Allah,” ujar KH. Achmad Tjachja Nugraha.
Allah SWT berfirman:
“Peliharalah semua sholat dan sholat wustha, dan laksanakanlah sholat karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Menurut KH. Achmad, ayat tersebut menegaskan bahwa sholat tidak cukup hanya dikerjakan secara formal, tetapi harus dijaga waktu, kekhusyukan, dan dampaknya dalam kehidupan nyata. Kelalaian terhadap sholat, kata dia, sering berujung pada kelalaian dalam amanah sosial.
Hal ini sejalan dengan peringatan Allah SWT: “(Yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya.” (QS. Al-Ma’un: 5)
Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan pujian kepada mereka yang konsisten menjaga sholatnya:
“Dan orang-orang yang memelihara sholatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)
KH. Achmad menjelaskan bahwa sholat yang benar akan melahirkan keseimbangan antara ibadah ritual dan aktivitas duniawi.
Islam tidak mengajarkan pengasingan diri, melainkan keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sebagaimana firman Allah SWT:
“Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Lebih jauh, nilai Isra Mi’raj juga tercermin dalam nasihat Luqman kepada anaknya :
“Wahai anakku! Laksanakanlah sholat, suruhlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)
Sholat, Krisis Moral, dan Bencana Lingkungan
Dalam konteks kekinian, KH. Achmad Tjachja Nugraha menyoroti keterkaitan erat antara kualitas sholat umat dengan maraknya bencana dan kerusakan lingkungan.
Menurutnya, Al-Qur’an secara jelas menyebut bahwa kerusakan di bumi tidak terjadi tanpa sebab, melainkan akibat perilaku manusia yang mengabaikan nilai-nilai ilahiah.
“Sholat bukan hanya ibadah personal, tetapi fondasi etika sosial dan ekologis. Ketika sholat ditinggalkan atau dilakukan tanpa kesadaran moral, manusia kehilangan kendali spiritual dalam mengelola alam,” tegas KH. Achmad.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Menurut KH. Achmad, sholat yang dijaga dengan baik akan membentuk kesadaran bahwa manusia adalah khalifah di bumi, bukan perusak.
Nilai disiplin, kepatuhan, dan ketundukan dalam sholat seharusnya tercermin dalam sikap adil terhadap alam, tidak serakah dalam eksploitasi sumber daya, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.” (QS. Asy-Syu’ara: 183)
“(Yaitu) orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”
(QS. Asy-Syu’ara: 152)
KH. Achmad menegaskan bahwa banyak bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, dan krisis pangan bukan semata-mata peristiwa alam, tetapi juga konsekuensi dari rusaknya hubungan manusia dengan Allah dan alam.
“Jika sholat benar-benar hidup dalam diri seseorang, ia tidak akan tega merusak hutan, mencemari sungai, atau menghilangkan hak generasi mendatang. Sholat yang benar melahirkan tanggung jawab ekologis,” ungkapnya.
Menurut KH. Achmad Tjachja Nugraha, peringatan Isra Mi’raj harus menjadi momentum muhasabah bersama untuk menguatkan kembali sholat sebagai sumber nilai spiritual, moral, sosial, sekaligus ekologis.
Tanpa perbaikan kualitas sholat, upaya pembangunan dan mitigasi bencana akan bersifat teknis dan kehilangan akar etikanya.
“Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa langit, tetapi pesan bumi: bangun peradaban dengan sholat yang hidup dalam perilaku dan kepedulian terhadap sesama serta alam,” pungkasnya.
#KHAchmadTjachjaNugraha
#PersatuanUmatIslam
#UlamaBerbicara
#IsraMiraj
#IsraMirajNabi
#MenjagaSholat
#PerintahSholat