Tragedi longsor Desa Pasirlangu beberapa waktu lalu menyisakan polemik baru. Bukan hanya soal duka kehilangan nyawa, namun kini mencuat dugaan manipulasi data kependudukan yang menyeret nama saudara Asep Koswara Abas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Asep Koswara Abas diketahui merupakan mantan suami dari korban meninggal dunia (Nur).dan melalui pernikahan nikah siri.
Pasca-perceraian mereka pada tahun 2024, Nur secara tertib mengurus administrasi kependudukan dari Desa Margajaya,dan berpindah ke Kp Pasirkuda RT 01 RW 10 Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua,Status sebagai Kepala Keluarga dengan Kartu Keluarga No 3217032106240001,dan terbit pada tanggal 21 Juni 2024.
Sebaliknya, Asep Koswara Abas diduga tidak memiliki identitas administrasi (KTP/KK) yang valid di wilayah tersebut dan secara hukum masih tercatat di alamat istri sebelumnya di Cipeuyeum, Ciranjang.
Kejanggalan Munculnya Identitas Baru, terendus saat peristiwa longsor maut terjadi. Asep Koswara Abas mendadak muncul dengan mengantongi KTP dan Kartu Keluarga (KK) beralamat di Desa Pasirlangu,mulai terbit pada tanggal 03 Pebruari 2026.sebagai Kepala Keluarga dari Nur dengan No 3203313112100019 sesudah pasca longsor.
Hal ini memicu keheranan dari pihak aparat desa setempat, termasuk Ketua RT dan RW.
”Pihak desa (Pasirlangu) merasa tercengang karena tidak pernah ada permohonan surat pindah atau izin masuk secara resmi dari yang bersangkutan, namun tiba-tiba data kependudukannya muncul,” ujar seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.
Dugaan manipulasi ini diduga kuat berkaitan dengan upaya untuk mendapatkan santunan bagi ahli waris korban bencana dalam jumlah besar.bahkan pada saat pemakaman jenazah anaknya pun tidak hadir,pada Tanggal 2 Pebruari 2026 dan sudah di kasih kabar sama adiknya Nur yang bernama Ai Neni.
Menurut Ai Neni sebagai adik dari Nur bahwa kami dari awal sebagai pelapor utama karena keluarga nya tertimpa longsor dan meninggal dunia, dengan data yang sesuai dengan kartu keluarga,yang dilaporkan ke pihak DVI pas waktu hari kejadian.
malah setiap hari kami mencari dan menunggu sampai hari penutupan pencarian , sedangkan Abas sendiri datang setelah kejadian
Tudingan Provokasi dan Misinformasi di Media Sosial
Selain dugaan pemalsuan dokumen, perilaku Asep Abas di media sosial TikTok juga menuai kecaman. Ia diduga menyebarkan narasi yang memposisikan dirinya sebagai korban yang terzolimi guna menarik simpati publik.(Iyus).

