elitkita.com // Regenerasi petani menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan kemerdekaan pangan yang sejati di masa depan. Menyadari tantangan besar ini, Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) mendesak pemerintah untuk segera mengatasi krisis generasi baru sektor pertanian.
Saat ini, capaian produksi padi nasional memang terus meningkat pesat sesuai dengan target program Asta Cita Presiden. Namun, tantangan utama ke depan bukan sekadar menggenjot angka produksi di sawah. Indonesia wajib memastikan ketersediaan anak muda yang siap mengelola lahan pertanian secara berkelanjutan dalam dua dekade mendatang agar tidak terjadi kelangkaan pangan.
Kemerdekaan adalah merdekanya pangan. Salah satu bagian penting mengisi kemerdekaan yang urgent saat ini adalah menyiapkan Regenerasi Petani untuk pangan masa depan
Mensikapi tantangan mengisi kemerdekaan tersebut, maka PISPI (Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia) menilai bahwa saat ini dan kedepan pertanian Indonesia dihadapkan untuk segera menyelesaikan masalah regenerasi petani yang buruk.
Tidak bisa dipungkiri saat ini capaian produksi padi meningkat sesuai harapan asta cita presiden. Namun persoalannya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan tersedia generasi baru yang akan mengelola sektor pertanian dalam dua dekade mendatang.
Fenomena anak muda yang memilih meninggalkan pekerjaan di kota untuk masuk ke sektor pertanian mulai menunjukkan perubahan cara pandang terhadap profesi petani.
Dukungan teknologi, mekanisasi dan pemasaran digital, pertanian mulai dikembangkan sebagai sektor usaha yang memiliki peluang ekonomi yang diharapkan menarik animo anak muda.
Namun, perubahan tersebut belum cukup untuk menjawab persoalan regenerasi. Akses terhadap lahan, modal, teknologi dan pasar masih menjadi tantangan bagi anak muda yang ingin masuk ke sektor pertanian.
Guru Besar Prodi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan “Regenerasi petani bukan sekadar persoalan siapa yang akan bekerja di sawah. Ini menyangkut masa depan ketahanan pangan Indonesia. Kalau hari ini kita tidak menyiapkan generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian, maka 20 tahun mendatang kita akan menghadapi persoalan yang jauh lebih besar,” kata Achmad.
Sebagai Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (BPP PISPI), Prof Achmad Tj menilai pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menciptakan ekosistem yang membuat sektor pertanian menarik bagi generasi muda. Menurutnya, anak muda membutuhkan prospek ekonomi yang jelas jika ingin menjadikan pertanian sebagai profesi sekaligus bisnis.
“Anak muda boleh memiliki semangat dan pengetahuan, tetapi kalau tidak memiliki akses terhadap lahan, modal, teknologi dan prospek ekonomi pasar, semangat tersebut akan sulit berkembang menjadi usaha pertanian yang berkelanjutan,” ujarnya.
Prof Dr Achmad Tj mengatakan pertanian juga perlu dikembangkan dengan pendekatan kewirausahaan petani atau *agripreneurship*. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan budidaya, tetapi juga perlu memahami manajemen usaha, pembiayaan, pemasaran dan pengolahan hasil pertanian agar mendapatkan nilai tambah.
Menurut dia, pendidikan menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk generasi baru pelaku pertanian. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat berperan dalam menghubungkan pengetahuan pertanian dengan kemampuan kewirausahaan dan teknologi. Trend penurunan minat masuk pendidikan pertanian merupakan PR berat bagi dunia pendidikan perguruan tinggi.
“Kita membutuhkan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan bagaimana menanam, tetapi juga bagaimana mengelola usaha pertanian. Anak muda harus memahami produksi, teknologi, pembiayaan, pemasaran sampai bagaimana menciptakan nilai tambah,” katanya. "Supporting pemerintah terhadap penguatan infrastruktur pertanian (agribisnis) bagi dunia pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi termasuk membuat ekosistem pertanian agribinis yang linkage".
Perkembangan teknologi dinilai dapat menjadi salah satu daya tarik bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian. Mekanisasi, penggunaan data, pemantauan lahan dan pemasaran digital dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus membuka model bisnis baru.
Prof Dr Achmad Tj mengungkapkan “Kita tidak boleh hanya mendorong anak muda untuk berproduksi. Kita juga harus memastikan ada ekosistem pasar. Petani muda harus tahu kepada siapa produknya akan dijual, berapa nilai tambah yang bisa diperoleh, dan bagaimana mereka bisa memiliki posisi tawar,” ujarnya.
Persoalan regenerasi petani pada akhirnya berkaitan langsung dengan ketahanan pangan. Indonesia membutuhkan bukan hanya lahan dan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu menjalankan seluruh rantai produksi pangan.
“Ketahanan pangan pada akhirnya adalah persoalan manusia. Kita membutuhkan lahan, teknologi dan modal, tetapi semua itu membutuhkan generasi yang mampu mengelolanya. Karena itu, regenerasi petani harus menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional,” kata Achmad.
Dua puluh tahun ke depan akan menjadi periode penting bagi sektor pertanian Indonesia.
Generasi muda yang mulai masuk ke sektor pertanian saat ini akan menjadi bagian dari pelaku utama produksi pangan pada 2046 dan itulah bentuk mengisi kemerdekaan.
Karena itu, kemampuan Indonesia menarik dan mempertahankan generasi muda di sektor pertanian akan ikut menentukan seberapa kuat dan MERDEKA nya ketahanan pangan nasional di masa depan. (Ek)
