Oleh: Naminamia (Pegiat Literasi Muslimah)
Kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza membuat banyak anak merespons penderitaan yang mereka alami dengan keheningan. Salah satunya adalah Adam. Sebelum perang, Adam dikenal sebagai anak yang ceria dan banyak bicara. Namun, ketika usianya menginjak lima tahun, ia mendadak berhenti berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Seorang psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, bahkan mengatakan, "Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak mengalami trauma." (BBC, 29 Mei 2026).
Dampak perang yang begitu dahsyat dirasakan oleh lebih dari satu juta anak di Gaza. Banyak di antara mereka kini merespons penderitaan dengan diam. Kebingungan dan ketakutan menyelimuti hari-hari mereka karena harus menyaksikan kekerasan yang terus berlangsung di depan mata. Darah, dentuman bom, serta kehilangan orang-orang tercinta menjadi pemandangan yang hampir setiap hari mereka hadapi. Jerit tangis anak-anak Gaza seakan tidak mampu meredakan sesak yang memenuhi hati mereka. Trauma yang berkepanjangan bahkan menyebabkan sebagian anak kehilangan kemampuan untuk berbicara. Pantaskah seorang anak kecil memikul beban seberat itu?
Bagi anak-anak Gaza, inilah mimpi buruk yang nyata. Di belahan dunia lain, anak-anak seusia Adam masih dapat menikmati hangatnya kasih sayang keluarga dan bermain dengan bebas. Sebaliknya, anak-anak Gaza harus berjuang mempertahankan kesehatan mental mereka di tengah penjajahan yang menimbulkan trauma mendalam. Data UNICEF menyebutkan sekitar 20 ribu anak meninggal dunia dan lebih dari 41 ribu anak mengalami luka-luka.
Tindakan entitas Zionis terhadap Gaza merupakan kejahatan perang. Hingga saat ini, kekerasan, pembantaian, dan genosida masih terus berlangsung. Trauma berat yang dialami anak-anak Gaza merupakan konsekuensi dari tindakan tersebut. Oleh karena itu, penderitaan di Gaza harus segera dihentikan demi menyelamatkan generasi masa depan.
Terdapat skenario jangka panjang di balik genosida yang terus berlangsung, yakni menghancurkan fisik sekaligus mental rakyat Gaza. Dampaknya tidak hanya terlihat pada kerusakan bangunan, tetapi juga pada kondisi psikologis anak-anak yang menjadi korban. Obsesi untuk menguasai tanah Palestina dilakukan melalui kekerasan yang membabi buta sehingga meninggalkan luka yang sangat dalam bagi generasi penerus.
Di sisi lain, dunia belum mampu menghentikan tragedi tersebut dan baru sebatas memberikan bantuan kemanusiaan. Solusi yang bersifat parsial belum mampu mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Meskipun banyak pihak memiliki niat baik untuk membantu, kenyataannya bantuan berupa makanan dan obat-obatan sering kali tidak dapat masuk ke wilayah Gaza karena tertahan di perbatasan. Pemimpin negeri-negeri Muslim yang memilih diam telah mengkhianati perjuangan rakyat Palestina. Dan dukungan terhadap solusi Two-State Solution adalah bentuk keberpihakan kepada entitas Zionis.
Gaza membutuhkan lebih dari sekadar bantuan kemanusiaan. Gaza memerlukan kekuatan militer sebagai pelindung yakni Khilafah Islam, yang mampu melindungi kaum Muslim dari berbagai bentuk penindasan dan kejahatan perang. Ketika darah seorang Muslim tertumpah, keberadaan pemimpin yang berperan sebagai perisai akan memberikan perlindungan dan menghentikan kezaliman.
Penderitaan anak-anak Gaza tidak cukup diselesaikan melalui terapi psikologis semata. Yang dibutuhkan adalah pembebasan yang hakiki sehingga penjajahan dapat diakhiri. Terapi hanya menyentuh dampak yang tampak di permukaan, sedangkan akar persoalannya adalah penjajahan yang terus berlangsung. Karena itu, para pemimpin negeri-negeri Muslim perlu bersatu untuk menyelesaikan akar masalah tersebut. Kejahatan yang terjadi telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Apa pun alasannya, tindakan tersebut merupakan dosa besar yang tidak sepatutnya terjadi di muka bumi.
Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk turut merasakan penderitaan saudara seiman di mana pun mereka berada. Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10).
Sejak awal hingga hari ini, penderitaan Palestina belum juga menemukan penyelesaian yang tuntas. Berbagai upaya telah dilakukan, tetapi penjajahan dan pembantaian masih terus berlangsung. Keadilan bagi Gaza hanya dapat diwujudkan melalui bantuan militer dari sebuah negara adidaya Islam, yaitu Khilafah. Dan entitas Zionis harus dilawan melalui jihad fi sabilillah oleh tentara Daulah demi membebaskan tanah Palestina.
Umat Islam di seluruh dunia harus bersatu dan memiliki kesadaran terhadap perjuangan penegakan Khilafah. Saat ini berbagai solusi yang ditempuh selama ini belum mampu menghentikan tragedi yang terjadi di Gaza. Lantas, sampai berapa banyak lagi anak yang harus menjadi korban akibat keserakahan ini?
Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam ikatan akidah dan persaudaraan. Tumbuhkan keyakinan kepada Allah Swt., jalankan seluruh perintah-Nya, serta jauhi segala larangan-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dia akan menolong hamba-hamba-Nya yang menginginkan kemerdekaan bagi bumi Palestina. Karena persatuan kaum Muslimin di seluruh dunia akan menjadi kekalahan telak bagi entitas Zionis Yahudi.
Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.
