Bandung | elitkita.com – Di tengah dinamika industri manufaktur yang terus berkembang, PT Perusahaan Logam BIMA menjadi salah satu contoh industri lokal yang mampu menjaga konsistensi usahanya selama puluhan tahun. Berdiri sejak tahun 1950, perusahaan yang memproduksi berbagai peralatan dapur berbahan logam ini tetap eksis hingga kini, sembari mempertahankan nilai sejarah yang melekat pada kawasan pabriknya.
Keberlangsungan perusahaan selama lebih dari tujuh dekade menunjukkan kemampuan BIMA dalam beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya persaingan industri, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Akuntan PT Perusahaan Logam BIMA, Ratif Sinarto, mengatakan perjalanan perusahaan tidak selalu berjalan mudah. Berbagai tantangan harus dihadapi, mulai dari perubahan pola bisnis, perkembangan industri, hingga dinamika ekonomi yang terus berubah dari waktu ke waktu.
Menurutnya, pada masa awal berdiri, BIMA lebih banyak memenuhi kebutuhan peralatan logam bagi instansi pemerintah. Seiring perkembangan, perusahaan mulai memperluas pangsa pasar ke sektor ritel dan masyarakat umum dengan menghadirkan beragam produk rumah tangga yang lebih variatif.
"Perusahaan terus berupaya mengikuti perkembangan zaman melalui inovasi produk dan peningkatan kualitas agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan pasar," ujarnya.
Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong produk-produk BIMA tetap diminati konsumen. Bahkan, hasil produksinya kini telah menjangkau pasar internasional dan digunakan di berbagai negara.
Ratif menilai pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa produk manufaktur dalam negeri memiliki daya saing yang tidak kalah dengan produk dari luar negeri apabila didukung kualitas dan standar produksi yang baik.
Selain dikenal sebagai produsen peralatan dapur, kawasan pabrik BIMA juga memiliki nilai historis bagi Kota Bandung. Bagian depan bangunan pabrik telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sehingga keberadaannya tetap dipertahankan sesuai karakter arsitektur aslinya.
Selama ini perusahaan lebih mengutamakan pemeliharaan rutin dibandingkan melakukan perubahan fisik bangunan. Perawatan dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan pelestarian sehingga identitas bangunan bersejarah tersebut tetap terjaga.
Bagi perusahaan, status sebagai bangunan cagar budaya bukan hanya bentuk pengakuan terhadap nilai sejarah, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk ikut menjaga warisan budaya Kota Bandung di tengah perkembangan kawasan perkotaan.
Di sisi lain, perusahaan menyadari tantangan industri manufaktur ke depan akan semakin kompleks. Persaingan produk, perubahan perilaku konsumen, efisiensi biaya produksi, hingga perkembangan teknologi menjadi aspek yang harus terus diantisipasi.
Meski demikian, BIMA tetap optimistis dapat mempertahankan eksistensinya.
Perusahaan yang kini memasuki generasi kedua kepemimpinan itu juga terus menyiapkan proses regenerasi agar keberlangsungan usaha dapat terus terjaga pada masa mendatang.
Ratif berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap sektor manufaktur, khususnya industri yang tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian, tetapi juga memiliki nilai sejarah melalui pelestarian bangunan cagar budaya.
Menurutnya, kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah menjadi salah satu kunci agar industri lokal mampu terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjaga identitas sejarah Kota Bandung di tengah perkembangan zaman.,(B)

.jpeg)

