Catatan Redaksi,-
Negara adalah satu kesatuan utuh yang dibangun di atas bentang wilayah, kekayaan alam dan keragaman manusia yang mendiaminya. Luasnya zona teritorial, melimpahnya hasil bumi, kekayaan lautan serta tumpukan aset yang dikuasai seharusnya menjadi modal dasar yang membuat negara tegak kokoh, mampu memenuhi segala kebutuhan rakyatnya dan menjaga kedaulatannya dengan wibawa. Namun realita yang kita rasakan hari ini berbicara lain : Bahwa negara seolah berbadan raksasa yang besar, perutnya buncit penuh beban yang tak berguna, sementara tenaga untuk bergerak, bekerja dan melayani justru semakin menipis atau lemah. Apalagi berbicara perang, mempertahankan kekuatan jauh dari nalar manusia.
Ibarat diujung perbatasan di Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, garis perbatasan menjadi garis pertahanan sekaligus pintu gerbang kedaulatan. Wilayah ini menyimpan kekayaan yang tak ternilai harganya, tentunya menjadi benteng sekaligus sumber kehidupan bagi seluruh bangsa. Namun kenyataannya, banyak wilayah perbatasan justru menjadi daerah yang terabaikan : Infrastruktur yang belum memadai, pelayanan dasar yang jauh dari jangkauan hingga pengawasan yang belum maksimal. Potensi besar yang dimiliki tidak berubah menjadi kekuatan nyata, melainkan hanya menjadi nama besar di peta semata.
Kekayaan alam yang melimpah, ribuan aset negara yang tersebar di berbagai penjuru serta sumber daya manusia yang semakin berpendidikan dan berintelektual tinggi seharusnya menjadi penggerak utama roda pemerintahan. Alih - alih mengelola segala potensi itu dengan teratur, terarah dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat, tata kelola negara justru terasa semerawut. Rencana yang disusun seringkali tidak berjalan sejalan dengan pelaksanaan dilapangan. Kekayaan yang ada seolah tersedot ke dalam "perut buncit" birokrasi yang gemuk, penuh aturan yang saling tumpang tindih, pemborosan anggaran sampai kebocoran yang tak kunjung usai.
Di tengah segala kelimpahan yang dimiliki negara, justru kebutuhan dasar masyarakat masih banyak yang belum terpenuhi secara merata. Akses pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang terjangkau, lapangan pekerjaan yang memadai termasuk kesejahteraan yang pantas masih menjadi impian bagi sebagian besar rakyat. Ironisnya, untuk menambal kekurangan yang terjadi akibat pengelolaan yang tidak tepat, beban itu kembali dibebankan kepada rakyat lewat berbagai jenis pajak dan pungutan yang kian hari kian memberatkan. Rakyat terus diperas keringat dan hartanya, seolah menjadi satu-satunya sumber tenaga untuk menjaga agar "tubuh raksasa" itu tetap berdiri, meskipun tidak bergerak maju.
Berbagai kalangan intelektual, pakar dan ahli di berbagai bidang telah banyak memberikan gagasan, pemikiran serta solusi demi perbaikan tata kelola negara. Namun sayangnya, banyak dari pemikiran cemerlang itu hanya berhenti di atas kertas atau diskusi semata. Sistem yang kaku, kepentingan yang saling bertabrakan serta budaya mempertahankan kebiasaan lama yang buruk membuat masukan-masukan positif itu sulit menembus dinding birokrasi yang tebal. Akibatnya, negara tetap berjalan di tempat, membawa beban yang semakin berat, namun kehilangan kekuatan untuk melangkah.
Pertanyaan besar yang kini menggema di tengah masyarakat : Apakah rela membiarkan negara ini terus menjadi raksasa yang lemah ? Memiliki segalanya, namun tidak mampu memberikan manfaat bagi pemiliknya, yaitu rakyat itu sendiri ? Apakah luas wilayah dan kekayaan yang dimiliki hanya akan menjadi hiasan semata, sementara rakyat terus menanggung beban pajak yang semakin berat tanpa ada perubahan yang nyata ?, begitupun para koruptor terus meraja rela sampai ke akar-akarnya, padahal sesungguhnya anak cucu mereka menanti dari zaman ke zaman hasil pengelolaan yang benar, dikerjakan oleh para pemuka sejarah dalam menjaga amanah mengelola negara.
Sebuah negara yang besar tidak diukur dari seberapa luas wilayahnya atau seberapa banyak aset yang dimilikinya, melainkan dari seberapa mampu ia memberikan kesejahteraan, keadilan dan perlindungan bagi seluruh rakyatnya. Selama pengelolaan masih semerawut, selama kekayaan negara hanya berputar dikalangan terbatas dan selama beban selalu dibebankan kepada rakyat tanpa perbaikan mendasar. Maka negara itu akan tetap menjadi raksasa berbadan besar, berperut buncit, namun kehilangan tenaga untuk mewujudkan cita - cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemungkinan sudah saatnya kembali meluruskan arah, membuang segala beban yang tidak perlu dan mengembalikan tenaga negara kepada fungsinya yang sejati : Melayani dan memakmurkan rakyat.
Editor Toni Mardiana S. Ikom.
