Esai,-
Uang pada hakikatnya diciptakan hanya sebagai alat tukar yang memudahkan interaksi antar manusia, ia hadir menggantikan sistem barter yang rumit, menjadi jembatan yang menghubungkan antara kebutuhan dan pemenuhannya, antara hasil kerja dan imbalan yang pantas diterima. Dengan uang, manusia bisa mendapatkan makanan, tempat tinggal, pendidikan, pengobatan hingga segala hal yang menjadi penunjang kehidupan di muka bumi ini. Tak heran jika sejak lama, manusia mengejarnya dengan mencurahkan keringat, tenaga, pikiran bahkan waktu yang seharusnya diberikan kepada keluarga dan orang - orang terkasih. Uang memang menjadi kebutuhan yang tak terelakkan, penopang utama agar roda kehidupan terus berputar.
Namun, uang memiliki dua sisi mata pisau yang sangat tajam. Di satu sisi, ia adalah penyelamat namun di sisi lain, ia bisa berubah menjadi kutukan yang menyesatkan. Seiring berjalannya waktu, banyak manusia yang lupa akan fungsi aslinya. Uang yang seharusnya menjadi sarana, kini berubah menjadi tujuan utama. Orang tidak lagi bekerja untuk hidup, melainkan hidup demi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tanpa batas dan tanpa henti.
Kekuasaan yang dibawa, oleh uang seringkali membutakan mata hati. Demi memilikinya, banyak orang yang rela melepaskan nilai - nilai kemanusiaan. Kejujuran dikorbankan demi keuntungan sesaat, keadilan dikesampingkan demi kepentingan pribadi dan persaudaraan dihancurkan hanya karena selisih nominal. Kita sering melihat bagaimana seseorang yang dulunya rendah hati dan santun, berubah menjadi angkuh dan sewenang-wenang tatkala dompetnya mulai tebal. Uang seolah memberi ilusi, bahwa ia adalah segalanya : Bisa membeli jabatan, bisa mengubah fakta bahkan mencoba menaklukkan hukum.
Lebih menyedihkan lagi, uang seringkali menjadi penyebab runtuhnya hubungan yang paling suci sekalipun. Persaudaraan retak, karena memperebutkan harta warisan, rumah tangga hancur karena perselisihan soal nafkah dan pertemanan musnah ketika kepentingan uang mulai masuk ke dalamnya. Sedangkan manusia dibayang-banyangi dalam jebakan lingkaran setan : Semakin dimiliki, semakin ingin memiliki lebih banyak lagi. Serakah tak pernah merasa cukup, padahal saat meninggal nanti, tak selembar uang pun bisa dibawa pergi. Semua harta yang dikumpulkan dengan susah payah bahkan dengan cara yang tidak benar, pada akhirnya hanya akan menjadi milik orang lain.
Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena uang adalah benda mati, namun ia memiliki daya tarik yang mampu menguasai hidup manusia. Ketika manusia menggenggam uang terlalu erat, seringkali justru uanglah yang akhirnya menggenggam hidup mereka. Ia mengatur langkah, menentukan sikap hingga mengubah watak asli seseorang. Orang menjadi takut kehilangan, takut miskin sehingga ia rela melakukan apa saja demi menjaga apa yang ia miliki bahkan merusak dirinya sendiri.
Padahal, bijaklah dalam memandang uang. Ia memang penting, namun ia bukan segalanya. Ada hal yang jauh lebih mahal harganya daripada uang : Kehormatan, ketenangan hati, kasih sayang keluarga dan kebahagiaan yang tulus. Uang bisa dicari kembali jika hilang, namun kepercayaan yang hilang tak bisa dibeli dengan berapapun jumlah harta.
Kutukan uang akan berhenti ketika manusia mampu menempatkannya pada posisi yang benar : Sebagai alat, bukan tuan. Jadilah penguasa atas uang yang kita miliki, bukan budak yang diperbudak olehnya. Genggamlah secukupnya, gunakanlah dengan jalan yang benar dan nikmatilah sebagai sarana untuk berbuat baik. Karena sejatinya, kemuliaan manusia tidak pernah diukur dari seberapa banyak uang yang ia genggam, melainkan dari seberapa bijak ia menggunakan apa yang ia miliki untuk kebaikan sesama dan kehidupan yang bermakna.
Oleh : Toni Mardiana S. Ikom. (Editor)
