elitkita.com // Percepatan program konversi motor listrik di Indonesia mulai mendapat perhatian luas, tidak hanya dari pemerintah dan pelaku industri otomotif, tetapi juga masyarakat.
Program EV-GO yang digagas oleh Raine Renaldi bersama ekosistem EV-READY Group menjadikan Bali sebagai daerah percontohan
EV - READY Group kini menyiapkan langkah besar dalam pembangunan infrastruktur kendaraan listrik, termasuk target menghadirkan 10.000 titik stasiun penukaran baterai di Bali.
Program tersebut sebelumnya telah mendapat sambutan positif dari Pemerintah Provinsi Bali.
Dalam sejumlah publikasi resmi yang ditampilkan melalui akun Instagram @evready.global dan @disnakeresdm, terlihat jajaran Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali menyambut baik presentasi teknologi konversi motor listrik EV-GO.
Antusiasme juga datang dari masyarakat Bali di media sosial. Salah satu komentar yang menarik perhatian datang dari akun Instagram @ammaraaalyyana pada unggahan resmi EV-READY Global.
“Sebagai orang Bali, seneng banget denger ini. Udah capek hirup knalpot tiap macet Sunset Road.”
Komentar tersebut mencerminkan keresahan masyarakat terhadap polusi udara dan kemacetan di sejumlah titik padat kendaraan di Bali, khususnya kawasan wisata seperti Sunset Road, Kuta, dan Seminyak yang selama ini dikenal memiliki kepadatan lalu lintas tinggi.
Masyarakat Bali juga menunjukkan antusiasme terhadap teknologi EV-GO dalam acara showcase dan sosialisasi program yang digelar di NEXX Cafe Bali.
Dalam keterangannya, Raine Renaldi menyebut bahwa percepatan konversi kendaraan listrik tidak cukup hanya dengan menyediakan motor listrik atau fasilitas konversi semata.
Infrastruktur energi publik menjadi elemen utama agar masyarakat dapat beralih ke kendaraan listrik secara masif.
“Untuk memenuhi kebutuhan 1 juta motor listrik di Bali, idealnya dibutuhkan sekitar 10 ribu titik stasiun penukaran baterai dengan asumsi penggunaan kendaraan setiap hari,” ujar Raine.
Ia menjelaskan bahwa konsep stasiun penukaran baterai (battery swapping) akan menjadi model utama yang dikembangkan EV-GO, karena dinilai lebih cepat, praktis, dan sesuai dengan karakter penggunaan sepeda motor di Indonesia.
Program ini juga melibatkan kolaborasi lintas industri. EV-GO bersama APSCI, Kadin, dan EV-READY Group disebut tengah menggandeng para pengusaha otomotif nasional serta pelaku usaha yang tertarik membangun bisnis infrastruktur energi baru berbasis battery swapping.
Raine menyebut konsep tersebut bahkan dipersiapkan sebagai “autopilot pengganti pom bensin” di masa depan, seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Menurutnya, pembangunan ekosistem kendaraan listrik membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari manufaktur, distributor, bengkel konversi, operator infrastruktur publik, hingga komunitas pengguna kendaraan listrik.
Selain itu, Raine mengungkapkan bahwa minat investor asing terhadap program EV-GO mulai bermunculan setelah Bali ditetapkan sebagai pilot project nasional konversi kendaraan listrik.
“Sudah ada beberapa pihak investor asing yang ingin ikut terlibat dalam program ini. Namun hingga saat ini kami masih membuka peluang ini terlebih dahulu untuk investor lokal,” jelasnya.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk memberikan kesempatan lebih besar kepada pengusaha nasional agar dapat menjadi bagian dari pertumbuhan industri kendaraan listrik Indonesia sejak tahap awal.
Bali sendiri dipandang sebagai lokasi strategis untuk memulai transformasi kendaraan listrik nasional. Selain memiliki visi energi bersih yang kuat, Bali juga merupakan destinasi wisata internasional yang sangat bergantung pada kualitas lingkungan dan udara bersih.
Jika target pembangunan infrastruktur dan konversi kendaraan berjalan sesuai rencana, Bali berpotensi menjadi salah satu wilayah dengan ekosistem kendaraan listrik roda dua terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan. (red)
