Bandung, -
Wajah kawasan Cicadas Kota Bandung, kini mulai berubah drastis. Trotoar yang selama puluhan tahun beralih fungsi menjadi tempat berdagang bagi ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL), akhirnya dikembalikan ke fungsi utamanya sebagai jalur pejalan kaki. Perubahan besar ini terjadi setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, turun langsung memimpin proses penataan dan penertiban di lokasi tersebut Rabu, 20 Mei 2026.
Langkah tegas yang diambil Dedi Mulyadi ini menjadi sorotan publik, apalagi di tengah perhatian masyarakat terhadap kinerja Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, dalam menangani persoalan tata kota yang rumit ini.
Keberadaan PKL di sepanjang jalur strategis Cicadas, memang sudah lama menjadi masalah yang tak kunjung selesai. Trotoar yang seharusnya aman bagi pejalan kaki justru tertutup sepenuhnya oleh kios - kios darurat, memaksa warga berjalan di badan jalan hingga berderetan parkir kendaraan roda dua maupun roda empat yang akhirnya memicu kemacetan parah dan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan.
Menurut Dedi Mulyadi, persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut lagi. Ia, hadir langsung ke lokasi bukan semata-mata untuk menertibkan, melainkan untuk memastikan bahwa hak publik atas ruang kota dapat dikembalikan, sekaligus mencari solusi terbaik bagi para pedagang yang sudah lama menggantungkan hidup di sana.
“Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi persoalan yang belum terselesaikan, karena itu. Saya datang ke sini untuk memastikan proses penataan berjalan baik, mengembalikan fungsi trotoar dan mengurai kemacetan yang selalu terjadi di sini. ” Ujar KDM dilokasi.
Yang menjadi sorotan utama dalam penataan kali ini, adalah pendekatan yang digunakan. Berbeda dengan penertiban di masa lalu yang kerap berujung pada ketegangan, kali ini proses dilakukan dengan sangat humanis. Sebelum tindakan pembongkaran dilakukan, tentunya Dedi lebih dulu duduk bersama berdiskusi dengan para pedagang maupun koordinator PKL Cicadas. Ia, mendengarkan aspirasi dan kendala yang mereka hadapi serta menjelaskan alasan di balik kebijakan ini demi kepentingan bersama.
Lebih dari sekadar mengosongkan lahan, bahwa Gubernur menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan nasib para pedagang terkatung-katung. Jaminan kelangsungan hidup para pelaku usaha kecil ini, menjadi perhatian utama.
“Pemerintah tidak lepas tangan, kami akan menyiapkan bantuan bagi mereka yang terdampak serta menyiapkan alternatif tempat usaha atau pekerjaan lain, agar mereka tetap bisa mencari nafkah setelah dipindahkan,” tegasnya.
Aksi nyata Dedi Mulyadi dilapangan ini pun memicu beragam tanggapan dari masyarakat luas, banyak warga yang mulai membandingkan gaya kepemimpinan Gubernur dan Wali Kota dalam menangani masalah perkotaan. Masyarakat berharap, kehadiran pemimpin yang turun langsung dan memberikan solusi konkret ini dapat menjadi contoh dan penataan di Cicadas tidak berhenti hanya sampai pada pembongkaran, melainkan berlanjut hingga tercipta perubahan nyata dan berkelanjutan bagi wajah Kota Bandung.
Selain untuk memulihkan ketertiban dan kenyamanan ruang publik, penataan kawasan Cicadas ini juga merupakan langkah strategis pemerintah provinsi dalam rangka persiapan pengembangan sistem transportasi massal BRT Bandung Raya. Nantinya, kawasan yang selama ini identik dengan kepadatan dan kemacetan diharapkan berubah menjadi wilayah yang tertib, lancar, aman dan ramah bagi pejalan kaki maupun pengguna transportasi umum.
Kini, trotoar Cicadas perlahan kembali bersih dan berfungsi sesuai peruntukannya. Sebuah hasil nyata dari keberanian mengambil keputusan dan kemampuan memimpin, mampu menyeimbangkan antara penegakan aturan dan kepedulian sosial. (B)
Editor Toni Mardiana.
