Jakarta,–
Seorang kepala negara, memegang peran sentral dalam menentukan arah bangsa dan nasib rakyat. Di tengah sistem demokrasi yang penuh dinamika, persaingan serta beragam tekanan kepentingan, bahwa Presiden Republik Indonesia dituntut memiliki karakter kepemimpinan yang kokoh, independen dan berkarakter. Hal ini, ditegaskan oleh Fredi Moses Ulemlem SH,. MH., dalam keterangannya di Jakarta, pada Senin (18/05/2026).
Menurut Fredi, tentunya Presiden Prabowo Subianto sebagai pemimpin tertinggi negara wajib menampilkan kualitas kepemimpinan yang tidak hanya berwibawa, tetapi juga memiliki pendirian yang tidak mudah goyah. Dalam lingkungan politik yang kompleks, presiden harus berdiri sebagai pusat pengambil keputusan strategis yang mengutamakan kepentingan negara di atas segalanya.
“Presiden harus memiliki pendirian sendiri, integritas dan keberanian politik agar tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan kelompok tertentu ataupun kepentingan sesaat,” ujar Fredi.
Sejarah panjang kepemimpinan Indonesia mencatat dengan jelas, karakter pribadi seorang presiden adalah faktor penentu utama arah kebijakan dan kualitas pemerintahan. Setiap pemimpin bangsa sejak masa kemerdekaan hingga kini, memiliki corak kepemimpinan yang khas, membawa dampak besar bagi jalannya pemerintahan dan kehidupan bernegara.
Presiden pertama Ir. Soekarno, dikenal luas sebagai figur dengan karakter yang kuat, karismatik dan visioner. Beliau mampu menjadi simbol persatuan bangsa sekaligus pengendali utama arah politik negara, meskipun pada fase tertentu gaya kepemimpinannya dinilai terlalu sentralistik. Berikutnya, era Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto menghadirkan model kepemimpinan yang tegas, disiplin dan sangat terkontrol. Stabilitas keamanan dan pembangunan menjadi ciri utama masa itu, meskipun pola kekuasaan yang terlalu terpusat juga memunculkan kritik terkait ruang kebebasan dan demokrasi yang terbatas.
Memasuki masa Reformasi, wajah kepemimpinan Indonesia berubah semakin dinamis. B.J. Habibie, tampil dengan karakter teknokratis dan sangat responsif terhadap perubahan zaman. Di tengah masa transisi yang penuh tekanan berat, beliau berani mengambil keputusan strategis yang mengubah wajah demokrasi Indonesia secara mendasar. Sebagai gantinya, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur dikenal sebagai pemimpin yang sangat independen, berani dan tidak mudah tunduk pada tekanan politik arus utama, meski gaya kepemimpinannya yang spontan dan tidak konvensional kerap memicu gesekan politik.
Megawati Soekarnoputri kemudian tampil membawa gaya kepemimpinan yang lebih tenang, hati - hati, dan berfokus pada stabilitas negara. Berikutnya Susilo Bambang Yudhoyono, menonjol dengan karakter yang komunikatif, terukur dan sangat berhati-hati dalam setiap langkah serta keputusan yang diambil. Di era pemerintahan Joko Widodo, karakter kepemimpinan lebih didominasi oleh sifat pragmatis dengan fokus kuat pada pembangunan fisik dan eksekusi kebijakan nyata, meski dalam perjalanannya muncul beragam persepsi publik terkait seberapa besar pengaruh elit politik terhadap arah kebijakan pemerintah.
Dari rentetan sejarah tersebut Fredi menilai, ada satu pelajaran penting yang tidak boleh dilupakan : seorang presiden, wajib memiliki otonomi politik dan arah kebijakan yang jelas. Karakter pribadi pemimpin, menjadi kunci keberhasilan pemerintahan.
“Sejarah menunjukkan, bahwa karakter presiden sangat menentukan. Pemimpin yang terlalu lemah, menghadapi tekanan politik akan kesulitan membangun kepercayaan publik. Sebaliknya, pemimpin yang terlalu tertutup dan tidak mau mendengar aspirasi juga bisa kehilangan keseimbangan demokrasi,” tegas Fredi.
Lebih lanjut Fredi menekankan, bahwa memiliki pendirian yang kuat bukan berarti menjadi pemimpin yang kaku atau otoriter. Pemimpin yang baik tetap harus membuka ruang bagi kritik, masukan dari para ahli, serta mendengarkan aspirasi masyarakat luas. Keseimbangan antara ketegasan dan keterbukaan adalah kuncinya.
“Mendengarkan, adalah bagian dari kebijaksanaan. Tetapi keputusan, akhir tetap harus lahir dari ketegasan dan kebijaksanaan kepemimpinan yang otentik, bukan karena didikte atau dikendalikan oleh pihak lain,” tambahnya.
Di tengah dinamika politik nasional yang terus bergerak saat ini, tentunya Fredi melihat adanya momentum besar bagi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun model kepemimpinan yang ideal : kuat, tegas namun tetap menghargai prinsip - prinsip demokrasi. Indonesia, kata Fredi sangat membutuhkan sosok pemimpin yang berani mengambil keputusan sulit, menjaga integritas tanpa cela dan selalu berpihak sepenuhnya pada kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok atau golongan mana pun.
“Indonesia membutuhkan presiden yang memiliki keberanian mengambil keputusan, menjaga integritas dan tetap berpihak pada kepentingan nasional,” pungkas Fredi Moses Ulemlem.
Narasumber Fredi Moses Ulemlem SH,. MH. (Pengamat Politik dan Hukum).
