Opini Publik
Senin, 17 Agustus 2026. Delapan puluh satu tahun silam, bahwa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tiap kali bulan Agustus hadir, ingatan kolektif bangsa ini kembali digiring ke gemerlap panggung perayaan. Namun tak jarang, masyarakat hanya diajak menjadi penonton pasif, menyaksikan upacara megah, deretan bendera merah putih dan mendengarkan pidato kenegaraan yang riuh, lalu kembali pulang tanpa benar - benar merasakan makna mendalam di balik segala kemeriahan itu.
Ketika gempita perayaan mereda, tersisa satu pertanyaan mendasar yang terus bergema setelah 81 tahun lepas dari belenggu penjajahan fisik, apakah kita sungguh - sungguh telah menjadi manusia yang merdeka seutuhnya ?
Pembahasan sering kali hanya berhenti pada angka statistik ketimpangan ekonomi, hukum yang terasa tebang pilih atau kesenjangan pembangunan antar wilayah. Hal - hal itu penting dan nyata adanya, namun jika hanya mendiagnosis gejala tanpa menyentuh akar persoalan secara filosofis dan nilai luhur, refleksi kita hanya akan berulang tanpa membawa perubahan hakiki.
Kemerdekaan sejati sesungguhnya, adalah pembebasan jiwa. Konsep ini bersumber dari firman Allah SWT., dalam Surat Az-Zariyat ayat 56 :
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.”
Ayat mulia ini, bukan sekadar seruan menjalankan ibadah ritual semata. Ia, adalah pernyataan kemerdekaan paling agung dalam peradaban, melahirkan semangat tauhid emansipatoris, kesetiaan mutlak hanya kepada Allah Yang Maha Esa, sekaligus membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan, keterbelakangan dan penghambaan kepada sesama manusia.
Tauhid sebagai Instrumen Pembebasan
Mengapa keyakinan bertauhid membebaskan ? Ketika seseorang mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah, ia secara otomatis melepaskan diri dari ketergantungan berlebihan, ketakutan buta atau penghambaan kepada kekuasaan sesama manusia, harta, jabatan maupun kedudukan. Tauhid meruntuhkan segala kesombongan yang menganggap diri lebih unggul dan berhak menguasai orang lain.
Surat Al-Hujurat ayat 13, menegaskan kesetaraan itu dengan gamblang :
“Wahai manusia ! Sungguh Kami, telah menciptakan kamu dari seorang laki - laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
Ayat ini meluruskan ukuran kemuliaan sejati, bukan dari keturunan terpandang, kekayaan melimpah, pangkat tinggi atau kekuasaan luas. Semua kedudukan itu sementara dan tidak membuat seseorang berhak merendahkan, menindas atau menjadikan orang lain sebagai alat kepentingan pribadi. Semua manusia berdiri sejajar, sebagai hamba Allah yang setara hak dan martabatnya.
Maka bertauhid bukan hanya urusan di dalam masjid atau di atas sajadah, ia menjadi pedoman hidup bermasyarakat, merdeka dari tunduk pada kekuasaan yang zalim, merdeka dari terikat mati pada harta dunia, merdeka dari mental diperintah demi kepentingan segelintir pihak.
Sayangnya, kekurangan yang kita rasakan hari ini justru lahir ketika prinsip luhur ini dilupakan. Penjajahan masa kini tidak lagi bersenjata tajam dan rantai besi, ia hadir dalam bentuk mental terikat kekayaan, pencitraan semata dan kekuasaan yang dijadikan sarana menindas sesama anak bangsa.
Pemimpin yang Selesai dengan Dirinya Sendiri
Pemahaman ini menjadi sangat penting bagi mereka yang diberi amanah memimpin, jabatan dan kekuasaan adalah ujian terberat sekaligus paling mulia. Ketika kesadaran bertauhid memudar, kekuasaan mudah berubah menjadi kesombongan, merasa berkuasa mutlak, seolah menjadi penguasa yang harus dituruti segala keinginan.
Berbeda halnya bagi pemimpin yang sadar sepenuhnya, bahwa dirinya hanyalah hamba Allah yang diberi tugas sementara. Ia paham benar, bahwa kekuasaan bukan miliknya untuk dimanfaatkan sendiri, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan secara rinci di hadapan Sang Pencipta. Kesadaran itulah yang menjadi benteng kuat, agar tidak tergelincir menjadi pemimpin yang korup, pilih kasih atau hanya mengejar popularitas sesaat.
Pemimpin bertauhid tidak akan menjadikan hukum sebagai alat melindungi kelompoknya, membagi kekayaan negara hanya untuk kerabat dan rekan dekat atau menindas rakyat kecil demi keuntungan pribadi. Sebaliknya, ia bekerja sungguh - sungguh, melampaui batas waktu biasa, demi mengangkat derajat rakyat yang masih tertinggal dan kesulitan hidup. Semangatnya bukan pujian atau kemasyhuran, melainkan keinginan kuat berbuat adil dan baik, karena takut melalaikan kewajiban di hadapan Allah SWT.
Ia berani berkata “tidak” pada tawaran yang merugikan rakyat, meskipun harus menghadapi tekanan keras. Karena rasa takut dan tunduknya hanya kepada Allah, maka rasa takut kehilangan jabatan atau tertekan kekuasaan lain menjadi hilang seketika.
Meruntuhkan Mentalitas Feodal Modern
Selain bagi pemimpin, semangat kemerdekaan sejati juga harus tumbuh subur di hati seluruh lapisan masyarakat. Bertauhid melatih kita melepaskan kebiasaan merendahkan diri berlebihan, memuji buta atau menyerahkan nasib hanya kepada kebaikan hati pejabat dan tokoh berkuasa.
Rakyat yang merdeka jiwanya tidak akan menjual hak suaranya demi uang sesaat yang cepat habis, tidak akan diam melihat ketidakadilan karena takut dipecat, disingkirkan atau tidak diberi bantuan. Ia yakin sepenuhnya bahwa rezeki, nasib dan martabat hidup diatur oleh Allah Yang Maha Kuasa, bukan semata-mata ditentukan oleh kekuasaan manusia atau kekayaan duniawi.
Delapan puluh satu tahun kemerdekaan Indonesia harus menjadi momen membersihkan jiwa bangsa, kita harus kembali memaknai kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajah asing, melainkan bebas dari sikap saling menghambakan diri, bebas diperbudak nafsu kekuasaan dan harta serta bersatu mengabdi bersama demi kebaikan bersama di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Tanpa kemerdekaan jiwa yang bersumber dari kesadaran luhur ini, kemerdekaan hanya akan menjadi pergantian wajah penguasa saja. Lepas dari penjajah asing, lalu tergantikan oleh kelompok elit yang serupa sikapnya, menginginkan rakyat tunduk patuh hanya demi melayani kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri.
Oleh : Edy Mulyadi (Wartawan Senior)
Editor TM.
