elitkita.com | Pemerintah Kota Bandung berupaya meningkatkan cakupan layanan air bersih bagi masyarakat. Saat ini, akses layanan air perpipaan di Kota Bandung baru mencapai sekitar 38 persen dari total kebutuhan warga. Senin, 29 Juni 2026.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, salah satu langkah strategis yang tengah ditempuh adalah melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan jaringan pipa air baku dari Waduk Saguling dan Cirata menuju Kota Bandung.
Menurut Farhan, proyek tersebut direncanakan mampu menyuplai air baku hingga 3.500 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Bandung.
"Kita sedang melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan pipa dari Saguling dan Cirata sebanyak 3.500 liter per detik ke Kota Bandung. Semua sudah siap, tapi sampai hari ini kami belum mendapatkan persetujuan dari Indonesia Power," ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Senin, 29 Juni 2026.
Ia menjelaskan, proses tersebut masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama terkait ketersediaan air pada musim kemarau. Menurutnya, ketika debit air di kawasan pembangkit berkurang, pasokan air untuk Kota Bandung pun berpotensi terganggu.
"Dalam keadaan musim kemarau, kalau air di Indonesia Power (Saguling) kurang, ya kita tidak bisa dapat air. Maka itu masih jadi pembicaraan secara teknis yang tidak mudah sama sekali," katanya.
Selain menambah pasokan air baku, Pemkot Bandung juga tengah melakukan inovasi melalui percobaan penyulingan atau filterisasi air Sungai Cikapundung. Air hasil pengolahan tersebut direncanakan dimanfaatkan untuk kebutuhan non-konsumsi.
"Air Sungai Cikapundung akan digunakan sebagai air bersih untuk kepentingan non-konsumsi, seperti untuk bersih-bersih, mandi, dan lain-lain," jelas Farhan.
Terkait target layanan air perpipaan, Farhan menuturkan pemerintah saat ini fokus meningkatkan cakupan dari 38 persen menjadi 40 persen. Menurutnya, peningkatan secara bertahap menjadi pilihan realistis mengingat keterbatasan sumber air baku di Kota Bandung.
"Kalau sekarang kita masih mengejar 40 persen dulu, dari 38 persen ke 40 persen. Kenapa tidak bisa langsung ke 100 persen? Karena sumber air baku di Kota Bandung sudah tidak ada. Kita membeli semuanya dari provinsi dan kabupaten," ungkapnya.
Di sisi lain, Pemkot Bandung juga terus berupaya menekan tingkat kebocoran jaringan air. Farhan menyebut, tingkat kehilangan air yang sebelumnya mencapai 40 persen kini berhasil ditekan menjadi 37 persen berkat kerja sama dengan sejumlah perusahaan serta dukungan dari Pemerintah Jepang. (B)***
Kepala Diskominfo Kota Bandung.
