Catatan Redaksi,-
Kabupaten Bandung Barat yang diharapkan mampu bangkit dan berkembang pesat, kini menjadi sorotan publik sejak dipimpin Jeje Ritchie Ismail mantan anggota grup band kondang yang terpilih sebagai Bupati pada tahun 2024 . Sejak awal menjabat, bermunculan berbagai suara, baik dari dukungan maupun kritikan tajam yang mewarnai media massa dan ruang publik.
Banyak kalangan mempertanyakan : Apakah latar belakang seniman bisa menjamin kemajuan daerah yang selama ini masih tertinggal di berbagai sektor ?, pertanyaan ini semakin menarik jika disikapi melalui sudut pandang psikologi, sehingga publik bisa melihat lebih dalam bagaimana pola pikir, keputusan dan gaya kepemimpinan Jeje Ritchie membentuk arah pembangunan Kabupaten Bandung Barat (KBB) ke depan.
Sebelum dipimpin Jeje Ritchie, KBB memang dikenal dengan berbagai tantangan lanjutan dari kepemimpinan sebelumnya : infrastruktur jalan yang sebagian besar masih perlu dibenahi, pelayanan publik yang belum maksimal serta angka kemiskinan dan pengangguran yang cukup tinggi. Masyarakat, sangat mendambakan sosok pemimpin yang berani mengambil langkah baru dan mengubah kondisi tersebut. Ketika sosok yang sudah dikenal luas dari dunia hiburan maju dan terpilih, harapan masyarakat melonjak tinggi. Karisma dan kemampuan berkomunikasi yang dimilikinya dianggap, sebagai modal awal untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat.
Namun setelah satu tahun lebih memimpin, realitas yang muncul masih beragam. Di satu sisi, pemerintah daerah mengklaim telah melakukan perbaikan jalan, meningkatkan cakupan jaminan kesehatan, pendidikan serta mutu pelayanan birokrasi dan menaikkan Indeks Pembangunan Manusia sebagai poin penting capaiannya. Di sisi lain, kritikan terus mengalir : reformasi birokrasi dianggap masih perlu dibenahi, jabatan penting masih kosong, dan inovasi pembangunan belum terasa nyata di kalangan masyarakat luas. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar dari berbagai kalangan, termasuk pengamat kebijakan publik dan sosial : Bagaimana pengaruh karakter dan pola pikir pemimpin terhadap arah kebijakan yang diambil ?
Sudut Pandang Psikolog : Gaya, Pola Pikir dan Jejak Kepemimpinan
Menurut Saeful Zaman S.Psi,. M.M., selaku pengamat Kebijakan Publik dan Sosial, latar belakang seseorang sangat memengaruhi cara ia melihat masalah dan mengambil keputusan.
“Orang yang berasal dari dunia seni dan hiburan biasanya memiliki karakter yang terbuka, mudah berkomunikasi dan pandai membangun hubungan dengan banyak orang. Ini adalah kelebihan besar dalam memimpin daerah yang beragam masyarakatnya seperti KBB, ” ujarnya. Namun di sisi lain, ada tantangan psikologis yang sering muncul ketika seseorang beralih dari dunia publik hiburan ke dunia pemerintahan.
Secara psikologis, bahwa Jeje Ritchie memiliki keunggulan pada dimensi keterbukaan dan sifat mudah bergaul, hal yang sangat dibutuhkan untuk menyatukan masyarakat dan membangun hubungan dengan berbagai pihak. Ia mudah dikenali dan didengar, sehingga pesan pembangunan lebih cepat tersebar. Apabila berupaya mengendalikan cara kerja dan pola pikir tersebut disertai dukungan elemen lain, potensi ini bisa menjadi kekuatan besar bagi kemajuan daerah.
“Dunia Seni dan Pemerintahan memiliki logika yang sangat berbeda, di dunia hiburan, hasil yang dicari biasanya yang terlihat, terasa dan langsung mendapat tanggapan berupa pujian atau ketenaran. Sedangkan pemerintahan bekerja dengan sistem, aturan, proses panjang dan hasilnya seringkali baru terasa dalam waktu lama. Ada risiko pemimpin ingin ‘hasil instan’ seperti saat berada di panggung, sehingga melupakan fondasi yang penting untuk kemajuan jangka panjang, ” jelas Saeful.
Menarik dicatat Jeje Ritchie, sempat menempuh pendidikan program D3 Hubungan Masyarakat di Universitas Padjadjaran, namun tidak diselesaikan. Ia, kemudian menuntaskan studi S1 Ilmu Pemerintahan di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) dan resmi diwisuda pada 15 April 2026, di sela - sela kesibukannya sebagai Kepala Daerah. Langkah ini, membuktikan adanya upaya menyesuaikan kepribadian dan cara berpikirnya, berusaha beradaptasi serta mengejar prestasi dengan berpegang pada dasar ilmu pemerintahan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa penilaian terhadap kinerjanya masih jauh dibandingkan mereka yang memiliki pengalaman panjang di bidang tersebut.
Akibat perbedaan logika dan proses belajar ini, banyak kebijakan yang diambil akhirnya hanya bersifat permukaan atau sekadar untuk pencitraan, bukan berangkat dari analisis kebutuhan yang mendalam dan terukur.
Selain itu, dari sisi psikologis juga terlihat adanya potensi kesulitan dalam memahami kompleksitas pemerintahan. “Dunia hiburan lebih banyak berfokus pada hasil yang terlihat dan pengaruh emosional, sedangkan pemerintahan membutuhkan pemikiran terstruktur, analisis mendalam dan kesabaran untuk membangun fondasi jangka panjang. Ada risiko yang disebut ‘ilusi kompetensi’, yaitu merasa mampu menangani semua masalah hanya karena sudah sukses di bidang sebelumnya,” tambahnya.
Konsep ini, menjelaskan mengapa perubahan mendasar di sektor birokrasi dan tata kelola belum terasa. Bukan semata karena kurangnya kemampuan, melainkan karena pola pikir yang masih lebih terbiasa dengan langkah cepat dan dampak langsung, dibandingkan proses panjang yang tidak selalu langsung menuai pujian publik.
Satu hal penting lain dalam psikologi kepemimpinan, adalah cara menanggapi masukan dan kritikan. Sepanjang memimpin Jeje Ritchie beberapa kali terlihat bertahan menghadapi kritik, namun dalam pelaksanaannya masih ada kesan bahwa masukan yang bertentangan jarang dijadikan dasar perbaikan.
“Pemimpin yang memiliki kebutuhan tinggi akan pengakuan sosial, seringkali menganggap kritikan sebagai serangan pribadi, bukan masukan konstruktif. Ini berisiko membuat ia hanya mendengar suara yang mendukung, lalu terjebak dalam ‘ruang gema’—hanya mendengar apa yang ingin didengar,” lanjut Saeful.
Kondisi ini berbahaya, karena bisa menghambat perbaikan berkelanjutan dan membuat kebijakan tidak selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Secara psikologis, masyarakat KBB pun mengalami perubahan pola harapan. Awalnya antusiasme sangat tinggi, karena sosok pemimpin yang dikenal dekat dan mudah dihubungi. Namun ketika kemajuan tidak secepat yang dibayangkan, muncul rasa kecewa dan ketidakpercayaan.
“Ini fenomena psikologis yang wajar : Harapan tinggi yang tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan yang jauh lebih besar, dibandingkan jika harapan dari awal sudah disusun secara realistis,” imbuhnya.
Meski begitu, jejak rekam kepemimpinan ini belum selesai. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, memperdalam pemahaman sistem pemerintahan dan menyesuaikan gaya kepemimpinan agar lebih pas dengan kebutuhan daerah. “Yang terpenting, adalah kesadaran diri untuk terus berkembang, mau belajar dan tidak hanya mengejar pengakuan semata,” tutup Saeful.
Bagi masyarakat KBB, ini menjadi pelajaran berharga, kemajuan daerah tidak hanya bergantung pada sosok pemimpin yang populer atau karismatik, melainkan juga pada kemampuan pemimpin tersebut untuk beradaptasi, mendengar, berpikir terstruktur dan bekerja demi kepentingan jangka panjang bersama.
Editor Toni Mardiana S. Ikom
Narasumber : Saeful Zaman S.Psi., M.M. (Pengamat Kebijakan Publik dan Sosial)
