Di tengah upaya pemerintah mempercepat pembangunan desa dan pemerataan ekonomi nasional, penguatan ketahanan ekonomi pedesaan dinilai menjadi salah satu kunci menghadapi tantangan ketimpangan wilayah, urbanisasi, hingga tekanan ekonomi global.
Desa tidak lagi dipandang hanya sebagai wilayah pendukung, tetapi sebagai fondasi penting dalam menciptakan pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam Visiting Lecturer Program 2026 yang diselenggarakan oleh Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, University of Brawijaya.
Dalam forum akademik tersebut, Guru Besar UIN Jakarta Prof Achmad Tjachja Nugraha hadir sebagai narasumber utama dengan mengangkat tema “Social Capital and Rural Economic Resilience: Planning Strategies for Poverty Reduction (Modal Sosial dan Ketahanan Ekonomi Pedesaan: Strategi Perencanaan untuk Pengentasan Kemiskinan)”
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya modal sosial sebagai strategi memperkuat pembangunan desa dan mengurangi kesenjangan antara desa dan kota.
Menurut Prof. Achmad yang juga sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi - Agribisnis Indonesia (KASAI), pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari kondisi desa sebagai fondasi utama kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.
“Hingga saat ini masih terdapat kesenjangan cukup besar antara desa dan kota, baik dari sisi infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, maupun akses terhadap peluang ekonomi,” ujarnya dalam pemaparannya, Kamis (7/5) malam.
Ia menjelaskan bahwa desa sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi berbagai persoalan mendasar seperti tingginya angka kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, rendahnya kualitas SDM, serta ketergantungan pada sektor primer seperti pertanian dan sumber daya alam.
Selain itu, urbanisasi yang terus meningkat juga menjadi tantangan serius bagi pembangunan pedesaan.
Banyak tenaga kerja produktif berpindah ke kota untuk mencari peluang ekonomi yang lebih baik sehingga desa kehilangan sebagian potensi sumber daya manusianya.
Dalam paparannya, Prof. Achmad menekankan bahwa modal sosial merupakan salah satu kekuatan utama masyarakat desa.
Modal sosial mencakup nilai kepercayaan, gotong royong, solidaritas, partisipasi masyarakat, hingga kemampuan membangun kolaborasi sosial.
“Modal sosial bukan hanya hubungan antarwarga, tetapi menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa,” katanya.
Menurutnya, budaya gotong royong dan solidaritas sosial yang masih kuat di desa dapat menjadi kekuatan besar dalam menghadapi tekanan ekonomi sekaligus mempercepat pembangunan berbasis komunitas.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan desa yang berbasis partisipasi masyarakat.
Menurutnya, proses pembangunan harus melibatkan masyarakat secara aktif melalui musyawarah desa dan penguatan kelembagaan lokal seperti BUMDes, koperasi, dan kelompok tani.
Selain itu, sebagai tokoh Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Prof. Achmad menilai pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing desa dan hasil pertanian terutama para petani
Pendidikan, pelatihan keterampilan, literasi digital, serta literasi keuangan dinilai harus menjadi prioritas pengembangkan pertanian dalam pembangunan pedesaan.
“Desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi subjek utama dalam penggerak ekonomi nasional,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Gunawan Prayitno, Ph.D., hadir sebagai Visiting Lecturer Partner, sementara jalannya diskusi dipandu oleh Fajar Fadhilatun Nisak, M.Si., dari Department of Urban and Regional Planning, Universitas Brawijaya.
Dalam pemaparannya, Prof. Gunawan menegaskan bahwa transformasi digital di wilayah pedesaan memiliki peran strategis dalam membuka akses pasar yang lebih luas, memperkuat ekonomi lokal, serta meningkatkan efektivitas pelayanan publik bagi masyarakat desa.
Melalui forum akademik ini, diharapkan lahir berbagai gagasan, inovasi, dan kolaborasi baru untuk memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan berbasis modal sosial demi mendukung pembangunan Indonesia yang lebih merata, tangguh, dan berkelanjutan.
