Manado,-
Indonesia sedang menuju salah satu momentum terpenting dalam sejarah pembangunan bangsa, yakni bonus demografi 2030. Pada fase ini, jumlah penduduk usia produktif diproyeksikan jauh lebih besar dibanding usia nonproduktif. Dalam teori pembangunan, kondisi tersebut dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, percepatan inovasi dan kekuatan geopolitik baru. Namun dalam praktiknya, bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Tanpa kesiapan negara dalam membangun kualitas manusia, ia justru dapat berubah menjadi krisis sosial berskala nasional.
Fredi Moses Ulemlem salah satu ketua KNPI pada kamis, 7/5/2026. Menilai negara hingga kini masih belum memiliki desain besar pembangunan pemuda yang terukur, berkelanjutan dan berpihak pada masa depan generasi muda. Menurutnya, pendekatan negara terhadap pemuda masih terlalu administratif dan belum menyentuh akar persoalan.
“Pemuda jangan hanya dipahami sebagai kategori usia dalam undang - undang, tetapi sebagai kekuatan strategis bangsa. Kalau negara gagal membangun manusianya, bonus demografi bukan menjadi berkah, melainkan ancaman, ” ujarnya.
Ia, menyoroti bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi belum berhasil mengubah kekayaan tersebut menjadi kualitas hidup yang baik bagi generasi mudanya. Di tengah proyek - proyek pembangunan besar dan pertumbuhan ekonomi yang terus dipromosikan, masih banyak anak muda menghadapi pengangguran, ketidakpastian kerja hingga keterasingan sosial.
Fenomena meningkatnya pekerja muda informal, minimnya lapangan kerja berkualitas dan tingginya angka pengangguran usia produktif menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menghadirkan keadilan sosial bagi generasi muda.
Menurut Fredi, persoalan tersebut diperparah oleh sistem pendidikan yang belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan zaman. Dunia pendidikan dinilai masih terlalu fokus pada pencapaian administratif dan gelar akademik, sementara keterampilan praktis, kreativitas, kepemimpinan serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan global belum menjadi prioritas utama.
“Pendidikan kita masih terlalu sibuk mencetak ijazah, tetapi belum maksimal mencetak kemampuan hidup. Akibatnya, banyak anak muda mengalami kebingungan masa depan meskipun memiliki gelar pendidikan. ” Katanya.
Ia juga mengkritik sistem politik yang dinilai belum memberikan ruang meritokrasi yang sehat bagi generasi muda, anak muda sering kali hanya dilibatkan sebagai alat mobilisasi politik menjelang pemilu tetapi minim akses dalam pengambilan keputusan strategis.
“Demokrasi tidak boleh hanya menjadikan pemuda sebagai pasar suara, anak muda harus diberi ruang menjadi penggerak gagasan, pelaku perubahan dan bagian penting dalam menentukan arah bangsa,” tegasnya.
Selain itu lanjut Fredi, menilai negara terlambat merespons ancaman sosial baru yang kini banyak menyasar generasi muda, seperti judi online, narkoba, pornografi digital, kekerasan jalanan hingga krisis kesehatan mental. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat hanya dilihat sebagai kesalahan moral individu, melainkan juga akibat lemahnya ekosistem sosial, ekonomi dan pendidikan yang gagal memberi harapan hidup yang sehat bagi anak muda.
Ia mengingatkan, bahwa meningkatnya angka kriminalitas remaja, tawuran, depresi, kecemasan sosial hingga ketidakpercayaan generasi muda terhadap institusi publik merupakan alarm serius yang tidak boleh disepelekan.
“Ketika anak muda kehilangan harapan, maka negara sedang kehilangan masa depannya sendiri,” ujarnya.
Fredi, menegaskan bahwa pembangunan pemuda tidak cukup dilakukan melalui seremoni, slogan motivasi atau program jangka pendek. Negara perlu menghadirkan kebijakan besar yang konkret dan berkelanjutan, mulai dari reformasi pendidikan berbasis keterampilan, perluasan lapangan kerja produktif, dukungan terhadap kewirausahaan muda, akses politik yang sehat, hingga layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara negara, dunia pendidikan, keluarga, masyarakat sipil dan sektor usaha dalam membangun generasi muda yang tangguh.
“Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila negara serius membangun kualitas manusianya, tetapi jika pemuda terus diabaikan, maka Indonesia bukan sedang menunggu puncak kejayaan, melainkan sedang menyiapkan krisis sosial di masa depan,” pungkasnya. (Redaksi)
Sumber : Fredi Moses Ulemlem SH.

