Narasi, -
Senja turun perlahan di sebuah serambi rumah sederhana di Jawa Barat, angin membawa bau tanah yang masih basah setelah hujan sore. Di teras itu, sepasang suami istri duduk berhadapan.
Seorang ibu muda memegang ponsel di tangannya, wajahnya tampak muram.
“Pak, saya baru membaca berita ini,” katanya pelan.
“Berita apa ?, tanya suami yang ada di depannya.
Ibu itu menarik napas panjang, ia kemudian membaca keras - keras dari layar ponselnya.
“Sepanjang 2025, kekerasan seksual terhadap perempuan tercatat 22.848 kasus. Kekerasan psikis 15.727 kasus, kekerasan fisik 14.126 kasus. Kekerasan ekonomi 5.942 kasus. Dan Jawa Barat, menjadi provinsi dengan angka tertinggi, yaitu 63.001 kasus.”
Ia, menatap suaminya. “Angkanya besar sekali. Pak.”
Lelaki itu, mengangguk pelan.
“Data itu disampaikan oleh Wakil Ketua Komnas Perempuan, saat peluncuran Catatan Tahunan 2025,” lanjut sang ibu. “Beritanya saya baca, di salah satu media online pada 6 Maret 2026.”
Lelaki itu, terdiam beberapa saat.
“Angka itu bukan sekadar angka,” katanya kemudian. “Dibaliknya, ada banyak cerita yang tidak pernah sampai ke media.”
Istrinya menunduk “Kadang saya berpikir, pak,” ujarnya pelan. “Mengapa perempuan masih sering merasa tidak aman ?”
Lelaki itu, menatap langit yang mulai gelap.
“Kita hidup di zaman yang serba terbuka,” katanya perlahan.
“Pergaulan luas, informasi cepat, ruang publik semakin ramai.”
Ia, berhenti sejenak. “Namun kadang kita lupa membangun pagar nilai.”
Ibu itu mengangguk “Apakah ini berarti hukum tidak cukup ?, tanyanya".
“Hukum penting,” jawab lelaki itu. “Negara tentu terus berusaha memperbaiki perlindungan, tetapi masyarakat juga membutuhkan fondasi nilai yang kuat.”
Ia, mengambil secangkir teh hangat di meja. “Ketika masyarakat mulai longgar memandang batas pergaulan, sebagian orang kehilangan arah. Akhirnya, ruang publik tidak selalu terasa aman bagi perempuan.”
Ibu itu, memandang jauh ke jalan yang mulai sepi.
“Berarti masalahnya bukan hanya aturan,” katanya.
“Benar,” jawab lelaki itu. “Masalahnya juga pada cara pandang.”
“Kadang saya melihat iklan di televisi,” kata sang ibu lagi. “Perempuan sering ditampilkan hanya sebagai daya tarik.”
Lelaki itu mengangguk. “Budaya populer memang memiliki pengaruh besar,” katanya. “Jika citra perempuan terus diposisikan hanya sebagai objek visual, sebagian orang akan kehilangan sensitivitas.”
Ia, melanjutkan dengan suara tenang. “Lalu muncullah pelecehan. Kadang di jalan, kadang di tempat kerja, kadang bahkan di ruang digital.”
Ibu itu, menghela napas panjang. “Padahal, perempuan hanya ingin hidup dengan tenang.”
“Benar,” jawab lelaki itu.
“Perempuan tidak mencari perhatian, mereka hanya ingin dihormati.”
Ia, kemudian menatap ibu muda itu dengan serius. “Karena itu, kita perlu kembali mengingat nilai dasar yang memuliakan manusia.”
Pelajaran dari Ajaran Islam
Angin malam mulai bertiup lembut, suasana serambi terasa lebih tenang.
Lelaki itu berkata pelan, seolah mengingat sesuatu yang sangat lama.
“Dalam Islam, kehormatan manusia dijaga sejak awal.” Ia, kemudian mengutip ayat Al-Qur’an. “Allah berfirman, 'Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.' (QS. Al-Isra: 70).”
Ia menatap ibu itu, “Artinya, perempuan tidak boleh diperlakukan sebagai objek. Mereka, adalah manusia yang dimuliakan.”
Ibu itu, mendengarkan dengan khusyuk. “Lalu bagaimana Islam menjaga itu, pak?”
Lelaki itu menjawab dengan tenang, “Islam membangun dua lapis perlindungan. Pertama pencegahan, kedua penegakan hukum.”
Ia, lalu membaca ayat lain. 'Katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menahan pandangannya, menjaga kemaluannya dan tidak menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.' (QS. An-Nur: 31).
“Ini bukan pembatasan,” katanya. “Ini perlindungan.”
“Lalu bagaimana jika ada yang melanggar?” tanya istrinya.
Lelaki itu menjawab dengan suara tegas, namun tetap tenang. “Islam juga menetapkan sanksi, agar kehormatan manusia tidak diremehkan.”
Ia, mengutip sabda Rasulullah Saw., 'Ambillah dariku. Allah telah memberi jalan bagi mereka, bagi pezina yang belum menikah seratus cambukan dan pengasingan selama satu tahun.' (HR. Muslim).
Ibu itu tampak berpikir, “Jadi sistem ini tidak hanya menindak, tetapi juga mencegah,” katanya.
“Betul,” jawab lelaki itu.
Ia, lalu menambahkan sebuah kisah sejarah. “Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau sering berkeliling pada malam hari untuk memastikan rakyat hidup aman. Bahkan, perempuan yang berjalan sendiri pun harus merasa aman di jalan.”
Ibu itu tersenyum kecil, “Berarti pemimpin saat itu sangat memperhatikan keamanan masyarakat.”
“Ya,” kata lelaki itu. “Karena keamanan adalah tanggung jawab bersama.”
Malam semakin larut, lampu - lampu rumah mulai menyala.
Ibu muda itu menatap layar ponselnya, sekali lagi. “Angka 63 ribu kasus di Jawa Barat itu terasa berat sekali,” katanya.
Lelaki itu mengangguk pelan “Namun setiap angka selalu membawa pesan,” katanya.
“Pesan apa?”
“Bahwa masyarakat selalu perlu belajar,” jawabnya.
Ia, melanjutkan dengan suara lembut. “Negara tentu terus berupaya memperbaiki perlindungan, kebijakan selalu berkembang. Tetapi, masyarakat juga perlu memperkuat nilai yang menjaga kehormatan manusia.”
Ibu itu tersenyum tipis, “Berarti solusi tidak cukup hanya di meja kebijakan.”
“Benar,” kata lelaki itu.
Ia, memandang langit yang kini penuh bintang. “Solusi juga lahir dari kesadaran, bahwa perempuan adalah amanah yang harus dimuliakan.”
Serambi rumah kembali sunyi, namun percakapan malam itu meninggalkan satu kesadaran sederhana. Di balik angka - angka yang tercatat dalam laporan tahunan, ada harapan besar agar ruang kehidupan menjadi lebih aman. Bukan hanya karena aturan, tetapi juga karena nilai yang menjaga martabat manusia.
Oleh : Ummu Fahhala S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
