elitkita.com // Kuliah Umum di AAL, Prof. Achmad Tjachja: Perwira TNI AL Harus Kuat Karakter, Bukan Sekadar Disiplin
Pentingnya integrasi pendidikan dalam membentuk perwira TNI Angkatan Laut (TNI AL) yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kuat secara karakter, menjadi sorotan dalam kuliah umum di Akademi TNI Angkatan Laut (AAL).
Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, dalam kegiatan Kuliah Umum Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha yang digelar pada Senin, 27 April 2026, di Kampus AAL, Surabaya.
Akademi TNI Angkatan Laut menghadirkan Prof. Achmad sebagai narasumber utama dalam kuliah bertajuk “Membangun Perwira TNI AL yang Berkarakter melalui Integrasi Pendidikan AAL.”
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses membentuk manusia secara utuh.
“Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi bagaimana membentuk karakter, sikap, dan tanggung jawab seseorang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya di Kampus AAL.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan harus menjadi perpaduan antara ilmu dan karakter. Keberhasilan pendidikan, menurutnya, tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari integritas dan kepribadian individu.
“Pendidikan adalah integrasi antara ilmu dan karakter. Hasil akhirnya adalah manusia yang cerdas, berkarakter, dan memiliki makna dalam hidupnya,” jelasnya.
Prof. Achmad juga mengacu pada empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, yakni learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Keempat pilar ini dinilai relevan dalam membentuk perwira yang tidak hanya profesional, tetapi juga mampu hidup dan bekerja dalam kebersamaan.
Dalam konteks pendidikan di AAL, ia menyebut bahwa sistem yang diterapkan telah dirancang untuk menghasilkan prajurit yang disiplin, tangguh, dan profesional melalui tiga aspek utama, yaitu sikap dan perilaku, akademik, serta jasmani.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya potensi risiko dalam sistem pendidikan berbasis disiplin tinggi jika tidak dikelola dengan baik.
“Senioritas yang berlebihan, tekanan yang tidak terkontrol, hingga penyimpangan berupa kekerasan harus menjadi perhatian serius. Pembinaan harus tetap berada dalam koridor pendidikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan sosial dalam proses pembinaan, khususnya terkait potensi kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan.
“Kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik, verbal, sosial, maupun digital, adalah penyimpangan dari tujuan pendidikan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa faktor seperti budaya senioritas, tradisi yang keliru, serta kurangnya empati menjadi pemicu utama munculnya tindakan tersebut.
Dampak kekerasan, lanjutnya, tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental, prestasi akademik, hingga kehidupan sosial korban.
“Kekerasan bukan bagian dari pendidikan. Justru itu merusak tujuan pendidikan itu sendiri,” tegasnya.
Dalam penutupnya, Prof. Achmad menekankan bahwa pendidikan yang ideal harus mampu menyeimbangkan antara ketegasan dan nilai kemanusiaan.
“Disiplin dan ketegasan tetap penting, tetapi harus dijalankan dalam koridor yang mendidik, bukan menekan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keteladanan.
“Kepemimpinan dibangun melalui keteladanan dan interaksi nyata. Keteladanan adalah bagian dari pendidikan itu sendiri,” pungkasnya.
Kuliah umum ini menjadi pengingat bahwa masa depan TNI AL tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik dan strategi, tetapi juga oleh kualitas karakter para perwiranya. Dan melihat saat ini maka TNI AL dapat menjadi bagian terdepan dalam profesonalisme dan karakter mulia



