BANDUNG,-
Memasuki bulan Agustus, semangat nasionalisme kembali menjadi sorotan utama di tengah masyarakat. Momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 ini, tidak semestinya hanya dimaknai melalui pengibaran bendera Merah Putih, berbagai perlombaan tradisional maupun seremoni tahunan yang berulang setiap tahun. Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk merefleksikan kembali makna kebangsaan yang sesungguhnya serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tokoh pemuda Kota Bandung sekaligus praktisi kepemudaan dan kebangsaan Sony Teguh Prasetya, S.Sos,. M.M., menilai nasionalisme sejatinya tidak cukup hanya diucapkan atau ditampilkan dalam bentuk simbol semata, melainkan harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata setiap warga negara.
Menurut Sony, kecintaan terhadap Indonesia tidak cukup hanya disampaikan melalui slogan - slogan indah atau ucapan lisan yang berapi-api. Lebih dari itu, nasionalisme harus tercermin dalam sikap jujur dalam berkehidupan, kepedulian tulus terhadap sesama, menjaga persatuan di tengah keberagaman serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar dan kemajuan bangsa.
“Nasionalisme bukanlah seberapa keras kita mengucapkan ‘Saya cinta Indonesia’, tetapi seberapa besar kita menjaga Indonesia melalui kejujuran, kepedulian, persatuan dan pengabdian dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Sony saat ditemui di Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026).
Lebih lanjut ia sampaikan, bahwa Indonesia tidak membutuhkan jutaan orang yang harus tampil sebagai pahlawan besar dalam waktu bersamaan. Menurutnya, bangsa ini justru sangat membutuhkan jutaan warga negara yang mampu menjalankan tanggung jawabnya masing - masing dengan sebaik-baiknya, sesuai peran dan kemampuan yang dimiliki.
“Bangsa ini tidak membutuhkan jutaan pahlawan yang muncul sekaligus, bangsa ini membutuhkan jutaan warga negara yang setiap hari melakukan hal - hal kecil dengan penuh tanggung jawab. Dari situlah Indonesia akan tetap berdiri kokoh dan maju,” ujarnya dengan tegas.
Momentum Memperkuat Persatuan di Tengah Dinamika
Bulan Agustus memiliki makna yang sangat khusus bagi segenap masyarakat Indonesia, di tengah berbagai dinamika sosial, politik hingga ekonomi yang terus berkembang belakangan ini, momentum kemerdekaan dapat menjadi ruang bersama untuk kembali memperkuat persatuan serta mengingat kembali bahwa keberagaman suku, budaya, bahasa dan agama justru merupakan kekuatan dan identitas asli bangsa Indonesia.
Sony menekankan, generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis dan menentukan dalam menjaga serta meneruskan semangat kebangsaan tersebut. Nasionalisme, kata dia, tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk tindakan besar atau pengorbanan yang luar biasa.
Tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, menghormati perbedaan pendapat dan latar belakang, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya atau berita bohong, membantu masyarakat yang sedang kesulitan hingga menjalankan pekerjaan dan tugas masing - masing dengan penuh tanggung jawab juga merupakan bagian dari pengabdian yang nyata kepada bangsa.
“Kalau setiap orang mau melakukan hal - hal kecil dengan benar, jujur dan bertanggung jawab, dampak yang dihasilkan akan menjadi sesuatu yang sangat besar dan berharga bagi kemajuan Indonesia,” ungkapnya.
Nasionalisme, Adalah Fondasi Kedaulatan Bangsa
Sementara itu, Pengamat Politik dan Sosial Universitas Padjadjaran Dr. Aep Saepudin M.Si., memberikan pandangan terkait pentingnya membangun kembali semangat nasionalisme yang nyata di tengah masyarakat, khususnya pada momentum bulan kemerdekaan ini.
“Nasionalisme adalah fondasi utama yang menjaga kedaulatan dan keutuhan negara. Tanpa rasa cinta dan tanggung jawab yang nyata dari setiap warga, bangsa ini akan mudah tergoyahkan oleh kepentingan kelompok asing maupun perselisihan internal sendiri, ” ujar Dr. Aep.
Menurutnya, tantangan terbang saat ini adalah mengubah pola pikir masyarakat yang masih memandang nasionalisme hanya sebagai kewajiban saat hari besar kenegaraan saja. Padahal, menjaga nama baik bangsa, mematuhi aturan hukum serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan adalah bukti cinta tanah air yang paling mendasar.
Nasionalisme Bukan Sekadar Seremonial
Peringatan kemerdekaan kali ini, diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial yang selesai begitu saja setelah bendera diturunkan. Semangat kebersamaan, gotong royong dan tanggung jawab yang dibangun selama bulan Agustus perlu diteruskan dan dipertahankan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, bahkan setelah perayaan kemerdekaan berakhir.
Pesan ini menjadi sangat relevan bagi generasi muda Kota Bandung dan seluruh Indonesia untuk menjadikan nasionalisme, sebagai karakter dan kebiasaan hidup, bukan sekadar jargon atau kata - kata yang diucapkan di momen tertentu saja.
Sebab, menjaga dan memajukan Indonesia bukan hanya tugas pemerintah atau mereka yang disebut sebagai pahlawan semata. Menjaga Indonesia, adalah tanggung jawab bersama, melalui tindakan nyata sekecil apa pun kontribusinya.
Dengan demikian, semangat kemerdekaan bukan hanya dikenang dan dirayakan setiap bulan Agustus, tetapi dapat hadir dan mewarnai perilaku masyarakat sepanjang tahun, demi mewujudkan Indonesia yang adil, makmur dan berdaulat. (B)
Editor Toni Mardiana.
