
Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa
(Pegiat Literasi di Majalengka)
elitKITA.com // Senjata selalu memiliki kaitan erat dengan perlawanan. Lalu, bagaimana jika sebuah kelompok diminta melepaskan senjatanya dengan iming-iming jaminan keamanan, sementara pihak yang memberikan jaminan justru selama ini berdiri di belakang penjajah? Inilah pertanyaan besar yang muncul dalam situasi Palestina hari ini.
Ketika hak untuk mempertahankan diri diminta untuk dilepaskan, sementara kemerdekaan Palestina belum juga terwujud, tentu wajar jika muncul rasa khawatir. Sebab, perdamaian tidak cukup hanya dengan menghentikan senjata dari satu pihak. Perdamaian semestinya juga memastikan bahwa penjajahan dan kekerasan tidak terus berlangsung. Lantas, masihkah umat dapat menaruh kepercayaan pada jaminan keamanan yang datang dari pihak yang selama ini memasok senjata kepada Israel?
Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa Dewan Perdamaian telah mencapai apa yang disebutnya sebagai kesepakatan bersejarah berupa pelucutan senjata secara menyeluruh terhadap Hamas dan seluruh kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Menurutnya, langkah tersebut diharapkan menjadi jalan menuju perdamaian yang lebih kokoh dan keamanan yang berkelanjutan di kawasan tersebut. (detik.com, 31/7/2026)
Tawaran Damai dan Syarat yang Menyertainya
Dua puluh usulan Trump untuk Gaza pada dasarnya mencakup sejumlah agenda utama. Salah satunya adalah pelucutan senjata Hamas dan berbagai faksi bersenjata lainnya sekaligus mengakhiri keterlibatan mereka dalam pemerintahan Gaza. Sebagai gantinya, ditawarkan gencatan senjata yang disertai penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza berdasarkan garis yang telah disepakati.
Usulan tersebut juga mencakup pembebasan seluruh sandera Israel dan ribuan tahanan Palestina, pengiriman bantuan kemanusiaan, serta pembangunan kembali Gaza dan pemulihan ekonominya. Selama masa transisi, Gaza direncanakan dikelola oleh komite teknokrat nonpartisan dengan dukungan International Stabilization Force (ISF) atau Pasukan Stabilisasi Internasional hingga terbentuk pemerintahan yang dianggap lebih stabil.
Sekilas, tawaran tersebut memang tampak seperti sebuah jalan menuju perdamaian. Namun, persoalannya bukan sekadar apa yang ditawarkan. Kita juga perlu melihat siapa yang menyusun agenda tersebut, siapa yang memberikan jaminan, dan kepentingan apa yang berada di baliknya.
Ketika Pelucutan Menjadi Alat Pelemahan
Pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya tidak dapat dilepaskan dari upaya melemahkan perjuangan rakyat Gaza. Amerika Serikat dan Israel melalui Board of Peace (BoP) sedang membangun sebuah skema yang menjadikan pelucutan senjata sebagai bagian dari strategi politik mereka. Ketika faksi-faksi bersenjata diminta melepaskan senjata, sementara Israel masih memiliki kekuatan militer dan terus melakukan serangan, posisi Palestina justru semakin rentan.
Bergabungnya berbagai negara dalam BoP pun patut dikritisi. Jangan sampai keterlibatan tersebut justru membuat Palestina semakin bergantung kepada kekuatan asing, sementara rakyatnya sendiri kehilangan ruang untuk menentukan masa depannya.
Sebab, perdamaian tidak akan lahir hanya karena senjata satu pihak telah dilucuti. Selama agresi dan penjajahan masih berlangsung, akar persoalan Palestina belum benar-benar diselesaikan.
Faktanya, meskipun terdapat kesepakatan mengenai pelucutan senjata, serangan Israel masih terus terjadi. Pada 1–2 Agustus, serangan dilaporkan terjadi di Kota Gaza, Deir el-Balah, Khan Younis, serta sejumlah permukiman dan tenda pengungsi dan sedikitnya menewaskan delapan orang. Dua gudang obat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, sebuah klinik, dan puluhan tenda juga dilaporkan hancur akibat serangan rudal. Israel menyebut serangan tersebut menyasar gudang senjata tersembunyi milik Hamas. Namun, pihak rumah sakit membantah tuduhan tersebut.
Di tengah kondisi itu, pembangunan “New Gaza” juga terus berjalan dengan narasi penyelamatan dan pemulihan rakyat Palestina. Namun, narasi tersebut justru perlu dicurigai. Jangan sampai pembangunan yang dibungkus dengan bahasa kemanusiaan berubah menjadi bentuk penjajahan baru yang lebih halus.
Jangan Mudah Percaya pada Jalan yang Ditawarkan
Karena itu, setiap kebijakan dan tawaran yang datang dari BoP maupun lembaga internasional terkait Palestina perlu dicermati dengan kritis. Tidak semua hal yang disebut sebagai perdamaian benar-benar membawa pembebasan. Solusi dua negara, konsep “New Gaza”, maupun tawaran Trump perlu dilihat secara lebih mendalam. Jangan sampai berbagai skema tersebut hanya menjadi cara baru bagi Amerika Serikat untuk mempertahankan pengaruhnya, sementara Israel tetap memiliki ruang untuk menguasai Palestina.
Berbagai solusi yang ditawarkan Barat juga tidak lahir tanpa kepentingan. Ada kepentingan politik, ekonomi, dan geopolitik yang menyertainya. Karena itu, umat Islam tidak semestinya menerima begitu saja setiap solusi hanya karena dibungkus dengan istilah perdamaian, keamanan, stabilitas, dan pembangunan.
Kita juga perlu berani mengkritik para pemimpin Muslim yang memilih bersekutu dengan Amerika Serikat ataupun bergabung dalam BoP. Sikap tersebut merupakan bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina. Sebab, bagaimana mungkin penyelesaian persoalan Palestina dipercayakan kepada pihak yang dinilai turut mendukung genosida dan penjajahan di negeri tersebut?
Palestina Membutuhkan Solusi dari Islam
Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memiliki pandangan terhadap berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, umat Islam semestinya tidak terus-menerus bergantung pada agenda yang dibuat oleh pihak yang memiliki kepentingan terhadap Palestina. Umat Islam harus memiliki agenda sendiri untuk menyelamatkan Palestina.
Bukan sekadar mengikuti arah yang ditentukan oleh kekuatan Barat, melainkan mengambil solusi berdasarkan Islam. Persatuan umat menjadi bagian penting dalam perjuangan tersebut. Dengan bersatu di bawah satu komando, kekuatan militer dari berbagai negeri Muslim dapat dimobilisasi untuk menghadapi dan mengusir penjajah. Karena itu, penyelesaian Palestina tidak cukup hanya dengan pelucutan senjata ataupun menghadirkan ISF yang justru berpotensi memperpanjang ketergantungan terhadap kekuatan asing.
Hanya Islamlah yang mampu menjadi solusi mendasar bagi persoalan Palestina. Umat Islam yang bersatu dan menerapkan Islam sebagai ideologi negara memiliki kekuatan besar untuk menghadapi berbagai bentuk penjajahan. Jika pihak yang memusuhi Islam saja memahami besarnya potensi kekuatan tersebut hingga berusaha menghambat kebangkitannya, mengapa kita sebagai seorang Muslim justru meragukan agama yang diturunkan oleh Allah?
Palestina bukan sekadar persoalan tanah dan batas wilayah. Di baliknya ada manusia yang kehilangan rumah, anak-anak yang tumbuh dalam ketakutan, keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, dan sebuah bangsa yang terus berjuang mendapatkan haknya untuk hidup merdeka. Maka, jangan sampai kata “perdamaian” membuat kita lupa bahwa perdamaian sejati tidak semestinya meminta pihak yang terjajah menyerahkan kekuatannya, sementara penjajahan masih terus berlangsung.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.