
Opini Publik,-
Umat Islam kembali memasuki Tahun Baru Hijriyah 1448, ucapan selamat berbalasan di grup WhatsApp dan bertebaran di berbagai media sosial pada hari Selasa, 16 Juni 2026. Poster dan spanduk ucapan menghiasi ruang publik, sementara ceramah serta tausiyah bermunculan mengisi ruang - ruang keagamaan. Semua ini adalah hal yang baik, sebagai wujud syukur dan pengingat identitas. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlupakan : mengapa kita memiliki kalender sendiri, namun hidup dengan arah yang ditentukan oleh orang lain ?, disinilah letak persoalan utama yang jarang menjadi bahan diskusi mendalam. Sebab, kalender Hijriyah bukan sekadar penanda pergantian waktu, melainkan simbol berdirinya sebuah peradaban.
Menarik untuk dicatat, kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tidak pula dari turunnya wahyu pertama, bahkan bukan dari peristiwa Fathu Makkah yang sangat monumental. Para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah, sebagai titik awal sejarah umat. Mengapa hijrah ?, karena hijrah adalah definisi nyata dari perubahan. Ia, adalah perpindahan dari posisi tertekan menuju kekuatan dari sekadar menjadi objek sejarah beralih menjadi subjek penentu sejarah. Umat yang dulunya diburu dan tertekan, berubah menjadi umat yang memimpin dan menentukan arah peradaban.
Hijrah sejati bukan sekadar berpindah tempat tinggal atau wilayah, hijrah adalah perpindahan peran dalam panggung sejarah. Allah SWT., berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 41:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
"Dan orang - orang yang berhijrah, karena Allah sesudah mereka dizalimi, sungguh akan Kami berikan tempat yang baik di dunia. Dan sungguh pahala akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui. " (QS. An-Nahl [16] : 41).
Ayat ini menegaskan, bahwa hijrah bukanlah tindakan pelarian diri. Hijrah adalah jalan yang ditempuh untuk meraih kemuliaan dan kemenangan. Sayangnya, semangat agung ini kini semakin pudar di tengah kita. Kita masih dengan bangga menggunakan penanggalan Hijriyah, namun perlahan kehilangan energi dan jiwa hijrah itu sendiri. Kita merayakan pergantian angka tahun, namun enggan melakukan perubahan mendasar yang sesungguhnya dibutuhkan.
Indonesia, adalah contoh nyata yang sangat menarik untuk dicermati. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar kedua di dunia, masjid berdiri di hampir setiap sudut kota dan desa. Jumlah jemaah haji dan umrah terus meningkat, kajian keislaman makin ramai peminatnya. Namun, di balik kemegahan fisik dan keramaian ibadah itu, terdapat realitas yang memilukan : ketimpangan ekonomi makin melebar, praktik korupsi tak kunjung hilang, kekayaan alam yang melimpah justru dikuasai segelintir pihak, utang negara terus bertambah dan generasi muda perlahan dicekoki budaya hedonis serta gaya hidup konsumtif. Pertanyaan sederhana, namun berat mengemuka : Apakah kondisi seperti ini yang ingin kita wariskan kepada anak cucu kita kelak ?
Tantangan ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional, namun juga mewarnai panggung dunia. Di tingkat global, situasi terasa jauh lebih mencemaskan. Konflik dan peperangan meletus diberbagai penjuru, krisis pangan dan energi mengancam banyak negara, sementara persaingan kekuatan geopolitik semakin tajam. Sistem ekonomi dunia berulang kali mengalami guncangan, di mana negara - negara besar saling berebut pengaruh tanpa terlalu mempedulikan penderitaan rakyat kecil.
Peradaban modern yang mengaku membawa kemajuan, ternyata gagal menghadirkan ketenangan jiwa manusia. Teknologi berkembang sangat pesat, namun rasa cemas dan ketidakamanan justru meningkat. Informasi tersebar melimpah ruah, namun kebijaksanaan hidup makin sulit ditemukan. Kekayaan materi bertumpuk, namun tingkat kepuasan dan kebahagiaan hidup justru menurun drastis.
Di tengah gejolak dan ketidakpastian ini, bahwa Tahun Baru Hijriyah seharusnya berfungsi sebagai momen evaluasi diri yang mendalam. Bukan sekadar bertanya "sudah berapa umur kita sebagai umat ?", melainkan bertanya lebih jauh : "ke mana arah perjalanan kita sebenarnya ?"
Rasulullah SAW., pernah bersabda dalam HR. Tirmidzi :
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, hijrah adalah perpindahan peran dalam sejarah Allah SWT., berfirman :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
"Orang yang cerdas, adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. Tirmidzi).
Inilah inti dari makna hijrah yang sesungguhnya, tentunya Hijrah tidak cukup hanya dimaknai sebagai meninggalkan dosa - dosa pribadi semata. Hijrah sejati berani meninggalkan cara berpikir yang keliru, berani membuang sikap diam saat melihat kemungkaran merajalela serta berani melepaskan ketergantungan kepada kekuatan selain Allah SWT.
Umar bin Khaththab RA, tokoh yang berjasa menetapkan sistem kalender Hijriyah, pernah menegaskan dengan tegas :
"Kita, adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita."
Kalimat ini terasa sangat relevan dengan kondisi umat Islam masa kini, banyak bangsa muslim memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah, namun tak memiliki kemandirian yang cukup. Banyak yang kaya akan potensi, namun miskin strategi dan keberdayaan. Jumlah kita besar, namun pengaruh kita dalam menentukan arah dunia terasa sangat kecil.
Oleh karena itu, memasuki tahun baru ini, hal yang paling utama bukanlah sekadar mengganti angka tahun pada kalender. Yang jauh lebih penting, adalah menghidupkan kembali semangat hijrah dalam setiap aspek kehidupan. Berhijrah dari ketakutan menuju keberanian, dari ketergantungan menuju kemandirian dan dari sikap hanya menjadi penonton sejarah berubah menjadi pelaku sejarah yang sesungguhnya.
Perlu kita ingat kembali, kalender Hijriyah lahir bukan hanya untuk mengenang perpindahan fisik Nabi dari Makkah ke Madinah. Ia, lahir untuk terus mengingatkan kita bahwa setiap perubahan besar dan kemajuan peradaban selalu berawal dari keberanian berhijrah. Sejarah telah membuktikan, tidak ada peradaban besar yang lahir dari kenyamanan dan kemalasan. Peradaban yang agung hanya lahir dari keberanian untuk berubah dan memperbaiki diri.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448 H, semoga di tahun ini kita tidak hanya sekadar berganti angka tahun, tetapi juga berganti kualitas diri, berganti arah tujuan dan berganti nasib menjadi lebih baik, semuanya demi meraih ridha Allah SWT.
Editor Toni Mardiana.
Sumber : Edy Mulyadi (Wartawan Senior)