elitkita.com // Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) menggelar Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopsgabla) Tahun 2026 sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan pertahanan maritim di tengah dinamika ancaman global.
Latihan yang ditutup oleh Panglima Armada RI Laksdya TNI Denih Hendrata ini menegaskan pentingnya integrasi kekuatan udara dan laut dalam menjaga wilayah perairan Indonesia.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Panglima Komando Operasi Udara (Pangkoopsau) Marsda TNI Djoko Hadipurwanto, S.E., M.M.
Panglima Armada RI Laksdya TNI Denih Hendrata menegaskan, salah satu kunci keberhasilan latihan adalah interoperabilitas.
“Para prajurit telah membuktikan bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jangan ada ego sektoral. Di tengah laut, kita saling bergantung satu sama lain. Kapal perang tidak akan berarti tanpa pengawak yang profesional, militan, dan kompak,” ujarnya, Selasa (28/4)
Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan bahwa keterlibatan berbagai unsur alat utama sistem senjata (alutsista) menunjukkan kesiapan operasional TNI AL dalam menghadapi beragam skenario ancaman.
Ia menilai latihan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat postur dan teknologi pertahanan nasional.
“Latihan ini mencerminkan kesiapan personel dan teknologi Indonesia dalam menjaga kedaulatan maritim. Tidak hanya dari sisi kekuatan laut, tetapi juga integrasi dengan unsur udara,” ujar Achmad, Selasa (28/4/2026).
Ia menambahkan, penggunaan teknologi seperti Unmanned Aerial System (UAS) menunjukkan adanya pergeseran menuju sistem pertahanan berbasis teknologi.
“Penguasaan teknologi menjadi faktor penting. Dengan sistem terintegrasi, pengawasan wilayah dapat dilakukan lebih efektif dan respons terhadap ancaman menjadi lebih cepat,” katanya.
Menurut Achmad, Latopsgabla tidak hanya berfungsi sebagai uji kemampuan militer, tetapi juga memiliki dimensi strategis dalam membangun daya tangkal nasional.
“Latihan ini juga mengirimkan pesan bahwa Indonesia memiliki kesiapan dalam menjaga stabilitas kawasan, khususnya di wilayah maritim yang strategis,” ujarnya.
Melalui latihan tersebut, TNI AL diharapkan terus meningkatkan interoperabilitas antarunsur serta kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan pola ancaman yang terus berubah.
Sebagai penutup, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian santunan kepada 35 anak yatim pada Selasa (28/4/2026) pukul 08.35 WIB sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat.

