Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk kembali meneguhkan komitmen menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW ini menandai awal lahirnya peradaban Islam yang menjunjung tinggi ilmu, akhlak, kebenaran dan keadilan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil."
(QS. Al-Baqarah: 185)
Penasihat Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (DPP PUI), Prof. Dr. KH. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa Nuzulul Qur’an harus dimaknai sebagai dorongan bagi umat Islam untuk dekat dengan Al-Qur’an, agar menjadi panduan setiap langkah dan nafas.
Al Quran harus senantiasa didalami, baik melalui membaca, memahami, maupun mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, Al-Qur’an tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga memberikan arah dalam kehidupan sosial, pendidikan, hingga pembangunan peradaban umat.
“Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya memperkuat kesadaran umat bahwa Al-Qur’an adalah sumber nilai dan inspirasi dalam membangun kehidupan yang beradab, berilmu, kebenaran dan berkeadilan. Al Quran dapat menjadi rujukan penyelesaian permasalahan kehidupan,” ujar Prof Achmad Tjachja Nugraha.
Ia juga mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi dasar penting bahwa Islam sangat menekankan ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagai fondasi kemajuan umat. Pendidikan agama dan sekolah merupakan bagian penting bagi generasi muda.
Achmad Tjachja Nugraha juga menyoroti pentingnya peran organisasi keagamaan dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, Persatuan Ummat Islam (PUI) memiliki tanggung jawab besar untuk terus menguatkan dakwah dan pendidikan umat.
Sejak berdiri, PUI dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat. Melalui jaringan pesantren, sekolah, dan berbagai lembaga sosial, PUI berupaya menghadirkan nilai-nilai Islam yang moderat, berilmu, dan berakhlak.
Selain itu Ketua Umum DPP PUI H Raizal Arifin dalam sambutannya menyampaikan tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut organisasi Islam untuk terus adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar ajaran Islam.
“PUI harus terus hadir di tengah masyarakat melalui pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi muda agar nilai-nilai Al-Qur’an tetap hidup dalam kehidupan umat,” katanya.
Selain itu, ia menekankan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjaga moral dan peradaban umat.
Santri tidak hanya dikenal sebagai pelajar di pesantren, tetapi juga sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab besar dalam melanjutkan tradisi keilmuan Islam.
Menurutnya, dari pesantren telah lahir santri yang menjadi tokoh dengan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan bangsa.
“Santri harus menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Mereka adalah penjaga nilai-nilai keislaman sekaligus penggerak perubahan sosial,” jelasnya.
Ia berharap momentum Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H dapat memperkuat semangat umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, sekaligus mendorong lahirnya generasi santri yang mampu menjawab tantangan dan permasalahan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Tidak lupa Prof. KH. Achmad Tjachja yang juga sebagai pokahli BNN RI mengungkapkan agar ditingkatkan peran santri dalam menjaga santri, pesantren, sekolah hingga keluarga dan lingkungan dari pengaruh penyalanggunaan narkoba yang telah merangsek hingga desa dan sekolah. Dengan semangat Nuzulul Quran mari kita juga perkuat peran organisasi Islam, para ulama, serta santri untuk sama sama perangi narkoba.





