Jakarta – Capaian kinerja Badan Narkotika Nasional (BNN) sepanjang tahun 2025 mendapat perhatian serius dari Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha.
Menurut Prof. Achmad, berbagai pencapaian tersebut menunjukkan keseriusan negara dalam menghadapi ancaman narkotika yang semakin kompleks dan terorganisasi.
Ia menilai upaya BNN yang mengombinasikan penegakan hukum, pencegahan, dan rehabilitasi merupakan langkah strategis untuk melindungi generasi muda sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
“Secara umum, kinerja BNN tahun 2025 menunjukkan keseriusan negara dalam menghadapi ancaman narkotika yang semakin kompleks,” ujar Prof. Achmad.
Ia menambahkan, pengungkapan ratusan kasus dan jaringan narkotika menegaskan bahwa pemberantasan tetap harus menjadi fokus utama BNN.
Upaya pencegahan menjadi kunci strategi jangka panjang untuk melindungi generasi muda dari dampak narkoba.
“Integrasi nilai-nilai anti-narkotika ke dalam pendidikan sejak usia dini adalah benteng paling kuat bagi anak-anak kita,” tambahnya.
Prof. Achmad menekankan, pendekatan pencegahan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan komunitas harus diperkuat agar ruang masuk narkoba semakin sempit.
Program rehabilitasi juga mendapat perhatian khusus karena pendekatan manusiawi lebih efektif dibandingkan kriminalisasi semata.
“Pengguna narkotika pada dasarnya adalah korban yang perlu diselamatkan melalui rehabilitasi dan pemulihan sosial,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kombinasi pemberantasan, pencegahan, dan rehabilitasi merupakan strategi komprehensif untuk memutus mata rantai narkoba di masyarakat.
Sinergi lintas sektor antara BNN, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan program P4GN.
“Kebijakan narkotika harus berbasis data, ilmu pengetahuan, dan nilai kemanusiaan agar berdampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Prof. Achmad mengapresiasi Kepala BNN, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, atas berbagai inovasi dan langkah strategis dalam penanganan narkoba.
Ia menekankan bahwa keberhasilan BNN juga tak lepas dari kepemimpinan Kepala BNN yang visioner dan mampu menggerakkan seluruh jajaran untuk bekerja lebih terarah.
Selain itu, Prof. Achmad memberi apresiasi pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong seluruh instansi terkait untuk memberantas narkoba secara sistematis.
Dalam pencapaian BNN sepanjang tahun 2025, Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto memimpin pengungkapan 746–773 kasus narkoba dan prekursor, membongkar 42 jaringan peredaran terorganisir, serta menangkap 1.174–1.214 tersangka.
Barang bukti besar berhasil disita, termasuk 4,01 ton sabu, 2,17 ton ganja, 2,06 kg ganja sintetis, 364.750 butir ekstasi, 4,7 kg kokain, dan 1,2 ton ketamin.
Ladang ganja seluas 127.800 m² atau sekitar 109,8 ton ganja basah juga dimusnahkan.
Di bidang pencegahan, BNN membina 214 Desa Bersinar dan melibatkan 4.280 keluarga melalui program Keluarga Bersinar.
Layanan deteksi dini narkoba menjangkau 197.727 orang, sementara 12.713 pecandu menerima layanan rehabilitasi dari total 52.032 penerima pemulihan.
Target penurunan prevalensi penyalahgunaan narkoba diupayakan dari 1,73 % menjadi 1,7 % atau setara 3,33 juta jiwa.
“Upaya BNN sepanjang 2025 membuktikan bahwa strategi pemberantasan, pencegahan, dan rehabilitasi harus berjalan beriringan. Dengan sinergi lintas sektor, kepemimpinan Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, serta dukungan Presiden Prabowo, kita bisa melindungi generasi muda dan memutus mata rantai narkoba di masyarakat,” pungkas Prof. Achmad.
.jpeg)


.jpeg)