Cibiru- Bandung -
Tradisi temu warga setiap Rabu malam terus menjadi ruang silaturahmi dan penguatan nilai-nilai keagamaan masyarakat. Melalui pengajian keliling dari rumah ke rumah, warga tidak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga membangun kebersamaan dalam suasana religius dan penuh kekeluargaan.
Kegiatan kali ini berlangsung di rumah Ustaz Dedi Abdurazak, sebuah rumah penuh berkah yang berdampingan dengan Masjid Raudatul Muttaqin. Acara dipimpin Ustaz Totong, diawali dengan zikir dan doa yang dipimpin H. Mastur. Suasana semakin khidmat melalui pembacaan selawat Barzanji secara bergantian oleh para jemaah, dilanjutkan taklim kitabi oleh H. Mahmud dan taklim lisani oleh Dr. H. Sugandi Miharja.
Kehangatan pertemuan semakin terasa melalui hidangan makanan ringan dan makan malam dengan menu khas Sunda serta seduhan teh hangat. Tradisi bersalaman menjadi simbol persaudaraan dan pengikat hati antarsesama jemaah.
Hadir dalam kegiatan tersebut para ketua DKM, imam masjid, pengusaha, tokoh masyarakat, pemuda, remaja, serta masyarakat umum.
Dalam taklim lisani, Ust. Dr. H. Sugandi Miharja menyampaikan refleksi tentang syukur sebagai fondasi kesehatan mental dan kesejahteraan spiritual. Ia menguraikan tiga dimensi besar nikmat, yakni nikmat jasmaniah atau material (harta, kesehatan, makanan, rumah, dan pekerjaan); nikmat rohaniah (iman, Islam, hidayah, ketakwaan, dan ketenangan hati); serta nikmat ta'awuniah atau kemanusiaan (keluarga, persahabatan, persaudaraan, pendidikan, dan pengabdian sosial).
Ia juga mengajak jemaah memahami dua orientasi syukur, yaitu bersyukur atas nikmat yang diterima dan bersyukur kepada Allah sebagai Sang Pemberi nikmat. Syukur dapat diwujudkan melalui empat dimensi: lisan dengan mengucapkan Alhamdulillah, hati dengan menyadari sumber nikmat, perbuatan melalui sedekah dan ibadah, serta makrifat melalui keikhlasan dan kecintaan kepada Allah.
Refleksi tersebut merujuk pada Surah Ar-Rahman yang mengulang kalimat “Fabi ayyi ālā'i rabbikumā tukadzdzibān” sebanyak 31 kali dalam 78 ayat. Artinya, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Pengajian Rabu malam ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental tidak hanya dibangun melalui pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga melalui ketenangan rohani, rasa syukur, dan hubungan sosial yang harmonis. Dari rumah ke rumah, dari hati ke hati, silaturahmi menjadi jalan merawat iman, memperkuat persaudaraan, dan mensyukuri nikmat Allah dalam kehidupan.
(ah)

.jpeg)