Prof. Dr. M. Sobry Sutikno M.Pd.
(Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram)
Opini Publik
Bayangkan seorang peserta didik mendapat tugas membuat makalah. Ia tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu mencari bahan bacaan, membuka berbagai buku, atau menyusun gagasan dari awal. Cukup membuka aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), mengetikkan beberapa perintah, dan dalam waktu singkat sebuah tulisan sudah tersedia. Tugas pun selesai. Namun, apakah ia benar-benar memahami isi makalah tersebut? Pertanyaan sederhana ini sebenarnya menyimpan persoalan besar bagi dunia pendidikan kita.
Kehadiran AI memang membawa banyak kemudahan. Peserta didik dapat memperoleh penjelasan tentang materi yang sulit dipahami, menemukan informasi, membandingkan pendapat, bahkan mengembangkan gagasan. Saya tidak melihat kemajuan teknologi ini sebagai sesuatu yang harus ditolak. Justru sebaliknya, pendidikan perlu memanfaatkannya. Namun, ada hal yang tidak boleh kita abaikan: kemudahan memperoleh jawaban bukan berarti seseorang sudah memahami persoalan. Cepat menyelesaikan tugas juga tidak otomatis membuat seseorang semakin pandai.
Di sinilah kita perlu kembali bertanya, untuk apa sebenarnya seseorang belajar? Apakah hanya agar mampu menjawab soal, menyelesaikan tugas, dan memperoleh nilai yang baik? Tentu tidak. Belajar seharusnya membuat seseorang semakin mampu memahami sesuatu, berpikir, mempertimbangkan pendapat, dan menemukan jalan keluar ketika menghadapi persoalan. Kemampuan tersebut tidak tumbuh hanya karena seseorang memiliki akses terhadap berbagai jawaban. Semua itu membutuhkan proses, pengalaman, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar.
Persoalannya bukan semata-mata karena peserta didik menggunakan AI, melainkan ketika mereka mulai menyerahkan hampir seluruh pekerjaan berpikir kepada teknologi tersebut. Mereka meminta AI membuat makalah, menyusun jawaban, bahkan merumuskan pendapat, lalu hasilnya langsung dikumpulkan. Sekilas, tidak ada masalah. Tugas selesai dan hasilnya terlihat bagus. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali apa yang ditulis, belum tentu mereka mampu melakukannya. Mereka mempunyai jawaban, tetapi tidak memahami bagaimana jawaban itu diperoleh.
Kondisi seperti ini patut kita renungkan. Jangan sampai kita terlalu bangga melihat hasil pekerjaan peserta didik yang semakin bagus, sementara kita tidak mengetahui sejauh mana mereka memahami apa yang dikerjakannya. Sebab, ada perbedaan antara menghasilkan sebuah pekerjaan dan memperoleh pengalaman belajar dari pekerjaan tersebut. Makalah yang tersusun rapi belum tentu menunjukkan pemahaman yang baik. Begitu pula jawaban yang benar belum tentu mencerminkan kemampuan berpikir peserta didik yang mengerjakannya.
Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap kesulitan dalam belajar. Selama ini, tidak sedikit orang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang harus segera diatasi agar pekerjaan cepat selesai. Padahal, dalam proses belajar, tidak semua kesulitan merupakan hambatan. Ketika seorang peserta didik berusaha memahami materi yang belum dikuasainya, mencoba menyelesaikan soal yang sulit, atau memperbaiki jawaban yang keliru, sesungguhnya ia sedang mengembangkan kemampuannya. Melalui proses mencoba, keliru, memperbaiki, dan mencoba kembali, pemahaman perlahan terbentuk. Dari situlah kemampuan berpikir berkembang.
Tentu saja, peserta didik tidak boleh dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian. Guru dan dosen perlu hadir memberikan bimbingan. Namun, jangan sampai setiap kali peserta didik mengalami kesulitan, jawaban langsung diberikan, apalagi seluruh pekerjaan diserahkan kepada AI. Bantuan seharusnya membuat mereka lebih mampu, bukan semakin bergantung. Ada kalanya mereka perlu diberi kesempatan untuk mencoba sendiri, mengemukakan pendapat dan menemukan jawaban, meskipun hasilnya belum tentu benar. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang menemukan jawaban yang tepat, tetapi juga tentang bagaimana seseorang belajar melalui proses pencarian jawaban tersebut.
Bukan berarti AI harus dijauhkan dari kegiatan pembelajaran. Teknologi ini justru dapat menjadi teman belajar yang bermanfaat apabila digunakan dengan tepat. Peserta didik dapat meminta penjelasan tambahan ketika belum memahami suatu materi, membandingkan jawaban AI dengan buku atau sumber lain, serta menguji apakah pendapat yang dimilikinya sudah masuk akal. Bahkan, mereka dapat diminta menemukan kelemahan jawaban yang diberikan AI dan menjelaskan alasan mengapa jawaban tersebut perlu diterima, diperbaiki, atau ditolak. Dengan cara demikian, AI tidak mengambil alih kegiatan berpikir, tetapi menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.
Perkembangan ini juga seharusnya membuat guru dan dosen lebih cermat dalam memberikan tugas dan menilai hasil belajar. Jika tugas hanya meminta peserta didik membuat rangkuman, menjawab pertanyaan, atau menyusun makalah, pekerjaan tersebut memang semakin mudah diselesaikan dengan bantuan AI. Pendidik dapat terjebak hanya menilai hasil yang dikumpulkan, padahal hasil tersebut belum tentu menggambarkan kemampuan sebenarnya dari peserta didik. Oleh karena itu, cara memberikan tugas dan melakukan penilaian perlu disesuaikan dengan perubahan yang sedang terjadi.
Menurut saya, sudah saatnya penilaian tidak hanya bertumpu pada hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses berpikir peserta didik. Mereka perlu diberi kesempatan menjelaskan kembali apa yang ditulis, menyampaikan alasan atas pendapatnya, dan mempertahankan argumentasi ketika berdiskusi. Mereka juga dapat diminta menunjukkan bagian dari jawaban AI yang dianggap kurang tepat serta menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolaknya. Guru dan dosen dapat mengembangkan tugas yang mengharuskan peserta didik menghubungkan materi dengan pengalaman atau persoalan nyata di lingkungan sekitarnya.
Melalui cara tersebut, pendidik tidak hanya mengetahui apakah peserta didik mampu menghasilkan jawaban, tetapi juga dapat melihat bagaimana mereka memahami masalah, menggunakan informasi, menyusun alasan, dan mengambil keputusan. Inilah hal yang perlu mendapat perhatian lebih dalam penilaian pendidikan. Sebab, ketika AI semakin mudah menghasilkan pekerjaan yang terlihat baik, kemampuan berpikir peserta didik justru harus semakin diperhatikan.
Di samping itu, penggunaan AI juga menyangkut kejujuran dan tanggung jawab. Menggunakan teknologi untuk membantu belajar bukanlah suatu kesalahan. Namun, menyalin seluruh jawaban tanpa memahami isinya, kemudian mengakuinya sebagai hasil pemikiran sendiri, jelas bukan kebiasaan akademik yang baik. Peserta didik perlu belajar bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaan yang diserahkan. Mereka harus memeriksa informasi, memahami isi tulisan, dan mengikuti ketentuan penggunaan AI yang berlaku di lingkungan pendidikannya. Teknologi boleh membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi tanggung jawab atas hasil pekerjaan tetap berada pada penggunanya.
Pada akhirnya, kita tidak perlu mempertentangkan kecerdasan manusia dengan kecerdasan buatan. AI dapat membantu banyak hal, tetapi manusia tetap harus memiliki kemampuan untuk memahami, menilai, dan mengambil keputusan. Teknologi boleh memberikan berbagai pilihan jawaban, tetapi kemampuan menentukan jawaban mana yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan tetap membutuhkan pemikiran manusia.
Kita tentu menginginkan pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Namun, jangan sampai karena terlalu sibuk mengejar kemajuan teknologi, kita justru melupakan tujuan utama pendidikan. Keberhasilan pendidikan bukan hanya terlihat dari semakin cepatnya peserta didik menyelesaikan tugas atau semakin bagusnya hasil pekerjaan mereka. Yang lebih penting adalah apakah mereka semakin mampu berpikir, memahami persoalan, mempertimbangkan berbagai informasi, dan menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
AI boleh semakin pintar dan berbagai pekerjaan boleh semakin mudah diselesaikan. Namun, jangan sampai kemudahan itu membuat peserta didik kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya sendiri. Kita tidak sedang mempersiapkan generasi yang hanya pandai meminta jawaban kepada teknologi, tetapi generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemandirian berpikir. Sebab, pendidikan pada akhirnya bukan tentang seberapa cepat manusia mendapatkan jawaban, melainkan seberapa baik ia mampu memahami dan mempertanggungjawabkan jawaban tersebut.
(TM)
