ARTIKEL KE-6 / RENUNGAN AKHLAK DAN KEHIDUPAN
Oleh: H. Hidayat, S.Pd.I., M.Pd. | Dakwah Ilmiah-Populer ElitKita
Islam dan Zaman
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” — QS. Ar-Ra‘d [13]: 28
Rumah sudah nyaman, pekerjaan berjalan baik, kebutuhan keluarga tercukupi, bahkan banyak cita-cita telah tercapai. Namun, ketika malam tiba dan suasana mulai sunyi, hati masih terasa gelisah. Pikiran seakan terus mencari sesuatu yang belum ditemukan. Pertanyaannya, mengapa kelapangan hidup tidak selalu menghadirkan ketenangan batin?
Kegelisahan seperti itu tidak selalu menunjukkan kurangnya rasa syukur atau lemahnya iman. Ada beragam sebab: kelelahan, tekanan pekerjaan, masalah hubungan, kekhawatiran masa depan, ataupun kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi. Namun, dari sudut pandang pendidikan akhlak Islam, pengalaman ini mengajak kita meninjau kembali arah hidup: apakah segala pencapaian sudah disertai kedekatan kepada Allah, rasa cukup, dan hubungan yang baik dengan sesama?
KETIKA KEBERHASILAN BELUM MENJADI KETENTERAMAN
Menata keinginan, menguatkan iman, dan mengubah nikmat menjadi manfaat.
01 Banyak Memiliki, Belum Tentu Merasa Cukup
Seseorang dapat terus menambah penghasilan, memperbaiki rumah, dan mengejar jabatan, tetapi tetap merasa tertinggal ketika membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Keinginan berkembang tentu baik. Yang perlu dijaga adalah saat ukuran kebahagiaan hanya ditentukan oleh hal-hal yang terus bertambah. Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha. Ia merupakan kemampuan mensyukuri apa yang ada sambil tetap bekerja secara bertanggung jawab. Dengan demikian, harta menjadi sarana menjalani hidup, bukan satu-satunya ukuran harga diri.
02 Mengingat Allah dan Menata Kembali Hati
Allah Swt. berfirman dalam QS. Ar-Ra‘d [13]: 28 bahwa hati orang beriman menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Zikir bukan sekadar pengulangan lafaz, melainkan juga kesadaran bahwa hidup berada dalam pengawasan dan kasih sayang-Nya. Salat yang dikerjakan dengan khusyuk, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan bermuhasabah membantu manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kegiatan spiritual tersebut dapat menjadi sumber makna dan penguatan batin, tanpa harus dipandang sebagai pengganti seluruh bentuk pertolongan lainnya.
03 Belajar Qanaah di Tengah Keberlimpahan
Rasulullah saw. menerangkan bahwa orang yang beruntung ialah mereka yang menerima Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan dianugerahi rasa puas terhadap pemberian Allah (Sahih Muslim no. 1054). Qanaah bukan sikap malas atau menerima ketidakadilan begitu saja. Qanaah ialah menata keinginan agar tidak terus-menerus diperbudak perbandingan. Seorang pedagang tetap berusaha mengembangkan usahanya, tetapi tidak mengorbankan kejujuran. Seorang pekerja tetap mengejar prestasi, tetapi tidak melupakan keluarga dan ibadah.
04 Syukur Bukan Sekadar Ucapan
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, pembahasan tentang syukur, menjelaskan bahwa syukur berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Pesan ini dapat dipahami sebagai ajakan menggunakan nikmat pada jalan kebaikan. Kesehatan dipakai untuk bekerja dan membantu. Ilmu dibagikan kepada murid. Harta digunakan secara bertanggung jawab, termasuk untuk keluarga dan mereka yang membutuhkan. Dengan cara demikian, nikmat tidak hanya dihitung jumlahnya, tetapi juga dirasakan manfaat dan keberkahannya.
PESAN AL-QUR’AN
Ø£َÙ„َا بِذِÙƒْرِ اللَّÙ‡ِ تَØ·ْÙ…َئِÙ†ُّ الْÙ‚ُÙ„ُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)
MOMEN REFLEKSI • Lima menit untuk kembali jernih
Saat kegelisahan muncul, cobalah menyediakan lima menit untuk meninjau hari. Apa yang hari ini patut disyukuri? Beban mana yang perlu diselesaikan, dan mana yang perlu dilepaskan? Apakah kita terlalu sering membandingkan hidup dengan gambaran orang lain di layar? Kebiasaan ini tidak bertujuan menghapus seluruh masalah secara seketika. Ia membantu memberi jarak antara pikiran yang terus bergerak dan pilihan tindakan yang lebih jernih. Bila memungkinkan, tuliskan satu nikmat, satu tanggung jawab, dan satu kebaikan kecil untuk dilakukan esok hari.
MENGHADIRKAN MAKNA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Tenteram tidak berarti bebas dari masalah; yang penting adalah menemukan pegangan dan bantuan yang tepat.
05 Menguatkan Makna Melalui Keluarga dan Kepedulian
Seseorang mungkin memiliki banyak fasilitas, tetapi jarang menikmati percakapan hangat bersama keluarganya. Ada pula yang sibuk mengejar target hingga lupa memberi perhatian kepada orang tua dan sahabat. Karena itu, keseimbangan memerlukan ruang untuk hadir sepenuhnya bagi orang-orang terdekat. Mendengarkan anak, menyapa tetangga, membantu orang yang kesulitan, atau mengucapkan terima kasih dapat menghidupkan kembali makna keseharian. Hidup yang bermanfaat bagi orang lain sering menghadirkan kepuasan yang tidak dapat diukur dengan barang.
06 Mencari Pertolongan Juga Bagian dari Ikhtiar
Tidak setiap kegelisahan akan hilang hanya dengan menambah aktivitas ibadah. Bila rasa cemas berlangsung lama, mengganggu tidur, pekerjaan, belajar, atau hubungan sosial, seseorang layak mendapatkan dukungan dan pemeriksaan profesional. Berkonsultasi kepada tenaga kesehatan atau psikolog tidak bertentangan dengan tawakal. Menjaga kondisi tubuh, membatasi beban kerja, beristirahat, dan mencari bantuan merupakan bagian dari ikhtiar. Nasihat keagamaan sebaiknya diberikan dengan kasih sayang, bukan dengan menyalahkan orang yang sedang mengalami kesulitan.
RENUNGAN HADIS DAN KITAB AKHLAK
HADIS TENTANG QANAAH
Beruntunglah orang yang memeluk Islam, memperoleh rezeki yang mencukupi, dan diberi rasa cukup oleh Allah.
— Sahih Muslim no. 1054 (parafrasa makna)
PESAN IMAM AL-GHAZALI
Syukur melibatkan hati, lisan, dan tindakan: nikmat dikenali, diakui, lalu digunakan untuk ketaatan dan kebaikan.
— Ihya’ ‘Ulum al-Din, pembahasan syukur (ringkasan)
Kita juga dapat mengatur kembali hubungan dengan teknologi. Informasi yang berlimpah sering membuat kesuksesan orang lain tampak lebih dekat daripada nikmat di rumah sendiri. Menetapkan waktu tanpa gawai, menikmati makan bersama, dan menyediakan kesempatan berbicara tanpa menghakimi dapat memperkuat rasa keterhubungan. Al-Qur’an menyebut panggilan kepada jiwa yang tenang dalam QS. Al-Fajr [89]: 27–28. Ayat itu mengingatkan tentang tujuan akhir manusia dan keridaan Allah, bukan janji bahwa seorang beriman tidak akan pernah merasakan kecemasan. Dengan pemahaman ini, hati dirawat melalui iman, kebiasaan baik, dan tanggung jawab terhadap kesehatan.
PENUTUP | MEMPERBAIKI ARAH, BUKAN MENYALAHKAN DIRI
Ketenangan bukan berarti hidup tanpa persoalan, melainkan mempunyai pegangan ketika menghadapi persoalan itu. Kita boleh memiliki rumah yang baik, pekerjaan yang mapan, dan rencana masa depan yang besar. Semua merupakan nikmat yang patut disyukuri. Namun, jangan sampai pencapaian luar membuat kita lupa merawat kehidupan batin.
Marilah mulai dari kebiasaan kecil: menjaga salat, meluangkan waktu untuk zikir, mengurangi perbandingan yang melelahkan, mensyukuri nikmat, merawat keluarga, serta membantu orang lain. Bila hati masih berat, carilah dukungan yang tepat. Semoga kelapangan rezeki berjalan bersama kelapangan hati, dan setiap perjalanan hidup membawa kita semakin dekat kepada Allah Swt. Wallahu a‘lam bish-shawab.
RUJUKAN TERPERIKSA
• Al-Qur’an, QS. Ar-Ra‘d [13]: 28 — https://quran.com/id/13/28
• Al-Qur’an, QS. Al-Fajr [89]: 27–28 — https://quran.com/id/89/27-28
• Sahih Muslim no. 1054, bab al-Kafaf wa al-Qana‘ah — https://sunnah.com/muslim:1054
• Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, kitab tentang sabar dan syukur (pembahasan hakikat syukur) — https://khzanah.com/books/9472?pageIndex=1165
