“Resiliensi menguatkan jemaah menghadapi kesulitan, sedangkan istiqamah merawat nilai-nilai haji dalam keluarga dan masyarakat.”
Oleh: A. Rusdiana
Perjalanan
haji mempertemukan jemaah dengan perubahan jadwal, fasilitas, dan keadaan yang
dapat berbeda dari harapan. Setelah
kembali ke tanah air, tantangan berlanjut ketika semangat beribadah bertemu
kesibukan sehari-hari. Masten (2001), melalui kajian perkembangan manusia,
menjelaskan bahwa resiliensi bertumpu pada proses adaptasi yang dapat ditopang
oleh sumber daya keseharian. Gagasan ini menjadi pijakan untuk merancang
pembinaan jemaah yang menghubungkan kemampuan pribadi dengan dukungan
lingkungan.
Secara spiritual, QS. Asy-Syarh [94]: 5–6
meneguhkan harapan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Rasulullah juga
mengajarkan pentingnya amal yang dilakukan secara berkelanjutan meskipun
sedikit (HR. al-Bukhari, no. 6464). Namun, pengalaman haji belum selalu diikuti
pembiasaan yang terpelihara dan pendampingan alumni. Bagaimana KBIHU Masjid
Agung membantu jemaah menghadapi kesulitan sekaligus melanjutkan nilai-nilai
haji setelah kepulangan?
Tulisan ini bertujuan menjelaskan lima
penguatan: membangun kemampuan pulih, menerima perubahan secara realistis,
merefleksikan pengalaman sulit, memelihara pembiasaan baik, serta mengembangkan
jejaring alumni. Kelimanya diarahkan pada rencana aksi pribadi pascahaji dan
dukungan pembinaan yang berkelanjutan.
Pertama: Kemampuan Pulih Tumbuh melalui
Latihan dan Dukungan; Resiliensi merupakan kemampuan untuk pulih dan menyesuaikan diri ketika
menghadapi kesulitan. Dalam bimbingan, jemaah diajak mengenali persoalan,
menenangkan diri, memilih tindakan yang mungkin dilakukan, dan menentukan
bantuan yang diperlukan. Kesedihan atau kekecewaan perlu didengarkan agar
peserta dapat memahami keadaan serta melangkah kembali.
Pembimbing dapat meminta peserta
menceritakan pengalaman menghadapi kesulitan: apa yang membantu, siapa yang
mendampingi, dan tindakan apa yang dapat digunakan kembali. Refleksi tersebut
menghasilkan daftar sumber dukungan, seperti keluarga, teman rombongan, dan
pembimbing. Meminta pertolongan secara tepat menjadi bagian dari kecakapan
menghadapi persoalan.
Kedua: Perubahan Dihadapi dengan Harapan
yang Realistis;
Perubahan jadwal, fasilitas, atau kondisi perjalanan dapat menimbulkan
kekecewaan. Jemaah perlu berlatih membedakan harapan pribadi, informasi yang
sudah dipastikan, serta keadaan yang masih dapat berubah. Ketika menerima kabar
perubahan, peserta diajak memeriksa informasi kepada petugas dan memahami
pilihan yang tersedia.
Simulasi dapat menggunakan kasus
keterlambatan keberangkatan atau penyesuaian pembagian kamar. Peserta berlatih
menata ulang rencana, menyampaikan kebutuhan, dan mengikuti arahan yang telah
diperjelas. Penerimaan realistis tetap memberi ruang untuk melaporkan
kekurangan pelayanan melalui saluran yang tepat. Keluhan dijelaskan berdasarkan
kejadian dan kebutuhan agar dapat ditindaklanjuti.
Ketiga: Pengalaman Sulit Diolah Menjadi
Pelajaran;
Pengalaman yang mengecewakan dapat terus membebani apabila hanya diulang
sebagai keluhan. Refleksi membantu jemaah memeriksa kejadian, mengenali
perasaan, dan menemukan perbaikan yang dapat dilakukan. Pembimbing dapat
menggunakan tiga pertanyaan: apa yang terjadi, apa yang dipelajari, dan apa
yang akan diperbaiki?
Misalnya, pengalaman tertinggal rombongan
menjadi pelajaran untuk memperhatikan titik kumpul dan menyimpan kontak
pendamping. Perselisihan menjadi bahan belajar mendengarkan serta memperjelas
kebutuhan. Peserta diberi kesempatan berbagi tanpa dipermalukan atau dipaksa
membuka pengalaman pribadi. Catatan refleksi kemudian diterjemahkan menjadi
tindakan, sehingga pengalaman sulit memiliki arah penyelesaian.
Keempat: Nilai-Nilai Haji Dipelihara
melalui Pembiasaan;
Kepulangan perlu disertai rencana yang dapat dijalankan dalam keluarga dan
masyarakat. Pesan hadis tentang keberlanjutan amal memberi arah untuk memilih
kegiatan sesuai kemampuan. Rencana aksi mencakup tindakan, waktu pelaksanaan,
pendamping, dan waktu peninjauan.
Jemaah dapat menetapkan pembiasaan membaca
Al-Qur’an setelah salat tertentu, menjaga ketepatan ibadah wajib, berbicara
lebih sabar kepada keluarga, jujur dalam pekerjaan, serta membantu tetangga
sesuai kesanggupan. Setiap pekan, peserta mencatat pelaksanaan dan hambatannya.
Ketika terhenti, rencana diperbaiki dan dilanjutkan. Catatan digunakan untuk
muhasabah pribadi; ukuran pembinaan ialah konsistensi tindakan, sementara
kemabruran menjadi harapan yang terus diikhtiarkan.
Kelima: Jejaring Alumni Menjaga
Keberlanjutan Pembinaan; Alumni dapat menjadi sumber dukungan sekaligus mitra KBIHU dalam
mendampingi calon jemaah. Jejaring dibangun melalui kesediaan anggota,
penanggung jawab yang jelas, saluran komunikasi yang mudah diakses, dan agenda
pertemuan yang disepakati.
Pertemuan alumni dapat diisi refleksi
pelaksanaan rencana aksi, penguatan ibadah, serta kegiatan kepedulian sosial.
Anggota yang kesulitan menggunakan komunikasi digital tetap dilibatkan melalui
telepon atau pertemuan langsung. Alumni juga dapat berbagi pengalaman praktis
kepada calon jemaah dengan pendampingan pembimbing. Keberhasilan jejaring
terlihat dari komunikasi yang terjaga, bantuan yang terlaksana, dan pembinaan
yang berlangsung sesuai kebutuhan.
Penguatan resiliensi dan keberlanjutan
nilai-nilai haji memerlukan latihan menghadapi perubahan, refleksi pengalaman,
dan pembiasaan yang ditopang lingkungan. KBIHU Masjid Agung dapat memadukan
penyusunan rencana tindak lanjut, pertemuan alumni, serta pendampingan
pascahaji. Luaran konkretnya ialah rencana aksi pribadi dan jejaring alumni
binaan KBIHU. Dari proses tersebut, pengalaman berhaji diharapkan menguatkan
ketekunan beribadah, kesabaran dalam keluarga, kejujuran bekerja, dan
kepedulian kepada masyarakat. Perjalanan pulang menjadi awal untuk melanjutkan
tanggung jawab pengabdian dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a‘lam.
_____________
*) Tulisan ini
dipersiapkan untuk materi ke-5 PKM “Penguatan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji
dan Umrah Masjid Agung untuk Kemandirian Jemaah Haji”, dengan tema “Penguatan
Resiliensi dan Keberlanjutan Nilai-Nilai Haji dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Rujukan
· Masten, A. S. (2001). Ordinary magic: Resilience processes in development. American Psychologist, 56(3), 227–238. https://doi.org/10.1037/0003-066X.56.3.227
·
Al-Qur’an,
Surah Asy-Syarh [94]: 5–6.
· Al-Bukhari. Sahih al-Bukhari, hadis nomor 6464, tentang keberlanjutan amal. https://sunnah.com/bukhari:6464
