
Oleh: Otong Setiawan Djuharie
Kolaborasi mahasiswa, guru, dan siswa melalui Community of Practice memperlihatkan bahwa persiapan TKA bukan semata-mata latihan menjawab soal, melainkan momentum untuk membangun cara belajar bahasa Inggris yang lebih bermakna.
Rendahnya capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa
Inggris menjadi salah satu persoalan yang patut mendapat perhatian serius dalam
dunia pendidikan. Pada penyelenggaraan TKA 2025, rerata nasional Bahasa Inggris
tercatat hanya 24,93 dari skala 100. Angka ini memberi sinyal bahwa persoalan
pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup dijelaskan melalui penguasaan kosakata
dan tata bahasa. Ada persoalan yang lebih mendasar: kemampuan peserta didik
memahami teks, menangkap makna tersirat, menghubungkan informasi, serta
menggunakan bukti tekstual untuk menentukan jawaban.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, tim peneliti UIN
Sunan Gunung Djati Bandung mengembangkan suatu pendekatan pendampingan
pembelajaran Bahasa Inggris yang sekaligus diarahkan untuk mempersiapkan
peserta didik menghadapi TKA dan asesmen nasional 2026. Penelitian yang
melibatkan Otong Setiawan Djuharie, Andang Saehu, danErfan Muhammad Fauzi ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan tiga
madrasah aliyah negeri, yakni MAN 1 Garut, MAN 1 Cianjur, dan MAN 1 Kuningan.
Hal yang menarik dari penelitian ini bukan semata-mata
lokasi maupun sasaran kegiatannya, melainkan rancangan kolaborasi yang
dibangun. Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung
tidak ditempatkan sekadar sebagai pelaksana kegiatan pengabdian, tetapi sebagai
mentor pembelajaran yang bekerja bersama guru dan siswa. Pola ini dikembangkan
melalui pendekatan Community of Practice (CoP), yaitu komunitas belajar
yang memungkinkan pengetahuan, pengalaman, dan praktik pedagogis tumbuh melalui
interaksi antarpelaku pendidikan.
Mengurai persoalan dari ruang kelas
Sebelum merumuskan strategi pendampingan, tim terlebih
dahulu berupaya memahami kesulitan yang dihadapi siswa dalam mengerjakan
soal-soal Bahasa Inggris. Pengamatan pembelajaran, wawancara, catatan lapangan,
jurnal reflektif mentor, serta telaah terhadap artefak pembelajaran digunakan
untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh. Dengan demikian, intervensi tidak
disusun berdasarkan asumsi bahwa siswa hanya membutuhkan tambahan latihan soal.
Temuan di kelas memperlihatkan kecenderungan yang perlu
mendapat perhatian. Pada tahap awal, sebagian siswa masih mengandalkan
pencocokan kata yang tampak familier, menebak jawaban, atau memilih opsi tanpa
memeriksa kembali kesesuaiannya dengan isi teks. Teks yang panjang, kosakata
yang belum dikenal, dan pertanyaan yang menuntut inferensi juga dapat
menimbulkan keraguan. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa latihan menjawab
soal perlu disertai pembentukan strategi membaca dan penalaran yang lebih
terarah.
Atas dasar itu, tim merancang pembelajaran yang
menempatkan proses berpikir sebagai bagian penting dari latihan. Siswa tidak
cukup diberi tahu jawaban yang benar; mereka perlu memahami mengapa suatu
pilihan tepat, bagaimana informasi ditemukan, dan atas dasar apa pilihan lain
dapat dieliminasi.
Menyiapkan mentor, menyelaraskan guru
Untuk menjamin kesiapan pendampingan, mahasiswa UIN Sunan
Gunung Djati yang terpilih terlebih dahulu mengikuti pelatihan intensif selama
dua minggu. Materinya mencakup Basic English dan Advanced English,
dengan pembekalan oleh Otong Setiawan Djuharie, Andang Saehu, dan Erfan
Muhammad Fauzi. Pelatihan ini tidak hanya memperkuat kompetensi kebahasaan,
tetapi juga membekali calon mentor dengan pendekatan pengajaran yang
komunikatif, interaktif, menyenangkan, dan berorientasi pada penalaran.
Setelah pelatihan, para mahasiswa melaksanakan
pendampingan kepada siswa di tiga madrasah tersebut dalam 14 sesi pembelajaran.
Pada saat yang sama, guru-guru Bahasa Inggris dari wilayah Garut, Cianjur, dan
Kuningan juga memperoleh pelatihan dari tim yang sama. Langkah ini penting agar
pembelajaran yang berlangsung bersama mentor tidak terputus dari praktik
pengajaran di kelas reguler. Guru dan mentor diharapkan memiliki orientasi,
pemahaman strategi, serta bahasa pedagogis yang sejalan.
Di sinilah nilai strategis model CoP terlihat.
Pengetahuan tidak bergerak satu arah dari pelatih kepada peserta, melainkan
berkembang melalui proses berbagi, mencoba, mengamati, merefleksikan, dan
memperbaiki praktik. Mahasiswa memperoleh pengalaman pedagogis nyata; guru
mendapatkan perspektif dan strategi pembelajaran yang dapat diadaptasi;
sementara siswa memperoleh lingkungan belajar yang lebih dialogis.
Dari menebak menuju bernalar
Salah satu strategi yang diperkenalkan adalah alur
sederhana tetapi mendasar: Keyword → Paragraph/Context → Evidence → Answer.
Siswa diajak mengidentifikasi kata kunci dalam pertanyaan, menemukan bagian
teks yang relevan melalui teknik skimming dan scanning, memeriksa
bukti dalam konteks, kemudian menentukan jawaban berdasarkan informasi yang
tersedia.
Pendekatan ini menggeser orientasi pembelajaran dari
sekadar mencari kecocokan kata menuju pembacaan yang berbasis bukti. Siswa juga
didorong untuk menjelaskan alasan memilih suatu jawaban dan mengapa opsi lain
tidak didukung oleh teks. Dengan cara tersebut, latihan TKA menjadi sarana
melatih pemahaman, ketelitian, dan penalaran, bukan hanya menghafal pola soal.
Perubahan proses belajar tampak dalam pengalaman siswa.
Pada awal kegiatan, beberapa siswa mengaku ragu menjawab karena takut keliru
atau merasa kesulitan menghadapi teks panjang. Dalam perkembangan berikutnya,
mereka mulai berdiskusi mengenai perbedaan jawaban, kembali membaca teks untuk
mencari bukti, mengidentifikasi gagasan utama, dan menyingkirkan pilihan yang
tidak memiliki dukungan informasi. Kesulitan tentu tidak serta-merta hilang,
terutama ketika berhadapan dengan kosakata asing dan pertanyaan inferensial.
Namun, siswa mulai memiliki strategi untuk menghadapi kesulitan tersebut.
Catatan partisipasi pembelajaran juga menunjukkan
keterlibatan yang relatif baik. Skor partisipasi yang dilaporkan masing-masing
mencapai 4,50 di MAN 1 Garut, 4,33 di MAN 1 Cianjur, dan 4,17 di MAN 1
Kuningan. Angka-angka ini perlu dibaca sebagai gambaran keterlibatan dalam
konteks kegiatan yang diteliti, bukan sebagai ukuran tunggal keberhasilan
akademik atau bukti kausal peningkatan hasil TKA.
Dari praktik lokal menuju perhatian internasional
Dampak kegiatan tidak berhenti pada ruang kelas di tiga
madrasah. Pendekatan pelatihan serupa kemudian
mendapat permintaan dari SMAN 25 Garut, SMA Al-Azhar Jakarta, serta kelompok
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris di sejumlah wilayah Jawa
Barat. Perluasan minat ini mengindikasikan adanya kebutuhan nyata di kalangan
pendidik terhadap model pengembangan kompetensi yang praktis, relevan, dan
dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Perhatian bahkan datang dari lingkungan pendidikan
Indonesia di luar negeri. Sekolah internasional di bawah naungan Atase
Pendidikan di Den Haag, Belanda, meminta pelatihan dengan pendekatan serupa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 19 September 2026. Perkembangan ini memberi
dimensi internasional pada inisiatif yang berawal dari kebutuhan pembelajaran
di tiga madrasah di Jawa Barat.
Tentu, jangkauan internasional tidak dengan sendirinya
menjadi bukti bahwa model ini telah teruji untuk semua konteks pendidikan.
Namun, permintaan tersebut menunjukkan bahwa gagasan pembelajaran yang
komunikatif, interaktif, dan berorientasi pada penalaran memiliki relevansi
yang melampaui konteks awal pengembangannya.
Penelitian ini menggunakan rancangan embedded mixed
methods, dengan studi kasus kualitatif sebagai pendekatan utama dan
pengukuran sebelum-sesudah (pre-post test) sebagai data pendukung. Data dihimpun
melalui observasi, wawancara, jurnal reflektif, dokumen pembelajaran, serta
asesmen yang berfokus pada pemahaman membaca, inferensi dalam menyimak, dan
penalaran berbasis teks. Analisis dilakukan melalui pengodean tematik dan
triangulasi antarsumber. Karena penelitian terbatas pada tiga madrasah dan
tidak menggunakan kelompok kontrol, hasilnya lebih tepat dipahami sebagai bukti
kontekstual mengenai proses, respons, dan perkembangan pembelajaran, bukan
generalisasi untuk seluruh sekolah.
Pelajaran penting dari inisiatif ini ialah bahwa
peningkatan kemampuan Bahasa Inggris tidak cukup ditempuh dengan memperbanyak
latihan soal. Sekolah memerlukan ekosistem pembelajaran yang mempertemukan
kompetensi guru, energi mahasiswa, partisipasi siswa, dan strategi pedagogis
yang tepat. Karena itu, tindak lanjut yang layak dipertimbangkan mencakup
perluasan uji coba ke sekolah dengan karakteristik beragam, pengembangan modul
pendampingan yang terstandar, pelatihan guru berkelanjutan, serta evaluasi
longitudinal untuk melihat keberlanjutan dampaknya.
Pada akhirnya, persiapan TKA semestinya
tidak berhenti pada pencapaian skor. Ukuran yang lebih bermakna ialah tumbuhnya
kemampuan siswa untuk membaca dengan cermat, berpikir dengan alasan, dan
mengambil keputusan berdasarkan bukti. Jika proses itu dapat dibangun melalui
kolaborasi lintas jenjang dan lintas institusi, maka tiga madrasah di Jawa
Barat telah memberi contoh bahwa pembaruan pembelajaran dapat bermula dari
ruang kelas setempat—lalu menginspirasi percakapan pendidikan yang lebih luas.
Otong Setiawan Djuharie adalah peneliti pengajaran dan
pembelajaran Bahasa Inggris (EFL), dan dosen pada Fakultas Adab dan Humaniora
UIN SGD Bandung.
(ah)
