Oleh Dr. H. Hery Saparudin
Nur Ilahi
Di kelas, seorang siswa dapat memiliki banyak gagasan dan tetap kesulitan menyelesaikan satu karya. Ia mungkin tahu apa yang ingin dibuat, tetapi belum terbiasa membagi waktu, menguji gagasan atau memperbaiki pekerjaan setelah menerima masukan. Di sinilah idealisme pendidik terlihat. Guru mengenali potensi siswa, menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan mereka dan membimbing mereka membangun kebiasaan yang diperlukan untuk menuntaskan pekerjaan.
Ilmu sebagai Landasan Berkarya
Matematika melatih siswa memeriksa ukuran dan perhitungan. Ilmu alam mengajak mereka mengamati keteraturan ciptaan Allah dan menguji dugaan. Ilmu sosial membantu mereka memahami kebutuhan orang lain. Ketiganya dapat bertemu dalam proyek sederhana, seperti merancang tempat sampah terpilah yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Sikap seorang pembelajar tercermin dalam doa yang diajarkan Allah pada bagian akhir Surah Ṭāhā ayat 114.
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Maknanya, “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Ṭāhā [20]: 114, penggalan ayat)
Doa ini mengajarkan kerendahan hati untuk terus belajar. Bagi guru, semangat itu tampak ketika ia bersedia mencoba cara lain saat penjelasannya belum dipahami. Bagi siswa, semangat yang sama terlihat ketika ia berani bertanya dan menggunakan jawaban yang diperolehnya untuk memperbaiki karya.
Usaha dan Ketekunan dalam Belajar
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Maknanya, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)
Ayat ini menegaskan, arti usaha dalam pertanggungjawaban manusia. Dalam pendidikan, nilainya dapat ditanamkan dengan menghargai proses yang bisa dilihat. Guru dapat meminta siswa menunjukkan catatan pengamatan, draf awal dan perbaikan yang dilakukan. Dengan begitu, siswa belajar mengenali hubungan antara usaha hari ini dan perkembangan karyanya.
Disiplin yang Menumbuhkan Kemandirian
Dari Aisyah r.a., Rasulullah saw., bersabda tentang amalan yang paling dicintai Allah.
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Maknanya, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dikerjakan, meskipun sedikit.” (HR. al-Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783b, penggalan hadis)
Pesan tentang konsistensi ini dapat diterapkan melalui target belajar yang terjangkau. Siswa yang sedang menulis laporan, misalnya; dapat berlatih mencatat satu temuan setiap hari. Catatan itu kemudian menjadi bahan untuk menyusun laporan dan memeriksa kembali kesimpulannya.
Dalam proyek kelas, guru dapat membimbing siswa melalui empat kebiasaan berikut :
- Mengatur waktu, siswa membagi tenggat menjadi tahap perencanaan, pengerjaan dan perbaikan.
- Bekerja dengan teliti, siswa mencatat sumber, memeriksa data dan memastikan kesimpulannya sesuai dengan hasil pengamatan.
- Menuntaskan pekerjaan, siswa mulai dari langkah yang sanggup ia kerjakan, meminta bantuan saat menemui kendala, dan menyelesaikan tugas yang telah disepakati.
- Berlatih secara konsisten, siswa menjadwalkan latihan singkat dan menggunakan masukan untuk memperbaiki satu bagian karya pada setiap kesempatan.
Keteladanan guru memberi bobot pada kebiasaan itu. Guru yang menepati jadwal, menjelaskan kriteria penilaian sejak awal, dan memberi masukan yang dapat ditindaklanjuti memperlihatkan bagaimana disiplin dijalankan. Seiring siswa mampu mengatur pekerjaannya, guru dapat memberi mereka ruang untuk memilih cara kerja dan menjelaskan alasan di balik pilihannya.
Simpulan
Keberhasilan pendidik terlihat ketika siswa mulai mampu mengatur waktunya sendiri, bertahan saat menemui kesulitan dan menuntaskan karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Semoga Allah memberkahi para pendidik dalam membimbing generasi yang mencintai ilmu, tekun berlatih dan menggunakan pengetahuannya untuk memberi manfaat.
Rujukan Dalil
Al-Qur’an, QS. Ṭāhā [20]: 114 dan QS. An-Najm [53]: 39.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, no. 6464.
Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, no. 783b.
TM.
