Oleh H. Hidayat, S.Pd.I., M.Pd.
Islam dan Zaman
Pagi hari, anak berangkat ke sekolah membawa buku, seragam, dan harapan orang tua. Di sekolah ia belajar matematika, bahasa, agama, sains, serta berbagai keterampilan. Namun, ketika bel pulang berbunyi, pendidikan tidak ikut berhenti. Anak kembali ke rumah, tempat ia menyaksikan bagaimana orang dewasa berbicara, memperlakukan orang lain, menggunakan gawai, menyelesaikan masalah, beribadah, dan menepati janji.
Karena itu, pendidikan anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah memang penting, tetapi keluarga tetap menjadi lingkungan pendidikan yang paling dekat dan paling lama bersama anak. Ungkapan “rumah adalah madrasah pertama” tepat dipahami sebagai prinsip pendidikan: pembentukan manusia dimulai dari kehidupan sehari-hari di rumah.
Riset internasional juga menunjukkan pentingnya keterlibatan keluarga. Sungwon Kim melalui second-order meta-analysis tahun 2022 merangkum 23 meta-analisis yang mencakup 1.177 studi primer. Hasilnya menunjukkan hubungan positif antara keterlibatan orang tua dan prestasi akademik. Temuan ini sejalan dengan meta-analisis Castro dan kolega terhadap 37 studi dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Menariknya, bentuk keterlibatan yang paling kuat bukan sekadar membantu mengerjakan pekerjaan rumah, melainkan harapan, aspirasi, komunikasi, dan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak.
Di sinilah persoalan sebenarnya muncul. Banyak keluarga menaruh harapan besar kepada sekolah, tetapi pendidikan karakter, kebiasaan belajar, etika digital, dan cara anak memandang kehidupan dibentuk juga oleh suasana rumah. Sekolah dapat menguatkan, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran keluarga
Pertama Pendidikan Dimulai dari Keteladanan di Rumah
Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dilihat berulang-ulang. Orang tua yang meminta anak disiplin tetapi terbiasa mengingkari waktu sedang memberikan dua pesan yang berbeda. Sebaliknya, orang tua yang mengajarkan kejujuran lalu menunjukkan kejujuran dalam perkara kecil sedang memberikan pelajaran yang jauh lebih kuat daripada nasihat panjang.
Al-Qur’an menegaskan tanggung jawab keluarga dalam QS At-Tahrim [66]: 6: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” Dalam Tafsir Ibn Kathir, ayat ini dijelaskan sebagai perintah mendidik keluarga dalam ketaatan kepada Allah dan membimbing mereka kepada perilaku yang baik. Artinya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang pembentukan nilai, kebiasaan, dan karakter
Kedua Orang Tua Bukan Pengganti Guru, tetapi Pendamping Pertumbuhan Anak
Keterlibatan orang tua tidak berarti mengambil alih tugas guru atau mengerjakan pekerjaan rumah anak. Meta-sintesis Sandra Wilder menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berhubungan positif dengan prestasi, tetapi pengaruhnya paling kuat ketika hadir dalam bentuk ekspektasi akademik yang baik, bukan sekadar bantuan pekerjaan rumah.
Pendampingan berarti bertanya dengan sungguh-sungguh: “Apa yang kamu pelajari hari ini?”, “Bagian mana yang belum kamu pahami?”, atau “Apa yang bisa Ayah dan Ibu bantu?” Pertanyaan sederhana seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan anak menjadi perhatian bersama. Anak juga belajar bahwa proses, usaha, dan kejujuran lebih penting daripada sekadar nilai tinggi.
Ketiga Pendidikan Nilai Membutuhkan Percakapan, Bukan Hanya Perintah
Al-Qur’an memberikan gambaran indah melalui nasihat Luqman kepada anaknya. Dalam QS Luqman [31]: 13, Luqman berbicara langsung kepada putranya dengan ungkapan “ya bunayya” — wahai anakku — lalu menanamkan dasar tauhid. Cara ini menunjukkan adanya komunikasi, kedekatan, dan nasihat yang menyentuh.
Di era digital, pola ini semakin penting. Anak menerima begitu banyak pengaruh dari media sosial, video pendek, teman sebaya, gim, dan kecerdasan buatan. Orang tua tidak mungkin mengawasi setiap layar setiap saat. Yang lebih mendasar adalah membangun kompas batin: kemampuan membedakan yang baik dan buruk, benar dan salah, bermanfaat dan merusak. Kompas itu tumbuh melalui dialog yang konsisten, bukan hanya larangan ketika masalah sudah terjadi.
Keempat Rumah dan Sekolah Harus Menjadi Mitra
Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Dalam hadis tersebut, seorang laki-laki disebut bertanggung jawab terhadap keluarganya dan seorang perempuan bertanggung jawab terhadap rumah serta anak-anaknya (HR. al-Bukhari no. 7138).
Pesan ini tidak berarti sekolah kehilangan tanggung jawab. Justru pendidikan akan lebih kuat ketika rumah dan sekolah saling mendukung. Guru mengetahui perkembangan anak di kelas; orang tua mengenal kebiasaan, emosi, dan lingkungan anak di rumah. Komunikasi yang sehat membuat keduanya tidak saling menyalahkan ketika muncul masalah, tetapi bersama-sama mencari solusi.
Pada akhirnya, sekolah tidak dapat bekerja sendirian, demikian pula keluarga tidak harus berjalan sendiri. Pendidikan terbaik tumbuh dari kemitraan yang sehat antara rumah, sekolah, dan masyarakat.
Anak mungkin belajar banyak pelajaran di kelas, tetapi cara ia memandang hidup sering kali dibentuk oleh apa yang ia lihat setiap hari di rumah. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Sekolah sudah mengajarkan apa kepada anak kita?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang sedang anak pelajari dari kehidupan di rumah kita?”
“Rumah bukan hanya tempat anak pulang. Rumah adalah tempat pendidikan bermula.”
Kata kunci: keluarga, pendidikan anak, keterlibatan orang tua, pendidikan Islam, keteladanan, kemitraan sekolah, karakter.
- Kim, S. (2022). Fifty years of parental involvement and achievement research: A second-order meta-analysis. Educational Research Review, 37, 100463. https://doi.org/10.1016/j.edurev.2022.100463
- Castro, M., Expósito-Casas, E., López-Martín, E., Lizasoain, L., Navarro-Asencio, E., & Gaviria, J. L. (2015). Parental involvement on student academic achievement: A meta-analysis. Educational Research Review, 14, 33–46. https://doi.org/10.1016/j.edurev.2015.01.002
- Wilder, S. (2014). Effects of parental involvement on academic achievement: A meta-synthesis. Educational Review, 66(3), 377–397. https://doi.org/10.1080/00131911.2013.780009
- Al-Qur’an, QS At-Tahrim [66]: 6, dengan rujukan Tafsir Ibn Kathir.
- Al-Qur’an, QS Luqman [31]: 13, dengan rujukan Tafsir Ibn Kathir.
- Sahih al-Bukhari no. 7138, hadis tentang tanggung jawab setiap pemimpin terhadap yang dipimpinnya

