Ada 4 bacaan shalat yang WAJIB dibaca dengan mengeluarkan suara meski lirih. Minimal suara yang keluar dari mulut bisa didengar oleh diri sendiri saat kondisi pendengaran normal.
Keempat bacaan itu adalah :
1. Takbiratul-Ihram
2. Al-Fatihah
3. Tasyahud Akhir
4. Salam Pertama
Selain keempat (4) bacaan di atas, maka hukumnya sunnah.
Bagi orang awam yang terlanjur hanya membaca dalam hati, maka bisa dihukumi sah menurut mazhab Maliki yang hanya mensyaratkan "cukup menggerakkan lidah".
Referensi Mazhab Syafi'i :
Kitab Fathul Mu'in
ويجب اسماعه اي التكبير (نفسه) ان كان صحيح السمع ولا عارض من نحو لغط (كسائر ركن قولي) من الفاتحة والتشهد والسلام
Artinya : "(Wajib untuk memperdengarkan) takbiratul ihram (terhadap dirinya sendiri) jika pendengarannya normal dan tidak ada hal yang menghalangi seperti suara gaduh. (Kewajiban itu seperti halnya rukun-rukun lain yang diucapkan atau rukun qauli), yakni Al-Fatihah, tasyahud akhir dan salam." (Ahmad Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathul Mu'in, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyah; 2017], halaman 27).
Kitab Majmu' Syarah Muhadzab
وَأَدْنَى الْإِسْرَارِ أَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ إِذَا كَانَ صَحِيحَ السَّمْعِ وَلَا عَارِضَ عِنْدَهُ مِنْ لَغَطٍ وَغَيْرِهِ، وَهَذَا عَامٌّ فِي الْقِرَاءَةِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّسْبِيحِ فِي الرُّكُوعِ وَغَيْرِهِ، وَالتَّشَهُّدِ وَالسَّلَامِ وَالدُّعَاءِ، سَوَاءٌ وَاجِبُهَا وَنَفْلُهَا، لَا يُحْسَبُ شَيْءٌ مِنْهَا حَتَّى يُسْمِعَ نَفْسَهُ إِذَا كَانَ صَحِيحَ السَّمْعِ وَلَا عَارِضَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ رَفَعَ بِحَيْثُ يُسْمِعُ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ، لَا يُجْزِئُهُ غَيْرُ ذَلِكَ، هَكَذَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ، وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ الْأَصْحَابُ. قَالَ أَصْحَابُنَا: وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى إِسْمَاعِ نَفْسِهِ. قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الأُمِّ: يُسْمِعُ نَفْسَهُ وَمَنْ يَلِيهِ، لَا يَتَجَاوَزُهُ
“Tingkatan paling rendah dari bacaan sirr (pelan) adalah ia memperdengarkan kepada dirinya sendiri, jika ia dalam keadaan normal pendengarannya dan tidak ada gangguan seperti kebisingan atau semacamnya. Dan hal ini bersifat umum untuk bacaan, takbir, tasbih saat rukuk dan selainnya, tasyahud, salam dan doa — baik yang wajib maupun yang sunnah. Tidak dihitung (sah) apa pun dari itu semua hingga ia memperdengarkan kepada dirinya sendiri jika pendengarannya normal dan tidak ada gangguan. Jika tidak demikian, maka ia harus mengeraskan suara secukupnya sehingga seandainya pendengarannya normal, ia bisa mendengarnya. Selain itu tidak mencukupi. Demikianlah yang ditegaskan oleh Imam asy-Syāfi‘i dan disepakati oleh para sahabatnya. Para ulama kami (madzhab Syafi‘i) berkata: Disunnahkan untuk tidak melebihi dari memperdengarkan kepada dirinya sendiri. Imam asy-Syāfi‘i berkata dalam al-Umm : Ia memperdengarkan kepada dirinya dan orang yang berada di dekatnya, namun tidak lebih dari itu.” (al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 3, hal. 295)
Referensi Mazhab Maliki :
Syaikh Muhammad bin Ahmad Ulaisy yang bermadzhab Maliki menjelaskan :
(وَ) الرَّابِعَةُ (سِرٌّ) أَقَلُّهُ لِرَجُلٍ حَرَكَةُ لِسَانٍ بِدُونِ إسْمَاعِ نَفْسِهِ وَأَعْلَاهُ إسْمَاعُ نَفْسِهِ فَقَطْ
“… yang keempat adalah (bacaan pelan), paling minimal adalah seorang lelaki menggerakkan lisannya tanpa memperdengarkan (bacaan) kepada dirinya sendiri dan yang paling maksimal adalah ia memperdengarkan (bacaan) itu hanya kepada dirinya sendiri.” (Ulaisy, al-Manh al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 1, hal. 252)
Pada bagian lain kitab ini, beliau menjelaskan :
وَ) خَامِسُهَا (فَاتِحَةٌ) أَيْ قِرَاءَتُهَا (بِحَرَكَةِ لِسَانٍ) فَلَا يَكْفِي إجْرَاؤُهَا عَلَى الْقَلْبِ بِدُونِ حَرَكَةِ لِسَانٍ( عَلَى إمَامٍ وَفَذٍّ) لَا عَلَى مَأْمُومٍ وَتَكْفِي إنْ أَسْمَعَ بِهَا نَفْسهُ بَلْ (وَإِنْ لَمْ )يُسْمِعْ نَفْسَهُ) فإنه يكفي في أداء الواجب
“… yang kelima adalah (membaca) al-Fatiḥah, yaitu membacanya dengan menggerakkan lisan. Maka tidak cukup hanya membacanya dalam hati tanpa menggerakkan lisan, bagi imam dan orang yang shalat sendirian (munfarid), bukan bagi makmum. Cukup jika ia memperdengarkan bacaannya kepada dirinya sendiri, bahkan jika ia tidak memperdengarkan kepada dirinya pun, itu sudah cukup dalam menunaikan kewajiban.” (Ulaisy, al-Manh al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 1, hal. 246-247)
Dalam kitab Mawahib al-Jalil ditambahkan :
زَادَ فِي شَرْحِ الْمُدَوَّنَةِ: فَمَنْ قَرَأَ فِي قَلْبِهِ فِي الصَّلَاةِ فَكَالْعَدَمِ، وَلِذَلِكَ يَجُوزُ لِلْجُنُبِ أَنْ يَقْرَأَ فِي قَلْبِهِ. وَقَالَ ابْنُ عَرَفَةَ: وَسَمِعَ سُحْنُونٌ ابْنَ الْقَاسِمِ: تَحْرِيكُ لِسَانِ الْمُسِرِّ فَقَطْ يُجْزِئُهُ، وَأَحَبَّ إِسْمَاعَ نَفْسِهِ
“Disebutkan tambahan dalam Syarh al-Mudawwanah : Barang siapa membaca (Al-Qur’an) hanya di dalam hatinya dalam salat, maka hukumnya seperti tidak membaca. Oleh karena itu, orang yang junub dibolehkan membaca dalam hatinya. Ibnu ‘Arafah berkata : Sahnun mendengar dari Ibnu al-Qasim, bahwa menggerakkan lisan oleh orang yang membaca secara sirr (pelan) saja sudah mencukupi (syarat sahnya), namun ia (Ibnu al-Qāsim) menyukai jika ia memperdengarkan bacaan itu kepada dirinya sendiri.” (al-Haththab, Mawahib al-Jalil, jilid 1, hal. 525)
aeptatasurya@uinsgd.ac.id
𝑲𝒊𝒕𝒂𝒃 𝑲𝒖𝒏𝒊𝒏𝒈
