Dalam Perspektif Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
Oleh : Dr. H. Hery Saparudin S.Pd.I,. M.Pd.I.
Nur Ilahi
Ketika Keuntungan Mengalahkan Nurani
Uang, jika dikejar tanpa batas, dapat menjauhkan seseorang dari kebenaran. Tindakan berulang demi keuntungan materi perlahan membiaskan pandangan; ada yang diuntungkan, namun pasti ada yang dirugikan. Titik bahaya terjadi ketika seseorang bersedia mengubah cerita, menyembunyikan fakta atau mengajak orang lain membenarkan sesuatu yang diketahuinya salah. Pada saat itu, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik, melainkan kejujuran dan amanah itu sendiri.
Kebohongan dapat disampaikan dengan bahasa yang santun, penampilan yang meyakinkan bahkan dibalut simbol keagamaan. Namun, semua itu tidak mengubah hakikatnya; bohong tetaplah bohong. Pernyataan harus diuji melalui fakta dan bukti yang sahih, bukan dari banyaknya pendukung atau tingginya kedudukan orang yang mengakuinya.
Dalam perspektif TQN, permasalahan ini bermuara pada pendidikan hati. Zikir dan pembinaan ruhani seharusnya membantu manusia mengendalikan keserakahan, meluruskan niat dan menjaga hak sesama. Kedekatan kepada Allah SWT., harus tampak dalam perilaku yang dapat dipercaya.
Mengapa Kebohongan Terus Dipertahankan ?
Dorongannya beragam; keuntungan materi, kekhawatiran kehilangan jabatan, kebutuhan akan pengakuan atau keengganan menanggung akibat kesalahan. Satu ringkasan singkat berikutnya. Orang mulai lebih sibuk mempertahankan citranya daripada memperbaiki perbuatannya.
Penjelasan ini merupakan refleksi etis, bukan penilaian terhadap pribadi tertentu. Kita tidak mengetahui seluruh isi hati seseorang. Kritik diarahkan pada tindakan yang terbukti, disertai kesempatan untuk menjelaskan dan memperbaiki diri.
Al-Qur'an Memerintahkan Perkataan yang Lurus
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan mengucapkanlah kata yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70)
Perkataan yang lurus menuntut kesesuaian antara ucapan, pengetahuan dan kenyataan. Dalam laporan keuangan, bukti, kegiatan organisasi maupun karya ilmiah. Seseorang harus berani menyatakan apa yang benar - benar diketahuinya serta mengakui hal yang belum dapat dipastikan.
Keadilan Berlaku Juga Terhadap Diri Sendiri
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang – orang yang beriman, jadilah penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun terhadap dirimu sendiri, kedua orang tua, atau kerabat.” (QS.An-Nisa [4]:135)
Ayat ini benar, bahwa membela kelompok berarti mengizinkan seluruh tindakannya. Kesetiaan yang beradab justru membantu saudara menghentikan kesalahan. Kepentingan keluarga, lembaga atau organisasi tidak pernah membolehkan pemalsuan fakta.
Kejujuran Membentuk Arah Kehidupan
Rasulullah ﷺ bersabda :
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Kebenaran kejujuran membawa keindahan, dan keajaiban menuntun menuju surga.” (HR. al-Bukhari no. 6094 & Muslim no. 2607a)
Dalam rangkaian hadis tersebut, gambarannya diperingatkan sebagai jalan menuju kedurhakaan dan neraka. Pesannya menyentuh kebiasaan; ucapan yang terus diulang membentuk watak. Kejujuran perlu digali dalam hal-hal kecil sebelum mampu dijaga saat menghadapi godaan besar.
Keuntungan Belum Tentu Membawa Keberkahan
Rasulullah ﷺ bersabda :
Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُبَيْعِهِمَا
"Jika keduanya jujur dan menjelaskan, diberkahilah jual-beli mereka. Jika keduanya bersembunyi dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka." (HR. al-Bukhari no. 2079 & Muslim no. 1532a)
Sebagai pelajaran etis, kejujuran dan keterbukaan juga berlaku dalam pengelolaan dana, pelaporan kegiatan dan pelaksanaan amanah. Uang yang bertambah tidak dengan sendirinya membuktikan, bahwa cara mendapatkannya benar.
Kebohongan mungkin memberi keuntungan sementara, tapi tidak menghapus tanggung jawab kepada Allah. Yang dapat ditegaskan; salahnya perbuatan itu nyata dan kewajiban memperbaiki tetap ada.
TQN & Pendidikan Hati yang Jujur
Berikut adalah pelatihan empat pilar hati dalam perspektif TQN :
1. Tazkiyatun Nafs — Membersihkan Jiwa
Cinta harta menjadi penyakit ketika seseorang bersedia menyerahkan kebenaran demi memilikinya. Yang perlu dibenahi adalah mempertahankan hati, bukan berarti berhenti bekerja atau mencari rezeki yang halal.
2. Zikir — Membina Ingatan kepada Allah
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 28)
Zikir harus diiringi ketaatan. Lisan yang menyebut nama Allah hendaknya dijaga dari rekayasa cerita, bukti palsu dan janji yang diingkari. Amalan ruhani tidak menggantikan kewajiban mengembalikan hak orang lain.
3. Muraqabah — Kesadaran Bahwa Allah Melihat
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (Hadis Jibril, HR. al-Bukhari no. 50 & Muslim no. 8a)
Ini membawa pertanyaan praktis : Beranikah saya menyampaikan hal ini apabila setiap detail diperiksa ? Apakah saya tetap berkata jujur padahal tidak ada keuntungan bagi diri saya sendiri? Muraqabah membantu seseorang menjaga amanah, bahkan ketika mengawasi manusia terbatas.
4. Muhasabah & Sidq — Pemeriksaan Diri
Seorang salik perlu memeriksa keselarasan niat, ucapan dan tindakan. Mengakui kesalahan mungkin merugikan gengsi, tetapi membuka jalan perbaikan. Menutupinya justru memperpanjang kerugian.
Langkah Nyata untuk Kembali ke Kejujuran
1. Hentikan dramatis — Jangan tambah cerita, ubah dokumen atau minta orang lain berbohong.
2. Periksa fakta — Bedakan bukti asli, dugaan dan kabar yang belum terverifikasi.
3. Bertobat dengan sungguh - sungguh — Sesali, tinggalkan dan teguhkan niat tidak kembali.
4. Pulihkan hak yang dirugikan — Kembalikan apa yang bukan milik, luruskan laporan, koreksi informasi yang salah.
5. Bangun pengawasan — Catatan, bukti, pemeriksaan bersama dan keterbukaan konflik kepentingan.
6. Rawat latihan ruhani — Zikir, muhasabah dan perbaikan perilaku setiap hari.
penutup
Harga Diri Dijaga dengan Amanah
Harga diri bukan berarti gengsi yang menolak nasehat, melainkan martabat yang dijaga melalui kejujuran dan tanggung jawab. Orang yang pernah berbuat salah tetap memiliki jalan untuk menerjemahkan dan memperbaiki diri. Menghina pelaku tidak membantu pemulihan, ketegasan terhadap perbuatan perlu disertai keadilan terhadap manusia.
“Penyakit Kebohongan intinya mampu masuk ke segala aspek, seperti darah mengalir membawa virus yang menjalar ke mana - mana hingga merusak sel - sel yang ada di dalam tubuh.”
Jangan biarkan uang menentukan mana yang harus kita sebut benar. Rezeki dicari dengan ikhtiar yang halal, sedangkan kebenaran dijaga dengan keberanian dan adab. Ketika kesalahan terjadi, jalan pulang dimulai dengan berhenti berdusta dan mengambil tanggung jawab untuk memperbaikinya.
Rujukan dan catatan teks
Al-Qur'an : QS. Al-Ahzab [33]: 70; QS. An-Nisa [4]: 135; QS. Ar-Ra'd [13]: 28. Teks ayat ditulis dengan ejaan Arab imla'i. Terjemahan Indonesia merupakan terjemahan makna; petikan ayat ditandai secara jelas.
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari: tidak. 6094 tentang kejujuran; TIDAK. 2079 tentang keberkahan jual beli; TIDAK. 50 tentang ihsan. Muslim, Shahih Muslim: tidak. 2607a; TIDAK. 1532a; TIDAK. 8a tentang ihsan melalui Umar bin al-Khattab. Hadis Jibril melalui Umar juga terdapat dalam Muslim no. 8a. Penomoran dapat berbeda menurut edisi.
Tautan pemeriksaan: quran.com/33/70; quran.com/4/135; quran.com/13/28; sunnah.com/bukhari:6094; sunnah.com/muslim:2607a; sunnah.com/bukhari:2079; sunnah.com/muslim:1532a; sunnah.com/bukhari:50; sunnah.com/muslim:8a.
Bacaan pendamping: al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab Afat al-Lisan serta Kitab Dhamm al-Mal wa al-Bukhl; Sri Mulyati dkk., Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, bagian Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Kaitan praktis TQN dalam tulisan ini merupakan sintesis reflektif penulis, bukan kutipan langsung dari kedua buku tersebut.
TM .
