"Selamat Hari Santri Nasional 2026"
(Analisis Suksesi Manajemen Pengkaderan Pondok Pesantren)
Oleh : Dr.KH. Aep Tata Suryana SH,. MM,. MBA.
Catatan Redaksi
Pondok Pesantren YAMISA (Yayasan Miftahussalam), Soreang Kabupaten Bandung, telah memberikan kontribusi besar bagi negeri melalui penguatan pendidikan Islam, perluasan akses pendidikan formal, pelatihan karakter dan kader ulama serta layanan sosial-keagamaan bagi masyarakat.
Perkembangannya bermula dari kegiatan majelis taklim pada tahun 1950-an, kini tumbuh menjadi lembaga pendidikan dan keagamaan yang melayani jenjang mulai dari TK hingga perguruan tinggi.
Latar Belakang & Kepengurusan
YAMISA dirintis, oleh Mama Sepuh KH. Uyeh Balukia Syakir Syuja'i (Mama Uyeh) sejak tahun 1950-an, bermula dari majelis taklim di Masjid Agung Soreang. Pondok pesantren resmi berdiri pada tahun 1968, dengan payung hukum Yayasan Misi Islam Ahli Sunnah Wal Jamaah, yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Miftahussalam.
Nasihat guru mungkin hanya singgah sebentar di telinga, tetapi maknanya dapat menetap sepanjang usia. Maka hormatilah mereka yang telah bersusah payah menunjukkan jalan, sebab sebagian kebaikan yang kita pahami hari ini lahir dari ketulusan mereka dalam mendidik.
Kini, tongkat estafet dilanjutkan oleh putra beliau Dr. KH. Yayan Hasuna Hudaya M.Pd., beserta keluarga termasuk putra sulung Mama Anom KH. Haris Mawardi S.Pd.I,. SH,. MH, dan para cucu.
Himpunan Alumni Yamisa (HIMAMI), kini mengabdi di berbagai sektor; seperti Kyai, Ustadz, Ajengan, politisi, birokrat, ASN, pegawai Kementerian Agama, dosen UIN hingga tenaga pendidik di Kemendikbud.
Pendirian pesantren ini, awalnya bertujuan memenuhi kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat Soreang, membina generasi Islam berbasis Ahli Sunnah Wal Jamaah serta menjawab tantangan pengaruh kristenisasi pada masa itu.
Jejak Perjalanan & Kontribusi dari Masa ke Masa
Periode Tonggak Sejarah & Kontribusi Utama
1950-an Mama Uyeh membangun basis dakwah melalui majelis taklim dan pendidikan Islam. Mendirikan Sekolah Menengah Islam pada tahun 1952.
1968, berdiri resmi Pondok Pesantren Yamisa. Memperluas pendidikan kitab kuning, sistem asrama santri dan pembinaan akhlak berbasis masjid.
1972–2002, pembinaan spiritual dan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah melalui pengajian, zikir dan ceramah. Membentuk santri yang kuat secara akidah dan karakter.
1987–1991, berdirinya Perguruan Tinggi Islam di Soreang, awalnya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS), memperoleh status terdaftar dari Kementerian Agama pada tahun 1991.
1989–2003, berdirinya KBIH Miftahussalam/Yamisa untuk membimbing calon jamaah haji; izin operasional resmi diperoleh pada tahun 2003.
2008 dan setelahnya STAI Yamisa terakreditasi BAN-PT. Terus mencetak alumni di bidang pendidikan, birokrasi, politik, kewirausahaan serta tokoh agama dan masyarakat.
Kontribusi Utama bagi Bangsa & Negara
1. Pendidikan & Sumber Daya Manusia
YAMISA, memperluas akses pendidikan bagi masyarakat Soreang dan sekitarnya melalui jalur pesantren serta pendidikan formal dari jenjang anak usia dini hingga perguruan tinggi. Model pendidikan ini memadukan ilmu agama dan ilmu umum, agar santri mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman.
Santri Yamisa diharapkan menjadi Intelektual Ulama, Birokrat dan Pengusaha yang rukun dengan pemerintah.
Hingga saat ini, lebih dari 7.000 siswa, murid dan santri belajar di lingkungan Yamisa. STAI Yamisa sendiri telah melahirkan puluhan ribu alumni yang tersebar di berbagai sektor pembangunan nasional.
2. Pembinaan Moral & Kader Keagamaan
Pesantren ini membentuk santri sebagai "patok masjid" pemimpin, pengajar dan pembina masyarakat dalam urusan keagamaan. Nilai yang ditekankan meliputi akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, pengamalan ibadah dan akhlak mulia, dengan keilmuan yang bersambung dari para ulama pendahulu; Kyai Mama Gedong Sufyan Dimyati (Sukamiskin, Bandung), Ki Haji Armin Tohir (Cibuntu, Banten) dan Ki Haji Jauhari (Pasuruan-Malang, Jawa Timur).
3. Pelayanan Sosial & Ibadah
Melalui KBIH Miftahussalam yang dulu dipimpin oleh Almarhum KH. Epi Baroya Baluqia dan kini dilanjutkan oleh KH. Haris Mawardi, pesantren membantu masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji dengan pembimbingan ilmu yang mampu menjadi wujud nyata layanan sosial-keagamaan bagi masyarakat Kabupaten Bandung.
4. Penguatan Ekonomi Komunitas
Keberadaan Koperasi Pesantren (Kopontren) dan berbagai unit kegiatan ekonomi menunjukkan peran YAMISA yang tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, tetapi juga dalam pemberdayaan ekonomi santri dan masyarakat sekitar.
Apresiasi & Penghargaan
Pemerintah Kabupaten Bandung secara konsisten menyatakan peran strategis pesantren, dari masa Bupati Letkol H. Lili Somantri, Letkol Sani, Letkol Hatta, Letkol H. Obar Sobarna, Dr. H. Dadang Naser hingga masa Bupati saat ini, Dr. H. Dadang Supriatna :
“Pesantren merupakan pilar pembangunan sumber daya manusia yang religius dan berkarakter, sehingga perlu terus didukung melalui kebijakan dan fasilitas.”
Pada peringatan Hari Santri Nasional ke-12, tanggal 22 Oktober 2026 di Lapangan Upakarti Soreang, Ketua MUI dan Ketua Yayasan Yamisa Soreang menerima dua penghargaan sekaligus dari Bupati Kabupaten Bandung Dr. H. Dadang Supriatna
Tema peringatan :
"Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas."
22 Oktober 2026.
Momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga keutuhan NKRI.
Dari pesantren, santri ditempa dengan ilmu, adab dan keikhlasan. Berbekal ilmu agama dan semangat kebangsaan, santri terus berkhidmah untuk umat, menjaga nilai – nilai luhur bangsa serta menjadi generasi penerus yang membawa manfaat bagi Agama, bangsa dan Negara.
Mengilhami semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, mari kita kobarkan kembali semangat perjuangan, persatuan dan pengabdian demi terwujudnya Indonesia yang lebih maju serta berdaya.
Santri kuat, negeri hebat ! Mengaji dengan hati, mengabdi sepenuh jiwa.
Semoga Allah SWT., senantiasa memberikan kekuatan dan keberkahan kepada seluruh santri dalam menuntut ilmu dan mengabdi.
Diawali dari Kontribusi Pondok Pesantren, khusus Pesantren Yamisa untuk negeri dalam empat (4) pilar utama; mendidik, membina karakter, mengabdi pada keagamaan dan memberdayakan ekonomi. Dari sekedar majelis taklim pada tahun 1950-an, berkembang menjadi pesantren pada tahun 1968.
Hingga kini menjadi garda lembaga pendidikan lengkap, dakwah dan Pemberdayaan Umat.
Dimasa kini — YAMISA berperan memperkuat pendidikan nasional, kader keagamaan, kesejahteraan masyarakat dan ketahanan sosial-keagamaan di Jawa Barat. Membuktikan Model pesantren, sebagai mitra strategi pemerintah demi mewujudkan masyarakat “Baldatun Toyibatun Wal Ghofurrohiim”
TM .




