Oleh Dr. H. Cece Hidayat M.Si.
Direktur LPM-DT Jawa Barat.
Perhelatan Akbar Santri di Cianjur
Pekan Olahraga dan Seni Antar-Diniyah (PORSADIN) ke-8 Tingkat Provinsi Jawa Barat akan digelar selama tiga hari, 23–25 Oktober 2026, di Komplek Pemkab Cianjur. Perhelatan akbar sekaligus peringatan Hari Santri 2026 ini rencananya akan dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.
PORSADIN seharusnya tidak berhenti sebagai ajang perlombaan dan perayaan prestasi santri. Lebih dari itu, momen ini harus menjadi titik tolak untuk mencapai masa depan pendidikan Diniyah Takmiliyah (MDT), termasuk penetrasi sejauh mana pemerintah hadir mendukung lembaga yang selama ini turut membangun karakter generasi bangsa.
Di Balik Kemeriahan, Ada Realitas yang Tak Bisa Diabaikan
Kita patut bangga atas prestasi santri. Namun, di balik kemeriahan acara, ada persoalan yang tidak boleh terus disembunyikan :
- Kualitas pendidikan belum merata
- Kesejahteraan ustaz dan ustazah masih jauh dari kecukupan
- Sarana dan prasarana pembelajaran terbatas
- Dukungan pemerintah belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata lembaga Diniyah
“Jangan sampai kita sibuk merayakan prestasi santri di atas panggung, sementara persoalan yang menghadang santri dan pendidiknya di ruang kelas terus berlangsung tanpa penyelesaian yang jelas.”
Potensi Besar, Perhatian Harus Sebanding
Data Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Barat, menunjukkan angka yang luar biasa :
Data Jumlah
Lembaga MDT 32.184
Santri 881.123
Ustaz & Ustazah 128.969
Ruang Kelas 90.460
Rombongan Belajar 76.801
Angka ini menunjukkan besarnya potensi pendidikan Diniyah di Jawa Barat, sekaligus besarnya tanggung jawab yang harus dipikul. Besarnya jumlah lembaga tidak otomatis berarti kualitasnya telah merata. Masih ada lembaga yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar pembelajaran, pendidik yang menghadapi keterbatasan kesejahteraan dan pengelola yang mengandalkan swadaya masyarakat agar kegiatan belajar tetap berlangsung.
“Potensi besar tidak boleh hanya menjadi angka dalam laporan atau kebanggaan dalam forum. Ia harus diterjemahkan menjadi peningkatan mutu yang dirasakan langsung oleh setiap santri.”
Kualitas Santri Tidak Cukup Diukur dari Panggung Perlombaan
PORSADIN memang ruang penting untuk mengembangkan bakat, kreativitas, sportivitas dan kepercayaan diri santri. Namun, prestasi perlombaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan Diniyah.
Keberhasilan yang lebih mendasar adalah ketika santri memiliki :
- Pemahaman agama yang baik
- Akhlak yang kuat
- Kemampuan mengamalkan ilmu
- Kesiapan menghadapi perubahan zaman
Santri membutuhkan lebih dari sekedar panggung untuk berprestasi. Mereka memerlukan pendidikan yang berkualitas, pendidik yang kompeten dan lingkungan belajar yang layak. Jangan sampai kita serius mempersiapkan peserta PORSADIN, namun belum memberikan perhatian sebanding terhadap kualitas pembelajaran seluruh santri di ribuan MDT.
MDT Masih Bertumpu pada Swadaya Masyarakat
Persoalan mendasar pendidikan Diniyah, adalah besarnya ketergantungan pada swadaya masyarakat — iuran, sumbangan orang tua dan pengabdian tulus kepada ustaz serta ustazah. Kemandirian ini patut dikagumi, namun sampai kapan masyarakat harus menanggung beban ini sendirian tanpa dukungan pemerintah yang setara?
Pemerintah pusat dan daerah harus memperkuat dukungan melalui :
- Program peningkatan mutu pendidikan
- Bantuan sarana-prasarana yang tepat sasaran
- Pembinaan dan peningkatan kompetensi pendidik
- Dukungan pembiayaan yang berkelanjutan dan transparan
Kita tidak meminta perlakuan istimewa. Kita menuntut perhatian yang proporsional terhadap lembaga yang ikut memikul tanggung jawab besar membentuk karakter generasi bangsa.
Kesejahteraan Ustaz: Pengabdian Tidak Boleh Menjadi Alasan untuk Diam
Persoalan kesejahteraan ustaz dan ustazah harus disampaikan secara terbuka. Mereka mengajarkan ilmu, membimbing ibadah, menumbuhkan akhlak namun penghasilan yang diterima masih jauh dari kecukupan di banyak tempat.
“Pengabdian adalah nilai luhur, tetapi tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menormalisasi kesejahteraan yang tidak layak.”
Menghormati ustaz tidak cukup dengan ucapan terima kasih atau dianugerahi simbolis dalam seremoni. Pemerintah perlu memperjelas skema dukungan kesejahteraan, memperluas peluang peningkatan kompetensi dan memastikan program dapat diakses secara transparan dan berkelanjutan.
Sarana-Prasarana : Jangan Biarkan Santri Belajar dalam Keterbatasan
Keterbatasan ruang belajar, buku, media pembelajaran, fasilitas sanitasi dan akses teknologi masih menjadi tantangan nyata. Angka 90.460 ruang kelas belum menjelaskan kelayakan dan kelengkapan setiap fasilitas.
Pemerintah perlu melakukan pemetaan kondisi riil dan memprioritaskan bantuan bagi lembaga-lembaga yang paling membutuhkan bukan berdasarkan kemampuan menyusun proposal, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Menanti Kebijakan yang Terarah dan Berkelanjutan
Harapan besar muncul pada Dirjen Pesantren dan kebijakan yang lebih terarah. Yang dibutuhkan bukan program sporadis, melainkan :
- Peta jalan pengembangan MDT yang jelas
- Pendataan kondisi lembaga yang akurat
- Penguatan kesejahteraan pendidik
- Pemerataan sarana-prasarana
- Program peningkatan kompetensi yang berkelanjutan
- Target, jadwal dan indikator keberhasilan yang diukur
“Yang ditunggu bukan sekedar pernyataan bahwa MDT penting, melainkan keberanian mengambil kebijakan dan memastikan hasil yang benar-benar dirasakan lembaga, ustaz, dan santri.”
Penutup : PORSADIN Harah Menjadi Titik Tolak Perubahan
PORSADIN ke-8 Jawa Barat harus menjadi momentum menyatukan kebanggaan, atas prestasi dengan keberanian memperjuangkan masa depan pendidikan Diniyah. Tidak boleh ada lagi yang terlupakan setelah acara selesai. Perlu ada tindak lanjut yang jelas melalui dialog antara pemerintah, FKDT, pengelola MDT dan pendidik.
LPM-DT dan FKDT Jawa Barat siap berkolaborasi dengan Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota serta semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap peningkatan akhlak anak – anak menuju Indonesia Emas.
Selamat dan sukses PORSADIN ke-8 Tingkat Provinsi Jawa Barat di Cianjur, 23–25 Oktober 2026.
Semoga momentum ini tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi titik tolak perjuangan bersama untuk memperkuat pendidikan Diniyah Takmiliyah demi masa depan santri, umat dan bangsa.
Direktur LPM-DT Jawa Barat.
Editor TM.



