Oleh : Momon
(Dosen PIAUD Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Edukasi PIAUD
Seorang anak terlahir dengan fitrah tauhid, kemudian ia tumbuh berkembang sesuai dengan didikan lingkungannya. Begitu ia memasuki tahap kesadaran, dimulailah fase bertanya dan rasa ingin tahu tentang banyak hal. Mungkin pertanyaan yang paling umum dan sering muncul adalah : Siapakah Allah ? Dan, mengapa segala sesuatu diciptakan ?
Namun, banyak orang tua atau pun guru yang memberikan jawaban yang kurang memadai atau justru menghindar untuk menjawabnya. Akibatnya, pertanyaan tentang Allah tetap menggantung di benak anak tanpa mendapatkan jawaban yang memuaskan, sehingga api fitrah itu perlahan meredup jika tidak ada yang menyiraminya. Secara umum, anak - anak memiliki kecenderungan alami untuk mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ajarkanlah kalimat pertama kepada anak - anak kalian dengan "La ilaha illallah" (Tiada Tuhan selain Allah) dan tuntunlah mereka saat menjelang ajal dengan "La ilaha illallah". Karena barangsiapa yang awal perkataannya, adalah "La ilaha illallah" dan akhir perkataannya adalah "La ilaha illallah", kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka ia tidak akan ditanya tentang satu dosa pun (HR. Baihaqi dari Abdullah Ibnu Abbas)
Ini berarti, bahwa pertanyaan tentang Allah SWT., bersifat fitri namun memerlukan penghidupan dan keberlanjutan pengetahuan agar apinya tidak padam atau memudar. Ada beberapa cara mengenalkan Allah kepada Anak;
Pertama : Pengalaman indrawi
Karena anak pada tahap awal lebih mengandalkan persepsi sensorik, anda bisa memulainya dari alam dan keindahannya, termasuk tanaman, burung, hewan dan bunga. Kemudian, kaitkan hal tersebut, dengan Allah melalui ungkapan seperti;
Allah menciptakan pepohonan dan bunga, menyediakan buah-buahan untuk kita, memberikan aroma yang harum pada bunga serta menurunkan hujan untuk menyirami tanaman agar menjadi sumber makanan bagi kita dan tempat berlindung bagi makhluk lainnya.
Kedua : Ceritakan Kisah - kisah dalam Al-Qur'an
Kisah - kisah dalam Al-Qur'an, merupakan sarana pendidikan yang efektif karena menyentuh akal dan perasaan sekaligus serta membantu anak untuk merenungkan keagungan Allah.
Seperti kisah semut dengan Nabi Sulaiman AS., dan bagaimana beliau berbicara dengannya atas izin Allah.
Seorang anak mungkin bertanya : Mengapa Allah menciptakan matahari, malam dan hewan ? Kita menjawabnya bahwa matahari diciptakan untuk kehangatan, cahaya dan pertumbuhan tanaman, malam untuk beristirahat dan tidur, sedangkan hewan diciptakan untuk menjadi sahabat manusia dan sebagian lainnya ditundukkan agar kita dapat memanfaatkan daging, susu serta apa yang bisa dimanfaatkan.
Ketiga : Tahapan dalam Menanamkan Tauhid
Menanamkan tauhid pada anak - anak usia dini merupakan proses memperkenalkan dan menumbuhkan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Kuasa adalah Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta dan satu-satunya yang layak disembah. Penanaman tauhid harus dilakukan secara bertahap, sejalan dengan perkembangan kognitif, bahasa, emosional dan spiritual anak, melalui pemberian teladan yang baik, pembentukan kebiasaan, bercerita, bermain serta pengalaman sehari-hari.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Pada suatu hari aku berada tepat di belakang Rasulullah SAW., lantas beliau bersabda : “Wahai anak, sungguh aku akan mengajarkan kepada kalian beberapa kalimat: 1) Jagalah (syariat) Allah, maka Dia akan menjagamu, 2), jagalah Allah maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu, 3), apabila kamu memohon, memohonlah kepada Allah dan 4), apabila kamu meminta sesuatu maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu maka kemanfaatan itu tiada berguna kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Begitu pula jika umat manusia berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, maka tiada mampu mereka mencelakakanmu kecuali atas ketetapan Allah. Pena-pena telah terangkat dan lembaran (takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi)
Keempat : Meningkatkan Pengetahuan dan Proses Pembiasaan Memperkenalkan Allah
Kepada anak - anak usia dini melalui peningkatan pengetahuan dan proses pembentukan kebiasaan, merupakan strategi utama dalam menanamkan konsep tauhid. Peningkatan pengetahuan dicapai melalui pengamatan terhadap ciptaan Allah, kisah - kisah dari Al-Qur’an, sesi tanya-jawab, lagu dan permainan edukatif.
Sementara itu, proses pembentukan kebiasaan dilakukan melalui shalat, pembacaan kalimat - kalimat yang penuh berkah, amalan ibadah, rasa syukur, memberikan teladan yang baik, dan akhlak yang mulia. Melalui praktik yang konsisten, menyenangkan dan penuh kasih sayang, diharapkan anak - anak akan mulai mengenali Allah, mencintai ajaran Islam dan menerapkan nilai - nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Tahun - tahun pertama, adalah fase penting untuk menanamkan pengetahuan anak tentang Allah. Hal ini, dilakukan dengan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari, seperti; mengajarkan membaca basmalah saat mulai makan dan hamdalah setelah selesai serta membaca surah - surah pendek saat hendak tidur dan bangun tidur, agar iman tertanam sejak dini dengan lancar dan tanpa beban.
Simpulan
Anak, adalah sosok yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang alami. Pertanyaannya tidak boleh ditekan, melainkan hubungan mereka dengan Tuhan harus dibangun di atas dasar cinta, ketenangan dan kedekatan, bukan rasa takut atau ancaman.
Sifat - sifat Tuhan yang Maha Penyayang, Maha Pemberi Rezeki dan Maha Lembut harus ditonjolkan. Hindari mengaitkan citra Tuhan dengan hukuman atau intimidasi yang justru dapat menanamkan ketakutan patologis, alih - alih cinta yang sadar.
Pertanyaan anak bukanlah gangguan, melainkan kesempatan untuk membangun akal dan kesadaran spiritual mereka dengan cara yang benar. Dengan begitu, bahwa Tuhan akan senantiasa hadir sebagai poros kehidupan mereka, sebagaimana fitrah yang telah ada sejak awal.
TM.
