Oleh: A. Rusdiana
”Semangat santri dan Sumpah Pemuda bertemu:
mampukah karakter, persatuan, dan literasi melahirkan karya untuk Indonesia?”
Hari Santri pada 22 Oktober dan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 menghadirkan pesan yang saling menguatkan. Santri diajak berperan dalam pembangunan bangsa, sementara pemuda dituntun untuk patriotik, gigih, dan berempati.
Namun, semangat peringatan belum tentu
berlanjut menjadi tindakan. Di tengah derasnya informasi dan beragam tantangan
sosial, masih diperlukan generasi yang mampu menjaga persatuan sekaligus
menghadirkan solusi. Karena itu, pendidikan perlu menjembatani nilai perjuangan
santri dan ikrar pemuda menjadi karakter serta karya yang bermanfaat.
Tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, menempatkan santri sebagai bagian dari solusi atas tantangan bangsa. Adapun tema Hari Sumpah Pemuda ke-98, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, mengajak generasi muda mengambil peran aktif dalam kehidupan bersama.
Tulisan ini mengajak pembaca melihat empat langkah untuk mempertemukan kedua semangat tersebut: meneguhkan karakter, merawat persatuan, mengembangkan literasi digital, dan menghadirkan karya bagi masyarakat.
Pertama, meneguhkan karakter sebagai dasar
perjuangan; Tradisi pesantren mengajarkan nilai kedisiplinan, kesederhanaan,
kemandirian, dan penghormatan kepada ilmu. Nilai itu tetap diperlukan ketika
generasi muda menghadapi perubahan yang cepat. Pengetahuan dan keterampilan
akan lebih bermanfaat apabila dituntun oleh kejujuran dan tanggung jawab.
Pendidikan karakter dapat dimulai dari
pembiasaan yang dekat dengan kehidupan: menepati janji, mengerjakan tugas
secara jujur, menerima koreksi, dan menjaga amanah. Dalam lingkungan
pendidikan, keteladanan guru, orang tua, serta tokoh masyarakat memberi contoh
bahwa integritas harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Kedua, merawat persatuan dengan sikap
empati; Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda Kedua di Jakarta pada 27–28
Oktober 1928. Para pemuda dari berbagai latar belakang menyatakan komitmen
terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan Indonesia. Ikrar
tersebut menunjukkan bahwa cita-cita bersama dapat tumbuh di tengah perbedaan.
Kini, semangat persatuan perlu dihidupkan
dalam pergaulan, organisasi, dan ruang digital. Berbeda pendapat merupakan hal
yang wajar, tetapi cara menyampaikannya harus tetap menghargai martabat sesama.
Empati membantu pemuda mendengarkan persoalan orang lain dan mencari jalan
bersama bagi kepentingan masyarakat.
Ketiga, menjadikan literasi digital jalan
kebermanfaatan; Tantangan zaman menuntut santri dan pemuda tidak hanya mampu
menggunakan teknologi, tetapi juga memahami tanggung jawab yang menyertainya.
Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik; karena itu, kemampuan memeriksa
sumber dan mempertimbangkan dampak sebelum membagikan berita menjadi semakin
penting.
Literasi digital juga dapat diarahkan pada
penciptaan karya. Santri dan pelajar dapat menulis artikel, membuat poster
edukasi, mendokumentasikan kegiatan sosial, atau memperkenalkan potensi daerah.
Dalam ruang ini, media seperti elitkita.com dapat menjadi
sarana belajar dan berbagi gagasan yang mendorong keterbukaan serta memberikan
manfaat bagi pembaca.
Keempat, membuktikan patriotisme melalui
karya dan pengabdian; Semangat kebangsaan memperoleh makna ketika diwujudkan
dalam kerja nyata. Karya tidak harus selalu dimulai dari program besar. Membantu
anak-anak belajar membaca, menjaga lingkungan, mendampingi penggunaan
teknologi, atau mengangkat kisah inspiratif masyarakat merupakan langkah yang
dapat dilakukan bersama.
Sekolah, pesantren, komunitas, dan media
dapat membuka ruang kolaborasi bagi generasi muda. Melalui kegiatan tersebut,
mereka belajar mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun gagasan, bekerja dalam
tim, dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Dari pengalaman itulah tumbuh
keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi
negeri.
Pada akhirnya, pertemuan semangat Hari
Santri dan Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa Indonesia Emas 2045 memerlukan
generasi yang kuat karakter, teguh menjaga persatuan, cakap berliterasi, dan
peduli kepada sesama. Tugas bersama kita adalah memberi ruang agar nilai-nilai
tersebut tumbuh menjadi karya. Ketika ilmu digunakan untuk menjawab persoalan
masyarakat, semangat santri dan ikrar pemuda akan terus hidup dalam pengabdian.
Wallahu A’lam.
Penulis:
A. Rusdiana, Guru besar Manajemen Pendidikan
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini Ketua Tim PKM. “Penguatan Kelompok Bimbingaan Haji Umrah
Masjid Agung Untuk Kemandirian Jamaah Haji” Penulis
Buku Manajemen Alhklak; Sistem Informasi Manajemen, dan Pemegang Matakuliah
Kebijakan; SIM-Pendidikan; Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran
Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di
Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan
Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina
Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan
Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten
Ciamis Provinsi Jawa Barat.
