Oleh Dr. KH. Hery Saparudin M.Pd.I
Nur Ilahi
Imam al-Ghazali melalui Ihya’ ‘Ulumiddin memberikan perhatian besar terhadap kehidupan lahir dan batin seorang Muslim. Pembahasan ringkas ini mengacu pada definisi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Menuju Pembentukan Akhlak Mulia. Rub‘ al-Muhlikāt (رُبْعُ الْمُهْلِكَاتِ), beliau menguraikan penyakit - penyakit jiwa yang dapat merusak perjalanan manusia menuju Allah.
Menoleh perjalanan seorang sālik tidak cukup dengan memperbanyak dzikir, tetapi harus disertai penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, mujahadah, riyadhah, muraqabah serta pembentukan akhlak mulia. Dalam kerangka ini, dzikir berfungsi menghidupkan kesadaran kepada Allah, sedangkan mujahadah dan riyadhah menjadi latihan untuk membersihkan hati dari sifat tercela. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya pribadi yang ikhlas, tawadhu, sabar, istiqamah, berakhlak mulia, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Rub‘ al-Muhlikāt dan Relevansinya dengan TQN terbagi 10 elemen penting :
Kesatu : Keajaiban Hati (عجائب القلب) Al-Ghazali menempatkan hati sebagai pusat kehidupan spiritual. Baik dan rusaknya perilaku sangat berkaitan dengan keadaan hati. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging; apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh, yaitu hati.
Qalb, menjadi pusat pembinaan seorang sālik. Dzikir tidak berhenti pada lisan, tetapi diarahkan agar kesadaran kepada Allah hidup di dalam hati. Perjalanan ini dapat dipahami sebagai perubahan dari qalbun ghāfil (hati yang lalai), menuju qalbun dzākir (hati yang mengingat Allah), dan diharapkan menuju qalbun salīm (hati yang bersih dan selamat).
Kedua : Riyadhatun Nafs dan Tahdzibul Akhlak (رياضة النفس وتهذيب الأخلاق) Al-Ghazali mengajarkan bahwa jiwa harus dididik dan dilatih. Mujahadah berarti bersungguh - sungguh melawan kecenderungan buruk hawa nafsu, sedangkan riyadhah berarti melatih jiwa secara terus-menerus agar terbiasa dalam ketaatan dan akhlak terpuji.
Banyaknya dzikir, idealnya berbuah pada perubahan akhlak. Seorang sālik seharusnya semakin sabar, tawadhu, jujur, ikhlas, menjaga lisan, menghormati guru, menyayangi sesama, dan tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Dengan demikian, kualitas suluk terlihat bukan hanya pada amalan ritual, tetapi juga pada transformasi karakter.
Ketiga : Mengendalikan Syahwat (كسر الشهوتين) Al-Ghazali, membahas pengendalian syahwat perut dan seksual. Keduanya, merupakan bagian dari fitrah manusia, tetapi harus berada di bawah tuntunan syariat. Berlebihan dalam memenuhi keinginan jasmani dapat membuat hati berat dan melemahkan kesungguhan beribadah.
Perjalanan TQN, riyadhah mengajarkan disiplin diri. Tujuannya bukan mematikan kebutuhan jasmani, melainkan menempatkan nafsu di bawah kendali iman dan syariat; nafsu dikendalikan oleh iman, bukan iman dikendalikan oleh nafsu.
Keempat : Menjaga Lisan (آفات اللسان) Al-Ghazali, menjelaskan banyak penyakit lisan, seperti dusta, ghibah, namimah, membuka aib, mencaci, perdebatan yang tidak bermanfaat, perkataan kasar dan ucapan sia - sia.
Lisan yang digunakan untuk berdzikir seharusnya semakin terjaga dari perkataan yang menyakiti. Dzikir lisan diarahkan menuju dzikir hati, dan dzikir hati semestinya melahirkan akhlak lisan. Karena itu, banyaknya wirid tidak boleh terpisah dari kemampuan menjaga ucapan.
Kelima : Marah, Dendam, dan Hasad (ذم الغضب والحقد والحسد) Marah yang tidak terkendali dapat melahirkan dendam, sedangkan dendam yang dipelihara dapat berkembang menjadi hasad. Hasad membuat seseorang tidak senang melihat nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain.
Seorang sālik melakukan muhasabah, istighfar, dzikir dan latihan memaafkan. Dzikir seharusnya melembutkan hati. Semakin kuat kesadaran kepada Allah, semakin besar usaha membersihkan kebencian, dendam, dan iri dari batin.
Keenam : Tidak Diperbudak Dunia (ذم الدنيا) Celaan terhadap dunia tidak berarti meninggalkan seluruh aktivitas duniawi. Persoalannya, adalah ketika dunia menguasai hati dan menjadi tujuan tertinggi. Seorang Muslim tetap dapat bekerja, memiliki harta, memimpin, mengajar dan berusaha, tetapi semuanya ditempatkan sebagai sarana pengabdian kepada Allah.
Prinsip dapat diringkas; dunia berada di tangan, bukan menguasai hati. Kedudukan dan aktivitas duniawi menjadi wasilah untuk beribadah, berkhidmah dan memberikan manfaat.
Ketujuh : Cinta Harta dan Bakhil (ذم المال والبخل) Harta pada dirinya bukan sesuatu yang tercela. Penyakit muncul ketika hati terikat secara berlebihan kepada harta sehingga melahirkan tamak, bakhil dan kelalaian terhadap akhirat.
Harta diarahkan menjadi sarana sedekah, khidmah, membantu sesama dan kemaslahatan umat. Dengan demikian, kepemilikan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi menjadi jalan pengabdian.
Kedelapan : Cinta Kedudukan dan Riya (ذم الجاه والرياء) Penyakit ini sangat halus karena seseorang dapat meninggalkan kecintaan terhadap harta, tetapi masih menginginkan penghormatan, popularitas, pujian, pengikut dan pengakuan manusia. Bahkan amal ibadah dapat tercampur dengan keinginan untuk dilihat.
Menggeser orientasi dari manusia kepada Allah, dari mengejar pujian kepada mencari ridha Allah. Kedekatan dengan mursyid, banyaknya dzikir atau keterlibatan dalam tarekat tidak boleh menjadi alasan untuk mencari kemuliaan di hadapan manusia.
Kesembilan : Takabbur dan Ujub (ذم الكبر والعجب). Takabbur, adalah merasa lebih tinggi daripada orang lain, sedangkan ujub adalah kagum kepada kelebihan diri sendiri. Dalam perjalanan spiritual, keduanya dapat muncul dalam bentuk merasa dzikirnya lebih banyak, ilmunya lebih tinggi, lebih dekat kepada guru, atau merasa telah mencapai maqam tertentu.
Menuntun sālik menuju iftiqār ilā Allāh, yaitu kesadaran akan kebutuhan mutlak kepada Allah. Semakin tinggi perjalanan ruhani, seharusnya semakin kuat tawadhu dan semakin kecil pengakuan terhadap kehebatan diri.
Kesepuluh : Ghurur Tertipu oleh Diri Sendiri (ذم الغرور). Ghurur, adalah keadaan ketika seseorang tertipu oleh penilaian terhadap dirinya sendiri. Seseorang dapat merasa telah dekat kepada Allah hanya karena banyak berdzikir, sering mengikuti manaqib, dekat dengan mursyid, dikenal sebagai ahli tarekat, atau memperoleh pengalaman spiritual tertentu.
Karamah; popularitas, dan pengalaman batin bukan tujuan akhir. Tolok ukur penting adalah istiqamah dalam syariat, kebersihan hati, keikhlasan serta kemuliaan akhlak. Tujuan perjalanan tetap ridha Allah dan kedekatan kepada-Nya.
Proses Tazkiyatun Nafs dalam Kerangka TQN; jika pokok - pokok al-Muhlikāt disusun dalam kerangka perjalanan sālik TQN, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut :
- Taubat - menyadari kesalahan dan kembali kepada Allah.
- Talqin/baiat dan bimbingan spiritual - memasuki latihan ruhani dalam bimbingan mursyid sesuai tradisi tarekat.
- Dzikir - membiasakan lisan dan hati mengingat Allah.
- Mujahadah - bersungguh-sungguh melawan kecenderungan buruk hawa nafsu.
- Riyadhah - melatih jiwa agar istiqamah dalam ketaatan.
- Takhalli - mengosongkan hati dari hasad, riya, ujub, takabbur, dendam, dan keterikatan dunia yang berlebihan.
- Tahalli - menghiasi hati dengan ikhlas, sabar, syukur, tawakal, tawadhu, mahabbah, dan akhlak mulia.
- Tazkiyatun nafs - proses penyucian jiwa yang berlangsung terus-menerus.
- Muraqabah dan ihsan - menghidupkan kesadaran bahwa Allah mengetahui dan mengawasi kehidupan hamba.
- Ma‘rifah dan mahabbah - semakin mengenal Allah dan semakin kuat cinta serta ketaatan kepada-Nya.
Rumusan Perjalanan Seorang Sālik
DZIKIR → MUJAHADAH → RIYADHAH → TAZKIYAH → AKHLAK → MURAQABAH → MA‘RIFAH → MAHABBAH → RIDHA ALLAH
Rangkaian tersebut, menunjukkan bahwa dzikir bukan tujuan yang berdiri sendiri. Dzikir harus menjadi energi penyucian jiwa. Mujahadah tanpa ikhlas dapat berubah menjadi kebanggaan diri; tarekat tanpa syariat kehilangan landasan; sedangkan syariat yang disertai penyucian hati mengarahkan seorang sālik menuju penghayatan ihsan.
Simpulan
Rubu’ III Ihya’ ‘Ulumiddin, yaitu Rub‘ al-Muhlikāt, memiliki hubungan yang kuat dengan pendidikan spiritual dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Al-Ghazali mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah tidak cukup dengan ibadah lahiriah, tetapi harus disertai perjuangan membersihkan batin dari syahwat yang tidak terkendali, penyakit lisan, marah, dendam, hasad, cinta dunia, cinta harta, cinta kedudukan, riya, takabbur, ujub, dan ghurur.
Perspektif TQN, dzikir menjadi sarana penting untuk menghidupkan kesadaran kepada Allah, sedangkan mujahadah dan riyadhah menjadi proses pendidikan jiwa. Keduanya harus berbuah pada tazkiyatun nafs dan tahdzibul akhlak. Karena itu, keberhasilan seorang sālik tidak semata - mata diukur dari banyaknya dzikir, lamanya mengikuti tarekat, kedekatannya dengan mursyid, atau pengalaman spiritual yang diperolehnya. Ukuran yang sangat penting adalah perubahan hati dan akhlaknya.
Semakin dekat kepada Allah, semakin bersih hatinya. Semakin bersih hatinya, semakin baik akhlaknya. Semakin tinggi perjalanan ruhaniahnya, semakin tawadhu di hadapan Allah.
Ihya’ ‘Ulumiddin, menjelaskan penyakit dan pendidikan hati, sedangkan suluk TQN memberikan kerangka latihan ruhani melalui dzikir, mujahadah, riyadhah, muraqabah, dan penyucian jiwa.
Dengan proses tersebut, seorang sālik diarahkan dari ghaflah menuju dzikrullah, dari dominasi hawa nafsu menuju tazkiyah, dari akhlak tercela menuju akhlak mahmudah, serta menuju ma‘rifah, mahabbah, dan ridha Allah SWT.
