Pertanyaan ini penting karena AI tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga membawa risiko kesalahan informasi, ketergantungan, pelanggaran privasi, dan ketidakjujuran akademik. UNESCO melalui AI Competency Framework for Students menegaskan bahwa kompetensi AI siswa bukan sekadar keterampilan teknis. Kerangka tersebut mencakup 12 kompetensi dalam empat dimensi: pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI.
Tujuannya adalah membentuk siswa sebagai pengguna dan warga digital yang bertanggung jawab. Di sinilah kesenjangannya. Banyak anak cepat belajar memberi perintah kepada AI, tetapi belum tentu terbiasa memeriksa kebenaran jawabannya, menilai bias, menjaga data pribadi, atau menyebutkan penggunaan AI secara jujur. Keterampilan memakai alat harus berjalan bersama kemampuan menilai dan bertanggung jawab.
Pertama: Bisa Menggunakan AI Belum Berarti Literat AI Literasi AI lebih luas daripada kemampuan membuat prompt. Kajian sistematis Park (2025) terhadap 51 studi empiris tentang literasi generative AI di sekolah merangkum lima kompetensi penting: memahami GenAI, menggunakan dan menerapkannya, mengevaluasi serta mengintegrasikan hasilnya, memahami etika, dan membangun sikap yang tepat terhadap teknologi. Artinya, siswa yang mahir meminta AI membuat jawaban tetapi tidak mampu mengecek kualitasnya belum dapat disebut benar-benar literat AI.
Sekolah dan keluarga karena itu perlu mengubah orientasi. Pertanyaannya bukan hanya “bisa atau tidak memakai AI”, melainkan “untuk apa AI digunakan, bagaimana hasilnya diperiksa, dan apakah penggunaannya membuat anak semakin mandiri dalam berpikir?” Kemampuan mengevaluasi sumber, membandingkan jawaban, memahami keterbatasan AI, dan berani mengatakan ‘saya belum tahu’ justru merupakan tanda kedewasaan literasi digital.
Kedua: Tabayyun Menjadi Etika Digital Islam memiliki prinsip yang sangat relevan dengan budaya informasi digital, yaitu tabayyun. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Hujurat [49]: 6 agar berita diperiksa terlebih dahulu sebelum seseorang bertindak dan kemudian menyesal. Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa informasi perlu diteliti agar keputusan tidak dibangun di atas berita yang salah atau keliru.
Prinsip ini sangat sesuai untuk menghadapi jawaban AI. Teks yang rapi dan meyakinkan belum tentu benar. Rasulullah saw. juga mengingatkan, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya” (Sahih Muslim, Muqaddimah, no. 5). Imam Malik pun mengingatkan bahwa orang yang meriwayatkan semua yang didengarnya tidak akan selamat dari kesalahan. Dalam konteks digital, pesannya jelas: jangan menyalin, menyebarkan, atau mempercayai keluaran AI tanpa pemeriksaan.
Kebiasaan sederhana ini mengubah AI dari jalan pintas menjadi sarana belajar. Anak tetap memperoleh manfaat teknologi, tetapi nalar, tanggung jawab, dan adabnya tidak diserahkan kepada mesin. Pintar Saja Tidak Cukup Pada akhirnya, generasi yang kita perlukan bukan hanya generasi yang cepat menggunakan teknologi, tetapi generasi yang mampu mengendalikan teknologi dengan nilai.
AI dapat membantu anak mencari informasi, menghasilkan ide, dan mempercepat pekerjaan. Namun keputusan tentang apa yang benar, baik, jujur, dan bertanggung jawab tetap menjadi tugas manusia. Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan digital bukan seberapa sering anak menggunakan AI, melainkan apakah teknologi tersebut membuat mereka semakin kritis, mandiri, jujur, dan bertanggung jawab.
“Anak boleh semakin pintar menggunakan AI, tetapi pendidikan harus memastikan mereka juga semakin bijak menggunakannya.”
Profil Penulis
H. Hidayat, S.Pd.I., M.Pd. adalah akademisi dan praktisi pendidikan Islam. Alumni Pondok Pesantren YAMISA periode 1994–1998, alumni Madrasah Aliyah YAMISA, serta alumni STAI YAMISA dan UIN SGD Bandung. Memiliki perhatian pada Manajemen Pendidikan Islam, pendidikan karakter, etika keilmuan, integritas akademik, madrasah, pesantren, dan pengembangan pendidikan Islam di era digital.
Rujukan Utama
- Miao, F., Shiohira, K., & Lao, N. (2024). AI Competency Framework for Students. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/ai-competency-framework-students
- Miao, F., & Holmes, W. (2023; updated 2026). Guidance for Generative AI in Education and Research. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/guidance-generative-ai-education-and-research
- Holmes, W. (2026). Learning to Think in the AI Era. UNESCO Courier, 2 April 2026. https://www.unesco.org/en/articles/learningthink-ai-era
- Park, J. (2025). A systematic literature review of generative artificial intelligence (GenAI) literacy in schools. Computers and Education: Artificial Intelligence, 9, 100487. https://doi.org/10.1016/j.caeai.2025.100487
- Sardi, J., et al. (2025). How Generative AI Influences Students’ Self-Regulated Learning and Critical Thinking Skills? A Systematic Review. International Journal of Engineering Pedagogy, 15(1), 94–108. https://doi.org/10.3991/ijep.v15i1.53379 6. Al-Qur’an, QS Al-Hujurat [49]:
- lihat Tafsir Ibn Kathir pada Quran.com.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, Muqaddimah, Hadis no. 5: larangan menceritakan semua yang didengar; lihat juga perkataan Imam Malik dalam Muqaddimah no. 10