Catatan Pendidikan di Era Digital
Oleh H. Hidayat, S.Pd.I., M.Pd.
Islam dan Zaman
Anak-anak hari ini tumbuh dengan akses pengetahuan yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya. Mereka dapat mencari jawaban, menonton tutorial, memakai kecerdasan buatan, berdiskusi di media sosial, dan belajar dari sumber di berbagai negara hanya melalui sebuah gawai. Secara intelektual, peluang mereka untuk menjadi pintar semakin besar.
Kedua: Kepintaran Tanpa Kendali Diri Mudah Kehilangan Arah
Anak-anak hari ini tumbuh dengan akses pengetahuan yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya. Mereka dapat mencari jawaban, menonton tutorial, memakai kecerdasan buatan, berdiskusi di media sosial, dan belajar dari sumber di berbagai negara hanya melalui sebuah gawai. Secara intelektual, peluang mereka untuk menjadi pintar semakin besar.
Namun, kemajuan itu membawa pertanyaan lain: apakah bertambahnya akses informasi otomatis membuat seseorang semakin santun, jujur, mampu menghargai orang lain, dan bijak menggunakan kebebasan? Di ruang digital kita masih menjumpai ejekan, komentar kasar, perundungan, penyebaran informasi tanpa verifikasi, hingga kebiasaan menilai seseorang hanya dari potongan video beberapa detik.
OECD pada 2024 mencatat tiga perempat siswa di negara-negara OECD menggunakan media sosial lebih dari satu jam pada hari sekolah, dan hampir satu dari tiga siswa melaporkan gangguan karena penggunaan perangkat digital di kelas. UNICEF pada 2025 juga mengingatkan bahwa dunia digital membawa peluang besar bagi anak untuk belajar dan membangun keterampilan, tetapi perlindungan dari perundungan, konten berbahaya, dan pengalaman digital yang merusak tetap sangat penting.
Di sinilah persoalan sebenarnya muncul. Tantangan pendidikan bukan lagi sekadar membuat anak mampu menggunakan teknologi, tetapi memastikan kecerdasan digital berjalan bersama kematangan moral. Anak yang cepat menemukan informasi belum tentu tahu bagaimana memperlakukannya dengan benar.
Pertama: Adab Tidak Hilang Ketika Kita Masuk Dunia Digital
Pertama: Adab Tidak Hilang Ketika Kita Masuk Dunia Digital
Islam tidak memisahkan akhlak di dunia nyata dan perilaku di dunia maya. Apa yang ditulis, dibagikan, dikomentari, dan disebarkan tetap memiliki konsekuensi moral. QS Al-Hujurat ayat 11 melarang merendahkan, mencela, dan memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Tafsir Ibn Kathir menjelaskan larangan tersebut sebagai penolakan terhadap sikap menghina dan meremehkan manusia.
Prinsip ini terasa sangat dekat dengan kehidupan digital. Tombol kirim dapat ditekan dalam hitungan detik, tetapi luka dari sebuah komentar dapat tinggal jauh lebih lama. Karena itu, kecakapan menggunakan aplikasi belum cukup. Anak juga perlu belajar menahan diri, menghormati martabat orang lain, dan menyadari bahwa jejak digital adalah bagian dari tanggung jawab pribadi.
Kedua: Kepintaran Tanpa Kendali Diri Mudah Kehilangan Arah
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. al-Bukhari no. 3559). Dalam hadis lain ditegaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya (HR. Muslim no. 41). Di era digital, “lisan” itu dapat hadir dalam bentuk komentar, unggahan, pesan singkat, gambar, atau video.
UNESCO melalui panduan Global Citizenship Education in a Digital Age menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan etis agar peserta didik mampu berpartisipasi secara positif di ruang digital. Maka pendidikan karakter tidak boleh menjadi pelajaran tambahan. Ia harus hadir ketika anak belajar menggunakan teknologi, berdiskusi, mencari informasi, dan menyampaikan pendapat.
Ketiga: Adab Tumbuh dari Keteladanan dan Pembiasaan
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din memberi perhatian besar pada pendidikan akhlak anak. Intinya, anak merupakan amanah dan jiwanya sangat mudah menerima pengaruh lingkungan. Karena itu, pendidikan tidak cukup dengan perintah; ia membutuhkan contoh, pembiasaan, lingkungan yang baik, dan penjagaan dari kebiasaan buruk.
Guru dan orang tua karena itu perlu memeriksa dirinya sendiri. Sulit meminta anak tidak berkata kasar jika orang dewasa terbiasa merendahkan orang lain. Sulit mengajarkan disiplin digital jika meja makan selalu dipenuhi orang dewasa yang sibuk dengan telepon genggam. Adab paling kuat sering diajarkan tanpa papan tulis: melalui apa yang anak lihat setiap hari.
Solusinya bukan menjauhkan anak dari teknologi. UNICEF justru mengingatkan bahwa melarang anak sepenuhnya dari dunia digital dapat menghambat perkembangan keterampilan mereka. Yang dibutuhkan adalah pendampingan: anak diajari kapan menggunakan gawai, apa yang layak dibagikan, bagaimana memeriksa sumber, bagaimana berbeda pendapat, dan kapan harus berhenti.
Teknologi seharusnya menjadi ruang untuk belajar, berkarya, berdakwah, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat. Madrasah, sekolah, pesantren, serta keluarga perlu membangun budaya digital yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab.
Literasi digital harus bertemu dengan pendidikan karakter. Pada akhirnya, kita tentu membutuhkan anak-anak yang pintar. Tetapi pendidikan akan kehilangan
maknanya jika kepintaran tidak berjalan bersama kejujuran, empati, tanggung jawab, dan kemampuan menghormati orang lain. Kecanggihan teknologi boleh terus meningkat, tetapi manusia tetap harus
belajar menjadi manusia.
“Kecerdasan membuat seseorang mampu melakukan banyak hal; adab membimbingnya memilih hal yang benar untuk dilakukan.”
Kata kunci: adab, pendidikan karakter, generasi digital, media sosial, literasi digital, pendidikan Islam,
etika digital.

Profil Penulis
H. Hidayat, S.Pd.I., M.Pd. adalah akademisi dan praktisi pendidikan Islam serta mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Pendidikan Islam, konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren YAMISA periode 1994–1998, Madrasah Aliyah YAMISA, STAI YAMISA, dan UIN SGD Bandung. Fokus kajiannya meliputi manajemen pendidikan Islam, pengembangan madrasah dan pesantren, pendidikan karakter, etika keilmuan, serta transformasi pendidikan Islam di era digital
Sumber Utama
➢ OECD. (2024). Managing screen time: How to protect and equip students against distraction. PISA in Focus No. 124.
https://doi.org/10.1787/7c225af4-en
➢ UNICEF Innocenti. (2025). Childhood in a Digital World: Screen time, digital skills and mental health.
➢ UNESCO. Global Citizenship Education in a Digital Age: Teacher Guidelines.
➢ Al-Qur’an, QS Al-Hujurat [49]: 11, dengan rujukan Tafsir Ibn Kathir.
➢ Sahih al-Bukhari no. 3559, hadis tentang kemuliaan akhlak.
➢ Sahih Muslim no. 41, hadis tentang menjaga orang lain dari lisan dan tangan.
➢ Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum al-Din, pembahasan pendidikan dan pembentukan akhlak anak.
