"Antar Syar'i, Adat Bangsa dan Negara"
Oleh : aeptatasurya@uinsgd.ac.id
Ziarah kubur sebelum puasa dan hari raya yang dikenal dengan istilah nyekar sudah menjadi kental menjadi tradisi masyarakat kita. Terasa ada yang kurang apabila tidak melaksanakannya. Bahkan mereka yang berada jauh dari kampung halaman pun menyempatkan pulang untuk berziarah ke makam orang tua, kerabat, ulama, guru maupun makam pahlawan.
Pertanyaan : Adakah dalil dari Al-Qur'an, Hadis atau pendapat ulama yang mendasari tradisi tersebut ?
Jawaban ?
Dasar Utama : Dianjurkannya Ziarah Kubur
Dasar yang menganjurkan tradisi nyekar ada, yaitu berlandaskan hadis - hadis yang menganjurkan ziarah kubur. Penentuan waktu tertentu (seperti sebelum hari raya atau hari Jumat), adalah kebiasaan/tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat sehingga hukumnya tetap dianjurkan selama tidak mengandung hal yang dilarang.
Referensi :
تحفة المحتاج في شرح المنهاج، ١١/٣٩٤)
(فَرْعٌ) يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلِاتِّبَاعِ وَسَنَدُهُ صَحِيحٌ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيحِهَا إذْ هُوَ أَكْمَلُ مِنْ تَسْبِيحِ الْيَابِسَةِ لِمَا فِي تِلْكَ مِنْ نَوْعِ حَيَاةٍ وَقِيسَ بِهَا مَا اُعْتِيدَ مِنْ طَرْحِ الرَّيْحَانِ وَنَحْوِهِ وَيَحْرُمُ أَخْذُ ذَلِكَ كَمَا بَحَثَ لِمَا فِيهِ مِنْ تَفْوِيتِ حَقِّ الْمَيِّتِ وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا حُرْمَةَ فِي أَخْذِ يَابِسٍ أَعْرَضَ عَنْهُ لِفَوَاتِ حَقِّ الْمَيِّتِ بِيُبْسِهِ وَلِذَا قُيِّدَ وَأُنْدِبَ الْوَضْعُ بِالْخَضِرَةِ وَأَعْرَضُوا عَنْ الْيَابِسِ بِالْكُلِّيَّةِ نَظَرًا لِتَقْيِيدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّخْفِيفَ بِالْأَخْضَرِ بِمَا لَمْ يَيْبَسْ.
(بغية المسترشدين، ١/١٣٦)
(مَسْأَلَةٌ: ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِي نَحْوِ الْوِتْرِ وَالتَّسْبِيْحِ فَلاَ كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ، نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنَ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ، َوأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ، فَكَمَا يُبَاحُ الْجَهْرُ فِي مَوْضِعِ الْإسْرَارِ الَّذِي هُوَ مَكْرُوهٌ لِلتَّعْلِيْمِ فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ الْإِبَاحَةُ، وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قَصَدَ بِهَا الْقُرْبَةَ كَالتَّقَوِّي بِالْأَكْلِ عَلىَ الطَّاعَةِ، هَذَا إِذَا لَمْ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ، كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوْ اعْتِقَادِ الْعَامَّةِ مَشْرُوْعِيَةَ الْجَمَاعَةِ وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يَحْرُمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَا.
(رد المحتار، ٦/٤٠٠٠)
مَطْلَبٌ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ (قَوْلُهُ وَبِزِيَارَةِ الْقُبُورِ) أَيْ لَا بَأْسَ بِهَا، بَلْ تُنْدَبُ كَمَا فِي الْبَحْرِ عَنْ الْمُجْتَبَى، فَكَانَ يَنْبَغِي التَّصْرِيحُ بِهِ لِلْأَمْرِ بِهَا فِي الْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ كَمَا فِي الْإِمْدَادِ، وَتُزَارُ فِي كُلِّ أُسْبُوعٍ كَمَا فِي مُخْتَارَاتِ النَّوَازِلِ. قَالَ فِي شَرْحِ لُبَابِ الْمَنَاسِكِ إلَّا أَنَّ الْأَفْضَلَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَالسَّبْتِ وَالِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَقَدْ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ: الْمَوْتَى يَعْلَمُونَ بِزُوَّارِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ، فَتَحَصَّلَ أَنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَفْضَلُ. اهـ. وَفِيهِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَزُورَ شُهَدَاءَ جَبَلِ أُحُدٍ، لِمَا رَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَأْتِي قُبُورَ الشُّهَدَاءِ بِأُحُدٍ عَلَى رَأْسِ كُلِّ حَوْلٍ فَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ يَوْمَ الْخَمِيسِ مُتَطَهِّرًا مُبَكِّرًا لِئَلَّا تَفُوتَهُ الظُّهْرُ بِالْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ. اهـ. قُلْت: اُسْتُفِيدَ مِنْهُ نَدْبُ الزِّيَارَةِ وَإِنْ بَعُدَ مَحَلُّهَا .وَهَلْ تُنْدَبُ الرِّحْلَةُ لَهَا كَمَا اُعْتِيدَ مِنْ الرِّحْلَةِ إلَى زِيَارَةِ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ وَأَهْلِهِ وَأَوْلَادِهِ، وَزِيَارَةِ السَّيِّدِ الْبَدَوِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ الْأَكَابِرِ الْكِرَامِ؟ لَمْ أَرَ مَنْ صَرَّحَ بِهِ مِنْ أَئِمَّتِنَا، وَمَنَعَ مِنْهُ بَعْضُ أَئِمَّةِ الشَّافِعِيَّةِ إلَّا لِزِيَارَتِهِ قِيَاسًا عَلَى مَنْعِ الرِّحْلَةِ لِغَيْرِ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ. وَرَدَّهُ الْغَزَالِيُّ بِوُضُوحِ الْفَرْقِ، فَإِنَّ مَا عَدَا تِلْكَ الْمَسَاجِدَ الثَّلَاثَةَ مُسْتَوِيَةٌ فِي الْفَضْلِ، فَلَا فَائِدَةَ فِي الرِّحْلَةِ إلَيْهَا. وَأَمَّا الْأَوْلِيَاءُ فَإِنَّهُمْ مُتَفَاوِتُونَ فِي الْقُرْبِ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى، وَنَفْعُ الزَّائِرِينَ بِحَسَبِ مَعَارِفِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ. قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي فَتَاوِيهِ: وَلَا تُتْرَكُ لِمَا يَحْصُلُ عِنْدَهَا مِنْ مُنْكَرَاتٍ وَمَفَاسِدَ كَاخْتِلَاطِ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِأَنَّ الْقُرُبَاتِ لَا تُتْرَكُ لِمِثْلِ ذَلِكَ، بَلْ عَلَى الْإِنْسَانِ فِعْلُهَا وَإِنْكَارُ الْبِدَعِ، بَلْ وَإِزَالَتُهَا إنْ أَمْكَنَ. اهـ.
(حاشية الجمل، ٧/٢٢٢)
اعْتَادَ النَّاسُ زِيَارَةَ الْقُبُورِ صَبِيحَةَ الْجُمُعَةِ وَيُمْكِنُ أَنْ يُوَجَّهَ بِأَنَّ الْأَرْوَاحَ تَحْضُرُ الْقُبُورَ مِنْ عَصْرِ الْخَمِيسِ إلَى شَمْسِ السَّبْتِ فَخَصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ؛ لِأَنَّهُ تَحْضُرُ الْأَرْوَاحُ فِيهِ وَلَعَلَّ الْمُرَادَ حُضُورٌ خَاصٌّ وَإِلَّا فَلِلْأَرْوَاحِ ارْتِبَاطٌ بِالْقُبُورِ مُطْلَقًا، ثُمَّ إنَّهُ قَدْ يُقَالُ كَانَ يَنْبَغِي أَنْ تُطْلَبَ الزِّيَارَةُ يَوْمَ السَّبْتِ؛ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَزُورُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ يَوْمَ السَّبْتِ وَيُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ لَعَلَّهُ خَصَّهُ لِبُعْدِهِمْ عَنْ الْمَدِينَةِ وَضِيقِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَنْ الْأَعْمَالِ الْمَطْلُوبَةِ فِيهِ مِنْ التَّبْكِيرِ وَغَيْرِهِ وَأَظُنُّ الْمَسْأَلَةَ فِيهَا كَلَامٌ فَرَاجِعْهُ اهـ.
(تنوير القلوب، ٢١٦)
تُسَنُّ زِيَارَةُ قُبُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ لِلرِّجَالِ لِاَجْلِ تَذَكُّرِ الْمَوْتِ وَالْاَخِرَةِ وَاِصْلَاحِ فَسَادِ الْقَلْبِ وَنَفَعَ الْمَيِّتُ بِمَا يُتْلَى عِنْدَهُ مِنَ الْقُرْاَنِ وَتَتَاَكَّدَ يَوْمَ الْعِيْدِ وَمِنْ عَشِيَّةِ خَمِيْسٍ اِلَى طُلُوْعِ شَمْسِ سَبْتٍ اهى
(كتاب كونيڠ)
Rasulullah ﷺ bersabda :
"Dahulu aku melarang kalian berziarah ke kuburan, tetapi sekarang berziarahlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada kematian." (HR. Muslim)
Membawa Bunga/Tanaman Hijau ke Kubur
Disunnahkan meletakkan ranting atau bunga yang masih segar di atas kubur Tanda Penghargaan Terima Kasih.
Dalilnya :
Diriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ meletakkan dua ranting kurma yang masih segar di atas dua makam.
Beliau bersabda : "Semoga keduanya meringankan siksa penghuni kubur selama keduanya belum kering." (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam Tuhfat al-Muhtaj fi Sharh al-Minhaj (11/394), Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan :
"Disunnahkan meletakkan ranting hijau di atas kubur untuk meneladani Nabi ﷺ, karena ia meringankan siksa kubur dengan keberkahan tasbihnya. Kemangi dan bunga-bungaan lain yang diletakkan di atas kubur disetarakan dengan hukum ini."
Waktu Pelaksanaan Antara Anjuran dan Adat Masyarakat dan Acara Ziarah bentuk Penghargaan Tanda Terima Kasih Ke Negaraan kepada Maqom Pejabat Negara, Pahlawan Patriot Bangsa;
Ziarah kubur pada prinsipnya boleh dilakukan kapan saja. Namun ada waktu yang disebut lebih utama, seperti hari Jumat - Kamis atau Sabtu.
Dalam Rad al-Muhtar (6/400), Ibnu Abidin menjelaskan :
"Ziarah kubur disunnahkan dan disebutkan hari - hari yang utama untuk berziarah antara lain hari Jumat - Kamis dan Sabtu. Adat Masyarakat terbiasa, dikuatkan Ziarah Acara ke-Negaraan ke berziarah pada pagi hari Jumat dan ini dipahami sebagai kebiasaan baik yang tidak bertentangan dengan syariat."
Adapun tradisi nyekar menjelang hari raya, tidak ada dalil khusus yang menetapkannya sebagai waktu yang ditentukan syariat. Akan tetapi, karena ziarah kubur itu sendiri dianjurkan. Maka, melakukannya di waktu - waktu tersebut dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dan menghormati orang yang telah meninggal tetap bernilai ibadah, asalkan tidak diyakini sebagai ketentuan Agama yang wajib.
Hukum Tradisi Nyekar
Aspek Penjelasan :
Ziarah kubur; dianjurkan (Sunnah) untuk mengingat kematian dan mendoakan almarhum
Membawa bunga/tanaman hijau; dianjurkan meneladani sabda Nabi ﷺ
Waktu khusus (sebelum Lebaran/Jumat) Boleh & baik, sebagai tradisi mulia; bukan ketentuan syariat yang mengikat
Dilarang ; Percaya takhayul, berdoa kepada makam atau hal - hal yang syirik.
Dalam Hasyiyat al-Jamal (7/222): "Adat masyarakat berziarah pada waktu tertentu, selama tidak menyimpang dari syariat maka asalnya diperbolehkan dan bahkan dapat bernilai ibadah jika niatnya baik."
Bila ber- Ziarah ke makam pahlawan/patriot bangsa, adalah kegiatan mengunjungi Taman Makam Pahlawan (TMP) atau makam tokoh Nasional untuk mengenang, menghormati dan merenungkan jasa para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kegiatan ini lazim dilakukan pada Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, Hari Kebangkitan Nasional, maupun peringatan Hari Patriotik;
Tujuan ziarah :
- Mengenang jasa dan pengorbanan pahlawan serta tokoh perjuangan bangsa;
- Menumbuhkan semangat nasionalisme, patriotisme, dan rasa syukur atas kemerdekaan;
- Memberikan penghormatan melalui doa, tahlil, tabur bunga, atau peletakan karangan bunga;
- Menjadi sarana pendidikan Prasasti sejarah dan karakter bagi pelajar, organisasi, serta masyarakat;
Perlu di perhatikan Tata cara umum :
Bagi umat Islam, ziarah dapat dilakukan dengan sikap tenang, sopan dan penuh penghormatan.
Mengikuti Panduan yang umum dan Kenegaraan diajarkan meliputi;
- Menjaga kebersihan diri, berwudu sebelum berdoa;
- Mengucapkan salam saat memasuki area pemakaman;
- Menghadap kiblat ketika mendoakan;
- Membaca istigfar, Al-Fatihah serta surah pendek seperti Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas;
- Membaca Tahlilan dan mendoakan kebaikan bagi almarhum;
- Simbol Menabur bunga atau meletakkan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan;
- Tidak dengan berjalan atau duduk di atas kuburan, serta tidak shalat menghadap kuburan.
Etika saat ziarah
Berpakaian sopan dan rapi;
- Menjaga ketenangan, tidak membuat keributan dan tidak menjadikan ziarah sebagai wisata biasa.
- Menghormati Panduan prosesi resmi, terutama bila ada upacara kenegaraan atau kegiatan TNI/Polri.
- Ikuti aturan pengelola TMP, termasuk jam kunjungan dan area yang diperbolehkan.
Hukum dalam Islam (Syar'i) :
Menurut pandangan Syafiiah, dikutip dari Mathalau Anwar Lil Nahdiyin Ulama' i (MA- NU), dstnya :
Ziarah kubur termasuk ke makam orang shaleh dan pahlawan Kusumah Bangsa, boleh dilakukan sebagai sarana mengingat kematian dan mendoakan almarhum sebagai Syuhada kemulyaan Karomah dan Maunah.
Perlu Sangat di perhatikan
Namun, ziarah sebaiknya tidak mengandung unsur meminta pertolongan kepada makam atau menjadikannya objek penyembahan.
Simpulan :
Ziarah ke makam pahlawan patriot bangsa, adalah bentuk penghormatan dan refleksi kebangsaan, bukan sekadar kunjungan ke pemakaman.
Pada Intinya, adalah meneladani semangat pengorbanan para pahlawan bagi negara dan bangsa Indonesia
Bentuk Tradisi nyekar berakar pada anjuran syariat Adat dan Negara, yaitu ziarah kubur pada Orang pejuang Bangsa (Syuhada) dan mendoakan orang kapan saja, hanya di tempat dekat Maqom ?
Kepada telah meninggal pada Acara Adat dan Kenegaraan
Penentuan waktu khusus adalah kearifan lokal masyarakat dimaknai mempererat silaturahmi keluarga dan bangsa. Anjuran mendoakan bersama dekat Maqom, hal yang mulia selama tidak diyakini sebagai kewajiban Agama.
Hendaknya perlu dijaga; jangan sampai tradisi ini bercampur dengan Mistik takhayul, keyakinan keliru atau amalan yang bertentangan dengan syariat.
TM.
