Oleh : Dr. H. Furqon Arifin MMPd,. C.LSM.
(Dosen STAI Yamisa Kepala Pendidikan Diniyah Formal Al Jawahir)
Setiap tanggal 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri. Bendera dikibarkan, sarung dikenakan, doa dipanjatkan dan berbagai kegiatan digelar untuk mengenang perjuangan kaum santri dalam sejarah bangsa. Peringatan ini penting sebagai bentuk penghormatan terhadap peran ulama dan santri dalam menjaga agama, memperjuangkan kemerdekaan serta membangun Indonesia.
Namun, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan; setelah peringatan Hari Santri usai, apa yang berubah dalam kehidupan pesantren ?
Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi makna peringatan, melainkan untuk memperluas maknanya. Sebab, penghormatan terbaik terhadap perjuangan santri bukan hanya sekedar mengenang sejarah namun juga meneruskan semangatnya melalui peningkatan kualitas pendidikan pesantren.
Dari Semangat Perjuangan Menuju Budaya Mutu
Pesantren memiliki kekayaan yang tidak selalu ditemukan di lembaga pendidikan lain. Ada keteladanan kiai, kedalaman tradisi keilmuan, penghormatan terhadap guru, kedisiplinan, kebersamaan serta pembiasaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Modal sosial dan spiritual ini, merupakan kekuatan besar dalam membentuk karakter generasi bangsa.
Akan tetapi, tantangan pendidikan terus berubah. Masyarakat mengharapkan pesantren tidak hanya mampu melahirkan santri yang memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, wawasan luas, keterampilan hidup, kemampuan berpikir kritis dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Tentang Pentingnya Budaya Mutu
Budaya Mutu bukan sekedar memiliki gedung yang bagus, administrasi yang rapi atau memperoleh pengakuan kelembagaan. Budaya Mutu, adalah kebiasaan seluruh warga pesantren untuk memberikan yang terbaik, menyalurkan kekurangan, menerima masukan dan memperbaiki diri secara terus-menerus.
Budaya Mutu dimulai dari hal - hal sederhana; pembelajaran yang dipersiapkan dengan baik, guru yang terus belajar, pengelolaan keuangan yang amanah, lingkungan yang aman dan bersih, pelayanan yang adil serta kepemimpinan yang terbuka terhadap kritik. Mutu juga tampak ketika setiap masalah tidak tertutupi, tetapi dijadikan bahan pembelajaran bersama.
Dengan demikian, mutu pesantren bukan hanya tanggung jawab pengasuh atau pimpinan. Ia merupakan tanggung jawab bersama antara pengasuh, ustaz, pengurus, santri, alumni, orang tua dan masyarakat.
Menjaga Tradisi, Memperbaiki Tata Kelola
Membangun Budaya Mutu tidak berarti mengubah pesantren menjadi lembaga yang kehilangan jati dirinya. Justru sebaliknya, tradisi pesantren perlu menjadi landasan untuk menghadapi perubahan.
Nilai amanah mengajarkan kejujuran dalam pengelolaan. Nilai ihsan mendorong kesungguhan dalam bekerja. Musyawarah membuka ruang bagi partisipasi. Sementara itu, semangat islah mengingatkan bahwa perbaikan merupakan bagian penting dari kehidupan bersama.
Nilai - nilai tersebut, perlu diterjemahkan menjadi praktik kelembagaan yang nyata. Misalnya, pesantren melakukan evaluasi program pendidikan secara berkala, meningkatkan kompetensi guru, memperhatikan aspirasi santri dan orang tua, memperbaiki sistem administrasi serta memastikan bahwa setiap keputusan benar - benar mendukung tujuan pendidikan.
Kemajuan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pengelolaan pesantren. Namun, teknologi hanyalah alat. Keberhasilannya tetap ditentukan oleh kualitas manusia, kebijaksanaan pemimpin dan kejelasan tujuan pendidikan.
Pesantren tidak harus meniru seluruh model lembaga pendidikan modern. Yang dibutuhkan, adalah kemampuan memilih praktik terbaik tanpa kehilangan karakter, tradisi keilmuan dan nilai - nilai Islam yang menjadi ruh pendidikannya.
Hari Santri sebagai Momentum Perubahan
Hari Santri seharusnya menjadi lebih dari agenda seremonial tahunan. Ia dapat dijadikan momentum untuk bertanya secara jujur; apakah pembelajaran kita menjadi baik ? Apakah para guru mendapat kesempatan berkembang ? Apakah santri merasa aman dan dihargai ? Apakah lembaga pengelolaan semakin transparan ? Apakah program pendidikan benar - benar menjawab kebutuhan santri dan masyarakat ?
Pertanyaan - pertanyaan tersebut dapat menjadi awal gerakan saling di lingkungan pesantren. Tidak harus dimulai dengan program besar dan anggaran yang mahal. Perubahan dapat dimulai dari satu kebiasaan; mengadakan pembelajaran, menyampaikan keluhan, memperbaiki pelayanan atau membangun budaya membaca dan berdiskusi.
Yang terpenting bukanlah seberapa meriahnya sebuah kegiatan peringatan, melainkan seberapa jauh semangatnya mempengaruhi perilaku dan tata kelola kelembagaan.
Tentu saja, peningkatan mutu tidak dapat dibebankan kepada pesantren semata. Pemerintah, perguruan tinggi, organisasi pendidikan Islam, alumni, dunia usaha dan masyarakat perlu memberikan dukungan yang berkelanjutan. Penguatan kompetensi pendidik, sarana pendidikan, pendampingan manajemen serta akses terhadap teknologi harus menjadi bagian dari ikhtiar bersama.
Mengukur Penghormatan melalui Perubahan
Pada akhirnya, bahwa Hari Santri mengajak kita untuk melihat kembali hubungan antara sejarah, nilai dan masa depan. Santri masa lalu berjuang mempertahankan kemerdekaan. Santri masa kini, menghadapi tantangan yang berbeda; membangun ilmu pengetahuan, memperkuat karakter, menguasai teknologi, menjaga persatuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Oleh karena itu, salah satu bentuk penghormatan terhadap perjuangan santri adalah memastikan bahwa pesantren terus bertumbuh menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas, berintegritas dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Hari Santri jangan berhenti pada peringatan. Jadikan ia pengingat untuk memperbaiki diri, memperkuat tata kelola dan menumbuhkan budaya mutu. Sebab, pesantren yang menjaga tradisi sekaligus siap memperbaiki diri akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menyiapkan generasi masa depan.
"Santri yang hebat lahir dari pendidikan yang bermakna. Dan, pendidikan yang bermakna tumbuh dari budaya mutu yang dijaga bersama"
TM.
