Oleh: A. Rusdiana
Pena Berkarya Bersama (PBB) ke-232 | 2.683 Anggota
Artikel
Menulis bukan sekadar menyusun kata, melainkan membangun tradisi keilmuan dan menyiapkan generasi penerus. Pengalaman membimbing mahasiswa serta mendampingi asisten dalam penyusunan bahan ajar memberikan pelajaran bahwa ilmu berkembang ketika dipelajari, diamalkan dan diwariskan. Menulis menjadi sarana menghubungkan pengembangan kompetensi pribadi dengan kaderisasi intelektual dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam kegiatan akademik, tiga mahasiswa S1 memperoleh bimbingan penyusunan proposal skripsi. Sementara itu, empat asisten mengembangkan bahan ajar Manajemen Maktabah melalui tahapan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), penyusunan outline, penggunaan templat Part 11, dan instruksi kerja berbantuan kecerdasan buatan (AI). Kegiatan tersebut, memperlihatkan bahwa pembimbing juga merupakan pembelajar yang perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
Secara teoretis, pengalaman ini berkaitan dengan Social Constructivism Lev Vygotsky, yang menekankan peranan interaksi sosial dan pendampingan dalam perkembangan kemampuan. Konsep experiential learning David Kolb turut menjelaskan, pentingnya pengalaman, refleksi, konseptualisasi dan penerapan dalam proses belajar. Kedua perspektif tersebut, memberikan landasan untuk memahami pembimbingan akademik sebagai proses pertumbuhan bersama.
Perspektif pendidikan tersebut, sejalan dengan ajaran Islam. Allah Swt., mengajarkan doa Rabbi zidni 'ilma, yang berarti memohon tambahan ilmu (QS. Taha [20]: 114).
Rasulullah Saw., juga menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat termasuk amal yang pahalanya terus mengalir (HR. Muslim No. 1631).
Adapun sebuah syair yang masyhur dinisbatkan kepada Imam Syafi'i menyebutkan tiga bekal menuntut ilmu, antara lain ”kesungguhan, bimbingan guru dan waktu yang panjang.” (Pondok Pesantren Daarut Tauhiid). Ketiganya menguatkan pentingnya belajar, pendampingan dan pewarisan ilmu.
Namun, terdapat tiga kesenjangan (gap) yang perlu dijembatani : Kesenjangan antara penguasaan teori dan kemampuan menghasilkan karya ; antara keterampilan menggunakan AI dan integritas akademik ; serta antara kegiatan pembimbingan dan keberlanjutan kaderisasi intelektual. Teknologi dapat mempercepat penyusunan naskah, tetapi belum menjamin ketepatan substansi, orisinalitas pemikiran ataupun kebermanfaatan hasilnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, tulisan ini mengajak 2.683 anggota PBB menjadikan kegiatan menulis sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat, pengembangan kompetensi, kaderisasi intelektual dan pengabdian. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan tulisan, melainkan membangun generasi penerus yang mampu mengembangkan dan mengamalkan ilmu secara bertanggung jawab.
Pengalaman tersebut, memperlihatkan pentingnya pembelajaran kolaboratif. Namun, masih terdapat kesenjangan antara kemampuan menggunakan teknologi dan kemampuan menghasilkan karya akademik yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, tulisan ini mengajak 2.683 anggota PBB menjadikan kegiatan menulis sebagai sarana pembelajaran, kaderisasi intelektual dan pengabdian. Dari itu semua terdapat 4 pembelajaran yang perlu di maknai bersama :
Pertama : Menulis sebagai Pembelajaran Sepanjang Hayat ; menulis mengharuskan seseorang membaca, memahami, menganalisis dan mengembangkan gagasan. Dalam konteks pendidikan tinggi, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi kewajiban mahasiswa, tetapi juga tanggung jawab dosen.
Perkembangan AI, menghadirkan kesempatan memperbarui metode pembelajaran. Dosen dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan rancangan pembelajaran, sementara mahasiswa menggunakannya sebagai sarana pendukung eksplorasi pengetahuan.
Meskipun demikian, kemampuan berpikir kritis, ketepatan sumber dan tanggung jawab akademik tetap menjadi kewajiban penulis. AI membantu proses, bukan menggantikan pemikiran manusia.
Kedua : Menulis untuk Membangun Kaderisasi Intelektual ; Kaderisasi intelektual merupakan proses menyiapkan generasi yang mampu memahami, mengembangkan dan meneruskan tradisi keilmuan.
Pendampingan empat asisten dalam penyusunan bahan ajar Manajemen Maktabah, menjadi contoh pembelajaran berbasis karya. Mereka tidak sekadar menerima pengetahuan, tetapi memperoleh pengalaman mengorganisasikan materi, mengembangkan kerangka penulisan, dan memanfaatkan teknologi.
Dalam hubungan tersebut, dosen berperan sebagai pembimbing sekaligus pembelajar. Asisten memperoleh kesempatan mengembangkan kemandirian akademik.
Inilah makna anak intelektual : Generasi penerus yang tidak hanya menerima gagasan, tetapi mampu mengembangkan ilmu secara kritis dan bertanggung jawab.
Ketiga : Menulis dengan AI, memperkuat Integritas Akademik ; Kecerdasan buatan dapat membantu menyusun kerangka tulisan, mengembangkan alternatif penjelasan, dan memperbaiki keterbacaan naskah. Akan tetapi, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan memeriksa informasi.
Penggunaan AI dalam penyusunan bahan ajar, memerlukan instruksi kerja yang jelas. RPS, menjadi dasar penentuan capaian pembelajaran, outline mengorganisasikan materi, sedangkan templat menjaga konsistensi penulisan. Setiap hasil perlu ditinjau kembali untuk memastikan kesesuaian substansi, ketepatan rujukan dan orisinalitas pemikiran.
Dengan demikian, literasi AI bukan hanya kemampuan menghasilkan teks, melainkan kecakapan mengendalikan proses penulisan secara etis.
Keempat : Menulis sebagai Jalan Pengabdian ; karya akademik memperoleh makna ketika dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membantu orang lain mengembangkan kemampuan.
Bimbingan proposal skripsi mempersiapkan mahasiswa memahami proses penelitian. Penyusunan bahan ajar, membantu menghadirkan sumber pembelajaran yang sistematis. Keduanya, merupakan bentuk pengabdian melalui pengembangan ilmu.
Dalam perspektif Islam, Rasulullah Saw., menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir (HR. Muslim).
Semangat tersebut mengingatkan, bahwa menulis tidak seharusnya berhenti pada kepentingan publikasi pribadi. Tulisan dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan, memperkuat budaya akademik dan memperluas kebermanfaatan.
Singkatnya, menulis, membimbing dan mengembangkan bahan ajar merupakan kegiatan yang saling memperkuat. Dosen terus belajar melalui pengalaman membimbing. Asisten mengembangkan kompetensi melalui penyusunan karya. Mahasiswa memperoleh pengalaman membangun kemampuan penelitian. Pemanfaatan AI, memperluas kesempatan pembelajaran, tetapi tanggung jawab keilmuan tetap berada pada manusia. Melalui PBB ke-232, sebanyak 2.683 anggota diajak memperkuat tradisi menulis yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga membangun kaderisasi intelektual.
Natizahnya, menulis menghasilkan karya, membimbing menumbuhkan kompetensi dan kaderisasi intelektual memperpanjang kebermanfaatan ilmu lintas generasi. Belajar untuk mengabdi, menulis untuk berbagi dan membimbing untuk melahirkan generasi penerus ilmu.