BANDUNG, —
Menjelang tanggal 1 September 2026, sebuah babak baru terbuka dalam perjalanan panjang pengabdian Idris Kuswandi S.I.P,. M.Si., puluhan tahun mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara, akhir masa pengabdian ditempatkan dilingkungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung, kini perlahan memasuki penghujung masa tugasnya. Purna tugas bukan sekadar peristiwa rutin birokrasi, melainkan penutup perjalanan yang penuh dinamika, ketegasan sekaligus pendekatan kemanusiaan dalam menjaga ketertiban di Kota Bandung.
Bagi Idris, bertugas di Satpol PP tidak sekadar mengenakan seragam dan menjalankan kewenangan penegakan Peraturan Daerah. Di balik setiap operasi dan langkah di lapangan, tersimpan perjalanan panjang menghadapi beragam persoalan ketertiban umum : Mulai dari penertiban reklame liar, pengaturan pedagang kaki lima, pengawasan peredaran minuman beralkohol hingga penanganan persoalan sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Bertugas di Garis Depan Penegakan Aturan
Jejak kiprah Idris Kuswandi dalam pemberitaan publik setidaknya tercatat sejak tahun 2018, ketika media elitkita.com mulai mengamati perannya sebagai Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah (PPHD) Satpol PP Kota Bandung. Di posisi itulah, ia berada di garis terdepan penegakan aturan. Tugas penertiban bukanlah hal yang sederhana ; di satu sisi harus tegas terhadap pelanggaran, namun di sisi lain harus berhadapan langsung dengan warga yang memiliki kepentingan, kesulitan dan alasan masing - masing.
Pengawasan peredaran minuman beralkohol, pembongkaran reklame tanpa izin, hingga penertiban pelanggaran ketertiban usaha menjadi bagian keseharian yang tak jarang menimbulkan gesekan. Tantangan makin berat, tatkala pandemi COVID-19 melanda. Satpol PP menjadi salah satu unsur yang turun langsung ke lapangan memastikan pelaksanaan PSBB, PPKM dan protokol kesehatan dipatuhi masyarakat. Di masa sulit itulah Idris kembali berdiri di barisan terdepan, menegakkan aturan di tengah keterbatasan dan kesulitan yang dirasakan banyak warga.
Menegakkan ketentuan di tengah situasi krisis tentu bukan perkara mudah, ada warga yang menerima pembinaan dengan baik, ada pula yang keberatan, bahkan ada yang harus berhadapan dengan proses hukum akibat pelanggaran. Namun bagi seorang aparat penegak peraturan daerah, tugas tetap harus dijalankan yang dibarengi keteguhan, konsisten, namun tetap memanusiakan manusia.
Beralih Menjaga Sistem dan Penguatan Organisasi
Perjalanan karier pun terus berlanjut, namanya tercatat menjabat sebagai Sekretaris Satpol PP Kota Bandung, membawa perubahan lingkup tugas dari penindakan langsung di lapangan menuju pengelolaan administrasi, perencanaan, koordinasi dan penguatan kelembagaan. Meski fokus bergeser, urusan ketertiban masyarakat tak pernah lepas dari perhatiannya.
Saat Pemilu 2024 berlangsung, misalnya, peran Satpol PP dalam menyiapkan ribuan personel Satlinmas guna menjaga keamanan tempat pemungutan suara kembali menempatkan nama Idris Kuswandi tampil memberikan keterangan dan arahan terkait kesiapan pengamanan. Di berbagai momentum pemerintahan, namanya kerap menjadi sumber informasi terkait kebijakan dan penegakan ketertiban di Kota Bandung.
Di Antara Ketegasan dan Pendekatan yang Memanusiakan
Menjadi aparat penegak ketertiban sering kali menempatkan seseorang dalam posisi sulit : Jika tegas disebut keras, jika lunak disebut lemah. Di tengah dua kutub itu, bahwa Idris menjalani sebagian besar masa pengabdiannya. Penertiban bangunan liar, pengaturan pedagang hingga penanganan pelanggaran sosial mengajarkan satu hal penting : Ketegasan diperlukan agar aturan dihormati, namun pendekatan tidak harus selalu represif. Pembinaan, dialog dan kesepahaman lebih dulu diupayakan sebelum langkah tegas diambil. Inilah corak pengabdian yang melekat pada sosoknya "Tegas pada aturan, namun tetap memahami realitas sosial di balik setiap pelanggaran".
Asam Manis Pengabdian yang Membentuk Pengalaman
Puluhan tahun mengabdi di lingkungan pemerintahan tentu tidak selalu berjalan mulus, ada keberhasilan yang disambut apresiasi, ada pula keputusan yang memicu perbedaan pandangan. Hari - hari mendapat dukungan warga silih berganti dengan hari - hari menghadapi penolakan di lapangan. Namun waktu akhirnya menjadi saksi, segala dinamika itu adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian tulus demi menjadikan Kota Bandung lebih tertib, aman dan nyaman ditinggali.
Idris Kuswandi telah melewati beragam babak perkembangan Kota Bandung dari penataan ketertiban masa ke masa, era penertiban reklame dan pedagang kaki lima, tantangan pengendalian saat pandemi hingga penyesuaian tata kelola di tengah kemajuan zaman, semua itu dilalui dengan kesetiaan dan dedikasi yang tak terputus.
Purna Tugas, Bukan Akhir Jejak Pengabdian
Pada 1 September 2026 mendatang, masa tugas sebagai aparatur aktif resmi berakhir. Seragam kedinasan mungkin tak lagi dikenakan setiap hari, ruang kerja dan agenda pemerintahan perlahan akan ditinggalkan. Namun jejak pengabdian tidak berhenti begitu saja. Pengalaman, keteguhan hati serta dedikasi yang ditunjukkan selama puluhan tahun menjadi catatan berharga yang tak akan hilang begitu saja.
Dari garis depan penegakan peraturan daerah hingga memimpin kesekretariatan dari menghadapi pelanggaran di lapangan sampai menyusun langkah penguatan organisasi, semua menyatu membentuk perjalanan hidup yang patut dihargai. Jabatan memang memiliki batas waktu, namun jejak pengabdian akan selalu memiliki cerita yang dikenang.
Masyarakat Kota Bandung apresiasi "Selamat memasuki masa purna tugas bapak Idris Kuswandi". Terima kasih atas pengabdian, keteguhan, dan dedikasi yang telah saudara berikan untuk Satpol PP Kota Bandung dan warga Kota Bandung pada umumnya. Semoga masa purna tugas membawa kedamaian, kebahagiaan dan waktu yang berkualitas bersama keluarga tercinta.
Penulis : Toni Mardiana S. Ikom (editor)
