elitkita.com // Kecerdasan buatan (AI) kini telah melampaui fungsi otomatisasi dan mulai beralih ke analisis prediktif, manajemen risiko berbasis data, hingga personalisasi layanan keuangan.
Hal itu disampaikan oleh Raine Renaldi, Chief of Digital Asset Committee Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), dalam ajang GITEX AI Asia 2026 di Singapura.
Raine hadir bersama pelaku industri, regulator, dan investor global dalam forum yang merupakan bagian dari jaringan GITEX Global tersebut.
Salah satu sorotan utama adalah pernyataan Raine terkait percepatan adopsi AI di sektor perbankan.
Ia menegaskan bahwa penggunaan AI kini tidak lagi terbatas pada otomatisasi, melainkan telah menjadi instrumen penting dalam meningkatkan efisiensi sekaligus memahami perilaku pasar yang semakin dinamis.
“Perbankan yang tidak mengadopsi AI secara strategis berisiko tertinggal, bukan hanya dari sisi efisiensi, tetapi juga dalam membaca perilaku pasar yang semakin dinamis,” ujar Raine.
Sementara itu, dalam sesi lainnya, Raine juga mengungkapkan arah investasi serta dinamika startup di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ia menilai arus investasi kini semakin selektif, dengan fokus pada sektor berbasis AI, fintech, dan digital asset yang memiliki model bisnis berkelanjutan.
“Investor global saat ini tidak hanya mencari pertumbuhan, tetapi juga ketahanan model bisnis. Di sinilah pentingnya sinergi antara inovasi, regulasi, dan kesiapan pasar,” katanya.
“Perbankan yang tidak mengadopsi AI secara strategis berisiko tertinggal, bukan hanya dari sisi efisiensi, tetapi juga dalam membaca perilaku pasar yang semakin dinamis,” ujar Raine.
Sementara itu, dalam sesi lainnya, Raine juga mengungkapkan arah investasi serta dinamika startup di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ia menilai arus investasi kini semakin selektif, dengan fokus pada sektor berbasis AI, fintech, dan digital asset yang memiliki model bisnis berkelanjutan.
“Investor global saat ini tidak hanya mencari pertumbuhan, tetapi juga ketahanan model bisnis. Di sinilah pentingnya sinergi antara inovasi, regulasi, dan kesiapan pasar,” katanya.

Dalam paparannya, Raine juga menyinggung posisi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang masih memiliki potensi pertumbuhan signifikan.
Namun, sejumlah tantangan seperti kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur digital, serta kualitas talenta teknologi dinilai masih menjadi pekerjaan rumah.
Keikutsertaan Raine dalam dua panggung di GITEX AI Asia mencerminkan meningkatnya perhatian global terhadap Indonesia dalam ekosistem AI dan ekonomi digital.
Di sisi lain, momentum ini juga menjadi pengingat pentingnya percepatan adaptasi teknologi dan konsistensi kebijakan untuk menjaga daya saing nasional.

.jpeg)