Oleh: A. Rusdiana
”Usamah dan Attab mengajarkan makna
kepercayaan: kuliah menyiapkan ilmu, kepemimpinan, dan tanggung jawab untuk
menunaikan amanah di kehidupan bersama.”
Menjelang Hari Pahlawan, pertanyaan tentang kesiapan generasi penerus layak dibawa ke ruang pendidikan. Mahasiswa mengikuti kuliah sambil menyiapkan pekerjaan, mengembangkan karier, dan memenuhi harapan keluarga. Bagi mahasiswa kelas karyawan, memperoleh ijazah merupakan kebutuhan yang dapat dipahami.
Namun, pengakuan akademik perlu disertai pertumbuhan
kemampuan dan tanggung jawab. Di sinilah muncul persoalan: apakah proses kuliah
telah mempersiapkan seseorang untuk dipercaya? Kisah Usamah bin Zaid dan Attab
bin Usaid menawarkan bahan refleksi tentang hubungan kesempatan, kesiapan,
serta amanah. Tulisan ini mengajak pembaca memaknai pendidikan sebagai proses
menyiapkan diri untuk melayani, memimpin, dan mempertanggungjawabkan
kepercayaan dalam kehidupan bersama.
Tujuan tulisan ini ialah menjelaskan empat
pelajaran kepemimpinan: pertama, kepercayaan membuka ruang tumbuh; kedua, ilmu
dan kesiapan menopang kepemimpinan; ketiga, pendampingan menguatkan kaderisasi;
keempat, amanah dibuktikan melalui tindakan. Melalui keempatnya, keteladanan
sejarah dihubungkan dengan pembiasaan tanggung jawab mahasiswa dalam pekerjaan,
keluarga, dan kehidupan bermasyarakat.
Pertama, kepercayaan membuka ruang tumbuh. Rasulullah ﷺ menunjuk Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan. Ketika kepemimpinannya dipersoalkan, beliau memberikan pembelaan terhadap penunjukan tersebut (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3730). Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kesempatan memimpin perlu ditopang kepercayaan yang tegas. Dalam pendidikan, mahasiswa membutuhkan ruang untuk mengambil peran, mengajukan keputusan, dan belajar dari hasilnya.
Dosen dapat memberi tanggung jawab memimpin diskusi atau mengelola proyek bersama. Penunjukan itu disertai tujuan dan ukuran keberhasilan yang jelas. Dengan demikian, kepercayaan menjadi kesempatan berlatih sekaligus kewajiban mempertanggungjawabkan pekerjaan. Mahasiswa belajar bahwa menjadi ketua berarti memastikan tugas terlaksana serta anggota memperoleh ruang untuk berkontribusi.
Kedua, ilmu dan kesiapan menopang kepemimpinan. Ibnu Hisyam dalam al-Sīrah al-Nabawiyyah mencatat penugasan Attab bin Usaid atas Makkah setelah penaklukannya. Catatan tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan kesiapan mengurus kepentingan masyarakat. QS. an-Nisa’: 58 memerintahkan penunaian amanah kepada yang berhak serta penetapan keputusan secara adil.
Bagi mahasiswa, persiapan itu berlangsung melalui pembacaan, latihan, dan pemahaman terhadap persoalan nyata. Mahasiswa yang bekerja dapat membawa pengalaman lapangan untuk dianalisis dengan teori. Hasil belajarnya kemudian digunakan memperbaiki pekerjaan. Ijazah memperoleh makna ketika kemampuan bertambah, pertimbangan semakin matang, dan keputusan memperhatikan hak orang lain. Kesiapan tersebut perlu terus diuji melalui pekerjaan yang nyata.
Ketiga, pendampingan menguatkan kaderisasi. Dalam bagian tentang kepulangan Nabi ﷺ dari umrah Ji‘ranah, Ibnu Hisyam menyebut Attab ditugaskan atas Makkah dan Mu’adz bin Jabal ditinggalkan untuk mengajarkan agama serta Al-Qur’an. Pembagian tugas ini dapat dibaca sebagai pelajaran tentang pentingnya dukungan keilmuan dalam kehidupan masyarakat.
Di kampus, kesempatan memimpin perlu diikuti bimbingan yang membantu mahasiswa memahami batas kewenangan dan kewajibannya. Dosen, asisten, serta rekan yang lebih berpengalaman dapat memberi masukan tanpa mengambil alih seluruh pekerjaan. Mahasiswa tetap menjalankan tugasnya dan belajar menerima koreksi. Pendampingan demikian membantu keberanian berkembang bersama kerendahan hati, kecermatan bekerja, serta kesediaan meminta bantuan ketika diperlukan.
Keempat, amanah dibuktikan melalui tindakan. Kepemimpinan mahasiswa mulai terlihat ketika ia hadir sesuai kesepakatan, menyiapkan bahan, mencantumkan sumber, serta menyelesaikan bagian pekerjaannya. Dalam pembelajaran berbasis capaian atau OBE, kemampuan ditunjukkan melalui kinerja dan hasil yang dapat dinilai. Pengetahuan tentang disiplin perlu bertemu pembiasaan disiplin; pemahaman kejujuran perlu terlihat dalam karya.
Mahasiswa kelas karyawan dapat menghubungkan tugas kuliah dengan perbaikan layanan atau proses kerja di lingkungannya. Dosen menilai mutu hasil sekaligus tanggung jawab pelaksanaannya. Melalui proses tersebut, kuliah menjadi ruang pembuktian kesiapan menerima kepercayaan. Keberhasilan belajar menghadirkan perubahan yang dapat dijelaskan, diperiksa, dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Natizah. Meneladani Usamah dan Attab mengajak kita mempertemukan kepercayaan dengan kesiapan. Generasi muda membutuhkan kesempatan, ilmu, pendampingan, dan ruang pembuktian. Mahasiswa yang menginginkan ijazah dapat memperluas tujuan itu dengan menyiapkan diri menjadi pribadi yang semakin dapat diandalkan. Pendidik bertugas merancang pengalaman belajar yang membantu perubahan tersebut berlangsung.
Seiring semangat Hari Pahlawan, melanjutkan perjuangan dapat dimulai melalui kesungguhan menunaikan tugas hari ini. Dari kelas, tempat kerja, dan keluarga, amanah memperoleh bentuknya dalam tindakan. Pendidikan menemukan manfaat ketika orang yang belajar semakin mampu menjaga kepercayaan, mengambil keputusan dengan pertimbangan, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan bersama.
____________
*) Tulisan ini merupakan Serial Hari Pahlawan Ke-2 dalam rangkaian “Muda, Berilmu, Berani Mengabdi”, melanjutkan pengantar dengan refleksi tentang kepercayaan, kesiapan, dan tanggung jawab kepemimpinan.
Rujukan utama:
1. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il Aṣḥāb al-Nabī, hadis no. 3730 menurut penomoran Sunnah.com.
2. Ibnu Hisyam, al-Sīrah al-Nabawiyyah, bagian umrah Ji‘ranah dan penugasan Attab bin Usaid atas Makkah.
3. Al-Qur’an,
QS. an-Nisa’: 58.
Penulis:
A. Rusdiana, Guru
besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Penulis Buku Inovasi
Pendidikan, Saat ini Ketua Tim PKM. “Penguatan Kelompok Bimbingaan Haji Umrah Masjid Agung Untuk Kemandirian
Jamaah Haji” Semester ini mengapu mata kuliah; SIM-Pendidikan dan Manajemen Perpustakaan;
Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan
(15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025.
Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan
Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna
Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.